53. Gadis Yang Dibawa Pergi

Romance Series 94

BAB 53
GADIS YANG DIBAWA PERGI

Sore itu, Fiona dan Darrien baru saja keluar dari sebuah toko.

Elarion berjalan beberapa langkah di depan mereka sambil membawa beberapa bahan ramuan.

Fiona sedang memegang sebuah kantong kecil.

“Darrien.”

“Hm?”

“Aku membeli sesuatu.”

“Apa?”

Fiona membuka kantong itu.

Sebuah perhiasan kecil berbentuk bunga terlihat di dalamnya.

“Bagus?”

Darrien mengangguk.

“Bagus.”

Fiona tersenyum.

“Aku ingin memberikannya kepada—”

“Fiona.”

Suara asing memotong perkataannya.

Mereka berdua menoleh.

Seorang pria berdiri di depan mereka.

Marcus.

Di belakangnya berdiri beberapa orang bersenjata.

Darrien langsung merasa ada sesuatu yang salah.

“Siapa kalian?”

Marcus tidak menjawab.

Tatapannya tertuju pada Fiona.

“Nona Lola.”

Fiona mengerutkan kening.

“Siapa?”

Marcus mengeluarkan sebuah potret.

Ia menyerahkannya kepada Surya.

Surya kemudian menunjukkannya kepada Fiona.

“Putriku.”

Fiona melihat potret tersebut.

Wajahnya membeku.

Gadis di dalam potret itu…

mirip dengannya.

Sangat mirip.

Namun bukan dirinya.

“Aku bukan dia.”

Surya menatapnya.

“Kau tidak perlu takut.”

“Aku bukan putrimu.”

Fiona mundur satu langkah.

Darrien langsung berdiri di depannya.

“Dia bilang dia bukan putrimu.”

Marcus menatap Darrien.

“Tuan, kita harus segera pergi.”

Darrien mengangkat tangannya.

Hawa dingin mulai muncul di sekitar tubuhnya.

“Jangan sentuh dia.”

Surya menatap anak laki-laki itu.

“Ini urusan keluarga kami.”

“Dia bukan keluarga kalian.”

Darrien menunjuk Fiona.

“Dia Fiona.”

Surya kembali menunjukkan potret itu.

“Lihat baik-baik.”

Darrien mengambilnya.

Matanya bergerak antara potret dan Fiona.

Kemiripannya memang luar biasa.

Namun itu bukan bukti.

“Potret bisa dibuat untuk siapa saja.”

Surya terdiam.

Darrien melanjutkan,

“Dia sudah mengatakan bahwa dia bukan putrimu.”

Surya menghela napas.

Kemudian menatap Fiona.

“Fiona.”

Gadis itu menatapnya dengan waspada.

“Namamu?”

“Fiona.”

“Kalau begitu ikutlah bersama kami.”

“Tidak.”

Jawaban Fiona langsung keluar.

“Aku tidak mengenal kalian.”

Surya menatapnya beberapa saat.

“Aku mengerti.”

Namun kemudian ia memberikan isyarat kepada para penjaga.

Mereka mulai bergerak maju.

Darrien langsung berdiri lebih tegak.

“Jangan mendekat.”

Sihir mulai berkumpul di tangannya.

Namun ia teringat pesan Kevin.

Jangan menyerang ketika belum mengetahui keadaan.

Elarion juga masih berada beberapa langkah di depan mereka.

Darrien mencoba mundur sambil melindungi Fiona.

Namun jumlah mereka terlalu banyak.

Fiona menggenggam lengan Darrien.

“Darrien…”

“Aku di sini.”

“Aku takut.”

Darrien menatapnya.

“Jangan takut.”

Marcus mengangkat tangannya.

Sihir pengikat muncul.

Darrien segera mencoba memotongnya.

Namun sebuah penghalang muncul di antara mereka.

**BOOM!**

Darrien terdorong beberapa langkah ke belakang.

“Darrien!”

Fiona berusaha berlari kepadanya.

Namun salah satu penjaga langsung menghalangi.

Darrien bangkit.

Ia kembali mencoba mendekat.

“Fiona!”

Namun kali ini—

seorang penjaga menghunus pedangnya.

**Sring!**

Bilah pedang langsung berada di leher Darrien.

Darrien berhenti.

Ujung pedang menyentuh kulitnya.

Sesaat kemudian—

setetes darah mengalir tipis dari lehernya.

Mata Fiona membesar.

“Darrien!”

Ia langsung panik.

“Jangan!”

Darrien tidak bergerak.

Ia hanya menatap Fiona.

Penjaga itu berkata dingin,

“Jangan bergerak.”

Darrien mengepalkan tangannya.

Namun ia tidak menyerang.

Pedang itu masih berada di lehernya.

“Kalau kau melawan…”

Penjaga itu menekan bilahnya sedikit.

Garis merah tipis terlihat semakin jelas.

“…kami tidak menjamin keselamatanmu.”

Fiona menangis.

“Jangan sakiti dia!”

Darrien menggeleng.

“Fiona, jangan dengarkan mereka.”

“Diam!”

Penjaga itu memperingatkan Darrien.

Fiona semakin panik.

“Berhenti!”

Ia mencoba melepaskan diri dari pegangan Marcus.

“Kalau kalian ingin aku ikut…”

Air matanya jatuh.

“…aku akan ikut.”

Darrien langsung menatapnya.

“Fiona, jangan!”

“Aku tidak mau mereka menyakitimu!”

Fiona menangis.

“Aku ikut.”

Darrien terdiam.

Untuk pertama kalinya—

ia tidak tahu harus melakukan apa.

Sihirnya mungkin bisa digunakan.

Namun pedang itu sudah berada di lehernya.

Satu kesalahan—

dan Fiona mungkin akan melihatnya terluka lebih parah.

Penjaga itu akhirnya menurunkan pedangnya sedikit.

“Pilihan yang bijak.”

Fiona masih menatap Darrien.

“Maaf…”

Darrien segera menggeleng.

“Jangan minta maaf.”

Fiona mencoba tersenyum meskipun air matanya terus mengalir.

“Aku akan kembali.”

Darrien menatapnya.

“Janji?”

Fiona mengangguk.

“Janji.”

Marcus memberi isyarat.

Para penjaga mulai membawa Fiona pergi.

Darrien mencoba maju lagi.

Namun Elarion akhirnya tiba.

Ia memegang bahu Darrien.

“Jangan.”

“Lepaskan aku!”

“Mereka terlalu banyak.”

“Mereka membawanya!”

“Aku tahu.”

“Aku harus menyelamatkannya!”

Elarion menahan Darrien.

“Sekarang tidak.”

Darrien menatap Elarion dengan mata merah.

“Kenapa?”

“Karena kau tidak tahu siapa mereka.”

Darrien terdiam.

Di kejauhan—

Fiona masih menoleh ke belakang.

Matanya dipenuhi air mata.

“Darrien!”

Darrien mengangkat tangannya.

“Fiona!”

Namun jarak di antara mereka semakin jauh.

Kereta keluarga Greig mulai bergerak meninggalkan kota.

Fiona terus melihat ke belakang.

Sampai akhirnya—

ia tidak bisa lagi melihat Darrien.

Darrien tetap berdiri di tempatnya.

Tangannya mengepal begitu kuat hingga kukunya menekan telapak tangan.

Darah tipis masih terlihat di lehernya.

Kemudian matanya jatuh pada sesuatu di tanah.

Perhiasan kecil berbentuk bunga yang tadi dibeli Fiona.

Ia membungkuk dan mengambilnya.

Tidak mengatakan apa-apa.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—

tempat di sampingnya terasa kosong.

Dan Darrien tidak tahu kapan kekosongan itu akan terisi kembali.

Ia hanya tahu satu hal.

Fiona telah dibawa pergi.

Dan orang-orang yang membawanya—

mengklaim bahwa dia adalah seseorang yang bukan dirinya.

Namun bagi Darrien—

tidak ada potret.

Tidak ada nama keluarga.

Tidak ada kemiripan wajah.

Yang penting hanya satu.

Fiona tetaplah Fiona.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience