Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 201
BATAS YANG DIUJI
Latihan terus berlangsung.
Waktu berlalu tanpa terasa.
Darrien sudah tidak lagi menghitung berapa kali ia menyerang.
Atau berapa kali Kevin membuatnya mundur.
Yang ia tahu—
tubuhnya mulai terasa berat.
Napasnya sedikit lebih cepat.
Namun Kevin masih berdiri dengan tenang di depannya.
“Sekali lagi.”
Darrien menatapnya.
“Kau sudah mengatakan itu berkali-kali.”
Kevin mengangguk.
“Karena kau masih bisa berdiri.”
Darrien terdiam.
“…”
Kevin tersenyum.
“Itu berarti kita belum selesai.”
Darrien menghela napas panjang.
Di luar barrier, Fiona mulai merasa kasihan.
“Dia belum berhenti sejak tadi…”
Elarion mengangguk.
“Kevin sedang menguji daya tahan.”
Rowan tertawa kecil.
“Dan kesabaran.”
Ace menambahkan,
“Yang itu mungkin lebih cepat habis.”
Fiona menatap mereka.
“Kalian tidak kasihan?”
Rowan mengangkat bahu.
“Sedikit.”
Ace tersenyum.
“Tapi ini memang latihan Kevin.”
***
Darrien kembali mengambil posisi.
Kali ini—
Kevin tidak menyerang.
Ia hanya berkata,
“Gunakan sihirmu untuk meningkatkan gerakan.”
Darrien mengerutkan kening.
“Bukan menyerang?”
“Tidak.”
“Gunakan Dark Magic untuk memperkuat tubuhmu.”
Darrien mengangguk.
Ia menarik napas.
Energi gelap perlahan mengalir ke kedua kakinya.
Tubuhnya terasa lebih ringan.
Kevin mengangguk.
“Sekarang ke sini.”
Ia menunjuk sisi lain arena.
Darrien langsung bergerak.
**Whoosh!**
Tubuhnya melesat.
Lebih cepat dari sebelumnya.
Ia berhenti di ujung arena.
Kevin mengangguk.
“Bagus.”
Darrien tersenyum tipis.
“Lebih cepat.”
“Ya.”
Kevin kemudian menunjuk sisi berlawanan.
“Kembali.”
Darrien bergerak lagi.
Namun kali ini—
Kevin tiba-tiba melemparkan sebuah serangan kecil.
Darrien langsung mengangkat pertahanan.
**BAM!**
Ia berhasil menahannya.
Kevin tersenyum.
“Bagus.”
Darrien mengerutkan kening.
“Kau sengaja menyerang?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena dalam pertempuran sungguhan, musuh tidak akan memberitahumu kapan mereka menyerang.”
Darrien menghela napas.
“Masuk akal.”
Kevin kembali bergerak.
Kali ini lebih cepat.
Darrien harus terus menghindar.
Satu serangan.
Dua.
Tiga.
Darrien menggunakan Dark Magic untuk memperkuat gerakannya.
Ia mulai membaca pola.
Namun Kevin tiba-tiba mengubah arah.
Darrien terlambat bereaksi.
Sebuah serangan mengenai bahunya.
**BAM!**
Darrien terdorong beberapa langkah.
Ia meringis.
Kevin berhenti.
“Bagaimana?”
Darrien mengusap bahunya.
“Tidak apa-apa.”
Kevin mengangguk.
“Bagus.”
Darrien menatapnya.
“Kenapa kau selalu mengatakan ‘bagus’ setelah memukulku?”
Kevin tertawa.
“Karena kau masih berdiri.”
Darrien mendengus.
“Monster.”
Kevin tersenyum.
“Aku anggap itu pujian.”
***
Di luar barrier—
Fiona tidak bisa menahan tawanya.
“Darrien benar-benar mulai kesal.”
Elarion tersenyum.
“Dia memang sudah lama mengenal Kevin.”
Rowan mengangguk.
“Dan Kevin tahu persis bagaimana membuatnya kesal.”
Ace tertawa.
“Ini baru permulaan.”
Fiona menatap mereka.
“Permulaan?”
Ketiganya terdiam.
Fiona perlahan menyipitkan mata.
“Apa maksud kalian?”
Rowan dan Ace saling berpandangan.
Kemudian tertawa.
“Tidak ada.”
Fiona kembali melihat ke dalam barrier.
Darrien sedang berdiri kembali.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian—
Dark Magic kembali mengalir di sekeliling tubuhnya.
Kali ini lebih stabil.
Lebih terkontrol.
Kevin memperhatikannya.
Senyumnya perlahan menghilang.
Ia mulai melihat perubahan yang sebenarnya.
Darrien mulai beradaptasi.
Dan itu berarti—
Kevin harus meningkatkan tingkat latihannya.
Sedikit demi sedikit.
Namun belum sekarang.
Ia masih ingin melihat—
seberapa jauh Darrien bisa bertahan dengan kemampuannya sendiri.
“Sekali lagi.”
Darrien menghela napas.
“Baik.”
Dan latihan kembali dimulai.
