Completed
594
BAB 414 — INGATAN YANG DIKUNCI
Shadowcresent—
Ritual telah dimulai.
Lingkaran kuno di bawah tubuh Fiona menyala semakin terang.
Magicure hitam bergerak melalui setiap garis rune.
Cahaya merah gelap memenuhi ruangan.
Raizen berdiri di tengah ritual.
Tatapannya tenang.
Tidak ada keraguan lagi.
Ia mengangkat tangannya.
Magicure perlahan menyentuh kesadaran Fiona.
Dan—
dunia Fiona berubah.
***
Fiona membuka matanya.
“…”
Ia berdiri di sebuah tempat yang sangat ia kenal.
Namun kali ini—
semuanya terasa salah.
Istana kristal.
Lantai kristal.
Pilar-pilar transparan.
Cahaya lembut yang biasanya memenuhi tempat itu.
Namun sekarang—
semuanya berwarna merah.
Bukan merah yang indah.
Melainkan merah seperti darah yang menyebar di atas kaca.
Beberapa bagian dinding kristal tampak retak.
Langit di atas istana hampir seluruhnya berwarna crimson.
Fiona melihat sekeliling.
“Apa…?”
Ia mengangkat tangannya.
Magicure masih dapat ia rasakan di dalam dunia ini.
Berbeda dengan tubuhnya di Shadowcresent.
Di sini—
ia masih memiliki kendali.
Fiona menarik napas.
Kemudian—
ia mendengar suara.
Suara Raizen.
Jauh.
Namun jelas.
*“Kau tidak akan mengingatnya.”*
Fiona membeku.
Ia langsung memahami.
“…”
Raizen.
Ritual.
Ingatan.
Fiona mengepalkan tangannya.
“Jadi ini yang kau lakukan.”
Suara itu kembali terdengar.
*“Aku akan menghapus namanya dari ingatanmu.”*
Fiona menatap dunia merah di sekelilingnya.
Kemudian—
ia tersenyum tipis.
Bukan senyum bahagia.
Senyum seseorang yang baru saja menemukan jalan keluar.
“Kalau begitu…”
Ia berjalan.
“…aku akan membiarkanmu melakukannya.”
***
Suara langkah kecil terdengar.
“Fiona!”
Fiona menoleh.
Dua sosok kecil berlari mendekatinya.
Dua tiny elf.
Keduanya berhenti di depannya.
Wajah mereka terlihat khawatir.
Fiona berjongkok.
“Kalian…”
Salah satu tiny elf menunjuk langit merah.
“Dunia ini berubah.”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
Tiny elf lainnya bertanya,
“Apa yang terjadi?”
Fiona melihat istana kristal.
Kemudian—
ia menjawab pelan.
“Raizen sedang mencoba mengambil ingatanku.”
Kedua tiny elf langsung terlihat panik.
“Tidak!”
Fiona tersenyum kecil.
“Tenang.”
Ia berdiri.
“Dia memang akan berhasil.”
Kedua tiny elf saling memandang.
“Berhasil?”
Fiona mengangguk.
“Aku akan membiarkannya.”
Mereka tidak mengerti.
Fiona berjalan menuju bagian tengah istana.
Di sana—
sebuah kristal besar berdiri.
Kristal ingatan.
Di dalamnya terdapat cahaya yang sangat terang.
Dan di dalam cahaya tersebut—
sebuah sosok.
Darrien.
Fiona berhenti.
Tatapannya melembut.
“…”
Untuk beberapa saat—
ia hanya melihatnya.
Darrien.
Senyumnya.
Tatapannya.
Semua kenangan yang mereka miliki.
Semua yang telah mereka lalui.
Dan jauh lebih dalam—
kenangan dari masa yang bahkan tidak sepenuhnya ia ingat sebagai Fiona.
Dua ribu lima ratus tahun.
Penantian.
Kesepian.
Pertemuan.
Kehilangan.
Cinta.
Semuanya berada di dalam kristal itu.
Fiona menyentuh permukaannya.
Air mata mulai muncul.
“Aku tidak akan membiarkanmu mengambilnya.”
Salah satu tiny elf mendekat.
“Lalu apa yang akan kita lakukan?”
Fiona berpikir.
Kemudian—
sebuah ide muncul.
“Kalau dia ingin mengambil ingatanku…”
Fiona tersenyum tipis.
“…maka aku akan menyimpannya sendiri.”
***
Fiona mengangkat kedua tangannya.
Cahaya Pure Light memenuhi istana.
Namun dunia di sekitarnya masih berwarna crimson.
Magicure Raizen terus mencoba menembus pikirannya.
Fiona mulai menciptakan sebuah lingkaran baru.
Bukan lingkaran serangan.
Bukan pertahanan.
Sebuah **segel ingatan.**
Ia mengarahkannya kepada kristal Darrien.
“Maaf…”
Fiona berbisik.
“…untuk sementara.”
Cahaya mulai menyelimuti kristal.
Perlahan—
kristal tersebut terangkat.
Bergerak menjauh dari Fiona.
Fiona membawanya menuju aula utama istana kristal.
Di sana—
sebuah tempat kosong menunggu.
Fiona meletakkan kristal tersebut di tengah aula.
Kedua tiny elf mengikuti.
Fiona berlutut.
Ia menyentuh kristal sekali lagi.
“Darrien…”
Air matanya jatuh.
Namun kali ini—
ia tidak menangis karena menyerah.
Ia sedang menyelamatkan sesuatu.
“Aku akan menyembunyikanmu di sini.”
Fiona mengangkat tangannya.
Sebuah lapisan Pure Light terbentuk di sekitar kristal.
Kemudian—
lapisan kedua.
Ketiga.
Keempat.
Semakin banyak segel terbentuk.
Kedua tiny elf berdiri di samping kristal.
Fiona melihat mereka.
“Jaga dia.”
Keduanya mengangguk.
“Kami akan menjaganya.”
Fiona tersenyum.
Kemudian—
ia menciptakan satu segel terakhir.
Segel itu berbeda.
Tidak menutup kristal sepenuhnya.
Sebaliknya—
segel tersebut akan retak perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Setiap kali waktu berjalan.
Setiap kali Fiona menemukan sesuatu yang berhubungan dengan Darrien.
Setiap kali hatinya mencari seseorang yang tidak lagi ia ingat.
Segel itu akan retak.
Dan suatu hari—
kristal tersebut akan terbuka.
Fiona menyentuhnya.
“Ketika waktunya tiba…”
Air mata mengalir di pipinya.
“…ingatkan aku kembali.”
Ia menatap sosok Darrien di dalam kristal.
“Jangan biarkan aku melupakanmu selamanya.”
***
Dunia mulai bergetar.
Suara Raizen semakin jelas.
*“Tidurlah.”*
Fiona tahu waktunya hampir habis.
Ia berdiri.
Menatap kristal untuk terakhir kalinya.
“Darrien…”
Suaranya bergetar.
“Aku tidak tahu kapan aku akan mengingatmu lagi.”
Air mata terakhir jatuh.
“Tapi…”
Ia tersenyum.
“…aku mencintaimu.”
Cahaya putih menyelimuti wajahnya.
Fiona menutup matanya.
“Selamat tinggal…”
Kemudian—
kegelapan menelannya.
***
Aula kristal kembali sunyi.
Kristal ingatan Darrien berdiri di tengah ruangan.
Tidak bergerak.
Tidak bersuara.
Namun dua tiny elf berdiri di kedua sisinya.
Menjaganya.
Menunggu.
Menunggu sampai segel itu mulai retak.
***
SHADOWCRESENT.
Ritual akhirnya berhenti.
Cahaya gelap perlahan menghilang.
Rzizen menurunkan tangannya.
Ia menatap Fiona.
Tubuh perempuan itu masih tidak bergerak.
Ritual telah selesai.
Raizen dapat merasakan perubahan dalam magicure Fiona.
Tidak ada lagi perlawanan.
Tidak ada lagi jejak kuat dari ingatan Darrien yang sebelumnya begitu melekat.
Raizen tersenyum tipis.
“Berhasil.”
Ia berjalan mendekati Fiona.
Namun ketika ia melihat wajahnya—
ia berhenti.
Satu air mata masih mengalir dari sudut mata Fiona.
Raizen menatapnya.
Diam.
Air mata itu tidak berhenti.
Untuk beberapa alasan—
ia tidak merasa terganggu seperti biasanya.
Ia hanya berdiri di sana.
Melihatnya.
Hari ini—
ia membiarkannya.
“Biarkan saja.”
Raizen menyeka satu tetes air mata dari pipi Fiona.
“Besok…”
Ia menatap wajahnya.
“…kau tidak akan menangis untuknya lagi.”
Raizen mengangkat tubuh Fiona ke dalam pelukannya.
Ia berjalan keluar dari ruangan ritual.
Menuju kamarnya.
Langkahnya tenang.
Tidak ada keraguan.
Dalam pikirannya—
nama Darrien sudah tidak memiliki tempat lagi.
Setidaknya—
itulah yang ia percaya.
***
VEYTH.
Malam telah semakin larut.
Darrien masih belum tidur.
Ia berdiri di dekat jendela.
Tatapannya kosong ke arah langit.
Entah mengapa—
perasaan aneh itu belum hilang.
Seolah-olah sesuatu yang tidak dapat ia lihat baru saja berubah.
Darrien menekan dadanya.
“Fiona…”
Tidak ada jawaban.
Ia menutup mata.
“Apa yang terjadi?”
Ia tidak tahu.
Tidak ada pesan.
Tidak ada kabar dari Shadowcresent.
Elyon, Elarion, Ace, dan Rowan juga belum kembali dari Lunaris.
Darrien hanya dapat menunggu.
Menunggu jawaban.
Menunggu jalan.
Menunggu Fiona.
Namun malam itu—
untuk pertama kalinya—
ia merasa jarak antara dirinya dan Fiona menjadi jauh lebih dalam.
Bukan karena ruang.
Bukan karena kerajaan.
Melainkan karena sesuatu yang tidak dapat ia lihat.
Sesuatu yang sedang tidur—
di dalam ingatan seseorang.
Dan jauh di dalam dunia kristal Fiona—
sebuah kristal masih berdiri.
Dijaga dua tiny elf.
Menunggu waktunya tiba.
Menunggu retakan pertama muncul.
Menunggu—
Fiona mengingat kembali pria yang telah ia cintai selama dua ribu lima ratus tahun.
Share this novel