Completed
594
BAB 496 — LIMA MEDAN PERTARUNGAN
DUARRR!
Ledakan lain mengguncang main hall.
Debu tipis turun dari langit-langit.
Namun di tengah kekacauan itu—
ada lima medan pertarungan berbeda yang berlangsung hampir bersamaan.
Dan tidak satu pun dari mereka merasa bahwa situasi ini masuk akal.
***
MEDAN PERTAMA.
Kevin berhadapan dengan Mufasa.
Keduanya berdiri beberapa meter satu sama lain.
Mufasa mengangkat satu tangan.
Kevin memutar bahunya.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada kata-kata.
Kemudian—
Mereka menghilang.
CLANG!
Suara benturan senjata terdengar dari sisi kanan ruangan.
Kevin memutar tubuh.
Mufasa sudah berada di belakangnya.
Kevin menunduk.
Serangan Mufasa melewati atas kepalanya.
Kevin langsung berputar dan menghantamkan siku.
Mufasa menahan dengan lengannya.
DUK!
Keduanya mundur bersamaan.
Kevin tersenyum.
"Kau masih cepat."
Mufasa mengangkat alis.
"Kau juga."
Kevin menarik napas.
"Bagus."
Ia kembali memasang posisi bertarung.
"Setidaknya aku tidak mengecewakanmu."
Mufasa tersenyum tipis.
"Justru aku khawatir kau akan mengecewakanku."
Kevin terdiam.
"...Kau benar-benar suka memancing orang."
"Berhasil?"
"Sayangnya."
Mereka kembali melesat.
Kali ini lebih cepat.
Tinju bertemu.
Tendangan ditangkis.
Tubuh mereka bergerak dari satu sisi ruangan ke sisi lainnya.
Kevin sempat melirik ke arah Darrien dan Raizen yang masih bertarung.
"Menurutmu mereka akan menghancurkan istana?"
Mufasa menangkis pukulannya.
"Jika kita tidak menghentikan mereka."
Kevin mengangguk.
"Baik."
Ia menyerang lagi.
"Berarti kita harus menyelesaikan ini dulu."
Mufasa menyeringai.
"Setuju."
***
MEDAN KEDUA.
Ace sedang dikejar oleh tiga vampire guard.
"Kenapa aku?!"
Salah satu guard menyerang.
Ace melompat ke samping.
Pedang menghantam lantai.
BRAK!
Ace berlari.
"Aku bahkan belum melakukan apa-apa!"
Guard kedua mengejar.
Ace berbalik dan melemparkan pisau kecil.
CLANG!
Guard menangkisnya.
Ace langsung menghela napas.
"Ya ampun."
Ia menghindari serangan berikutnya.
"Ini bahkan bukan pertarungan yang adil."
Ia melirik ke belakang.
Tiga vampire.
Kemudian ke depan.
Satu vampire lagi.
Ace berhenti.
"...Oh."
Ia melihat sekeliling.
"Empat?"
Keempat vampire guard maju bersamaan.
Ace mengangkat kedua tangannya.
"Baiklah."
Ia tersenyum kecut.
"Kalau begitu aku anggap kalian semua penggemarku."
Tidak ada jawaban.
Mereka menyerang.
Ace berteriak.
"WOI! Bercanda!"
***
MEDAN KETIGA.
Rowan menghadapi dua vampire guard.
Tidak seperti Ace, Rowan tidak banyak bicara.
Ia bergerak dengan tenang.
Satu guard menyerang.
Rowan menangkis.
Guard kedua menyerang dari samping.
Rowan menghindar.
Ia mengangkat tangan.
Sebuah lingkaran sihir muncul.
DUUM!
Kedua guard terpental.
Rowan menghela napas.
"Ini jauh lebih mudah daripada membaca arsip."
Ia berhenti.
Kemudian melihat ke arah Ace.
Ace sedang berlari dikejar empat guard.
"...Jauh lebih mudah."
Ace berteriak dari kejauhan.
"AKU DENGAR!"
Rowan tersenyum kecil.
"Bagus."
***
MEDAN KEEMPAT.
Elarion sedang bertarung sambil mencoba mengamati struktur sihir Shadowcresent.
Ia menghindari satu serangan.
Melompat mundur.
Kemudian matanya justru tertuju pada lantai.
"Hm..."
Satu vampire guard menyerang.
Elarion menunduk.
Serangan itu melewati kepalanya.
"Hmm..."
Ia melihat pola rune di bawah kaki mereka.
Guard kembali menyerang.
Elarion menghindar.
"Menarik."
Guard menggeram.
Elarion akhirnya menatapnya.
"Kau bisa tunggu sebentar?"
Vampire itu tidak menjawab.
Ia menyerang lagi.
Elarion menghela napas.
"Baiklah."
Ia mengangkat tangan.
Sihir menghantam dada guard.
DUAR!
Guard terlempar.
Elarion kembali melihat lantai.
"Seperti yang kuduga."
Elyon yang bertarung tidak jauh darinya menoleh.
"Apa?"
"Pola sihir di bawah istana."
Elyon menahan satu serangan.
"Menemukan sesuatu?"
"Belum."
Elyon mengangguk.
"Kalau begitu terus cari."
Elarion menatapnya.
"Kau tidak mau membantu?"
Elyon tersenyum.
"Aku sedang sibuk."
Elarion melihat tiga guard di depan Elyon.
Kemudian dua guard di depannya sendiri.
"...Benar."
***
MEDAN KELIMA.
Elyon.
Dua vampire guard menyerang dari arah berlawanan.
Elyon menghilang.
Kedua guard saling menghantam.
DUK!
Elyon muncul di belakang mereka.
Ia menyentuh bahu salah satunya.
"Maaf."
Cahaya meledak.
BUUM!
Keduanya terpental.
Elyon berjalan santai.
Namun sebelum ia sempat melangkah jauh—
satu guard bangkit.
Elyon berhenti.
"...Kau masih mau?"
Guard menggeram.
Elyon tersenyum.
"Baik."
Ia mengangkat tangannya.
"Putaran kedua."
***
Lima medan.
Lima pertarungan.
Lima tingkat kekacauan.
Dan semuanya terjadi sementara dua sosok terkuat di ruangan itu sedang bertarung di pusat main hall.
DUARRR!
Ledakan besar kembali terdengar.
Ace menoleh.
"Apakah mereka masih bertarung?!"
Kevin yang sedang beradu serangan dengan Mufasa menjawab tanpa melihat.
"Ya!"
Ace menghindari serangan.
"Berapa lama?!"
"Entahlah!"
"Bagus!"
Ace menendang satu guard.
"Aku mulai merasa mereka berdua punya masalah pribadi!"
Mufasa tiba-tiba berkata sambil menangkis pukulan Kevin.
"Mereka memang punya."
Kevin melirik.
"Bagaimana kau tahu?"
Mufasa menatap ke arah Raizen dan Darrien.
"Karena sejak mereka bertemu, tidak ada satu pun dari mereka yang mau mendengarkan."
Kevin mengangguk.
"Masuk akal."
***
Untuk beberapa saat—
pertarungan terus berlangsung.
Namun tidak ada satu pun dari kelima orang itu yang lupa alasan mereka berada di sini.
Mereka bukan datang untuk menghancurkan Shadowcresent.
Mereka datang untuk Fiona.
Rowan sempat melihat ke arah penghalang tempat Fiona berdiri.
Ia masih aman.
Elarion juga memastikan hal yang sama.
Elyon memperhatikan kondisi penghalang itu.
Tidak ada retakan.
Ace, meskipun masih berlari dari satu vampire guard ke guard lainnya, tetap sempat melirik.
"Fiona masih aman!"
Kevin mengangguk.
"Bagus!"
Mufasa mendengar itu.
Matanya juga bergerak sesaat ke arah Fiona.
Penghalang Raizen masih sempurna.
Wanita itu berdiri di dalamnya.
Namun ekspresinya berubah.
Fiona tidak lagi hanya melihat pertarungan.
Ia melihat Darrien.
Setiap kali Darrien bergerak—
matanya mengikutinya.
Setiap kali suara Darrien terdengar—
dadanya terasa aneh.
Dan semakin lama—
perasaan itu semakin sulit diabaikan.
***
Ace akhirnya berhasil menjatuhkan satu vampire guard.
Ia berdiri sambil terengah-engah.
"Ha..."
Ia mengusap keringat di dahinya.
"Satu."
Ia melihat tiga lainnya.
"...Tiga."
Kemudian ia menoleh ke arah Kevin.
"Kevin!"
"Apa?!"
"Setelah ini kita harus makan!"
Kevin tertawa.
"Kalau kau masih hidup!"
Ace mengangkat jempol.
"Itu rencana!"
Mufasa tiba-tiba muncul di depan Kevin.
Kevin langsung memasang posisi.
"Belum selesai?"
"Belum."
Ace menunjuk mereka.
"Kalian berdua benar-benar menikmati ini."
Kevin tersenyum.
"Sedikit."
Mufasa juga tersenyum.
"Lebih dari sedikit."
Ace menggeleng.
"Orang-orang aneh."
Ia kembali berlari ketika tiga guard mengejarnya.
"AKU JUGA MASIH ADA DI SINI!"
***
Di tengah semua kekacauan itu—
main hall terus bergetar.
Namun lima orang yang bertarung di sekelilingnya perlahan mulai menyadari sesuatu.
Tidak ada lagi jebakan.
Tidak ada lagi dimensi.
Tidak ada lagi lorong yang berubah.
Tidak ada lagi sesuatu yang mencoba memisahkan mereka.
Ini bukan lagi perjalanan menuju Shadowcresent.
Mereka sudah berada di pusatnya.
Dan sekarang—
pertarungan mereka benar-benar dimulai.
Kevin kembali menyerang Mufasa.
Ace kembali dikejar para guard.
Rowan menahan dua lawan sekaligus.
Elarion terus mencari pola sihir di tengah pertempuran.
Elyon bergerak di antara para guard dengan tenang.
Sementara di tengah semuanya—
dua monster yang sebenarnya sedang menentukan arah pertempuran...
masih saling menghantam.
Dan di balik penghalang—
Fiona berdiri diam.
Menatap Darrien.
Suara pria itu kembali terdengar.
Samar.
Jauh.
Namun begitu familiar.
Fiona perlahan menyentuh dadanya.
"Kenapa..."
Ia berbisik.
"...setiap kali dia berbicara..."
Dadanya kembali berdebar.
Dan jauh di dalam ruang mimpi yang tersegel—
kedua tiny elf menatap kristal yang kini dipenuhi retakan.
Tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan apa-apa.
Karena mereka tahu.
Kenangan Fiona tidak lagi hanya mengetuk.
**Kenangan itu sedang mencari jalan keluar.**
Share this novel