191. Gelang Dari Mimpi

Romance Series 382

BAB 191
GELANG DARI DALAM MIMPI

Fiona perlahan membuka matanya.

Pandangannya masih sedikit buram.

Namun kali ini—

ia langsung menyadari sesuatu.

Tubuhnya masih berada dalam pelukan Darrien.

Wajah Darrien berada sangat dekat dengannya.

Fiona berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian wajahnya langsung memerah.

“Darrien…”

“Hm?”

“Kau…”

Fiona menelan ludah.

“…masih memelukku?”

Darrien menatapnya tenang.

“Ya.”

“Kenapa?”

Darrien tersenyum kecil.

“Karena kau tertidur.”

Fiona terdiam.

“Dan?”

“Aku tidak ingin membangunkanmu.”

Wajah Fiona semakin merah.

“Kau bisa meletakkanku di tempat tidur.”

“Aku sudah mencoba.”

Darrien mengangkat alis.

“Tapi kau terus memegang pakaianku.”

Fiona langsung melihat tangannya.

Benar.

Jarinya masih menggenggam pakaian Darrien.

Ia segera melepaskannya.

“Aku tidak sadar…”

Darrien tersenyum.

“Aku tahu.”

Fiona memalingkan wajah.

Namun ketika ia hendak bergerak—

sesuatu memantulkan cahaya.

Fiona berhenti.

“Hm?”

Ia menunduk.

Ada sesuatu di pergelangan tangannya.

Sebuah gelang tipis.

Berwarna lembut.

Dengan sebuah simbol kecil berbentuk daun perak di bagian tengahnya.

Fiona menatapnya.

Matanya membesar.

“Eh?”

Darrien sudah menyadarinya sejak tadi.

Namun ia memilih diam.

Fiona mengangkat tangannya.

Ia memutar pergelangan tangannya beberapa kali.

“Ini…”

Jarinya menyentuh gelang tersebut.

“Aku…”

Ia terdiam.

Kemudian ingatannya tentang mimpi tadi kembali.

Mahkota.

Cahaya.

Ruangan kristal.

Dan keinginannya sendiri.

“Ini mengikutiku?”

Darrien akhirnya bertanya,

“Apa maksudmu?”

Fiona menatapnya.

“Gelang ini.”

Ia mengangkat tangannya.

“Aku melihatnya dalam mimpiku.”

Darrien memperhatikan gelang tersebut.

“Dalam mimpimu?”

Fiona mengangguk.

“Awalnya ini bukan gelang.”

“Aku melihat sebuah mahkota.”

“Mahkota kristal.”

Darrien sedikit mengernyit.

Fiona melanjutkan,

“Mahkotanya besar.”

“Aku bilang kalau dibuat menjadi gelang akan lebih bagus.”

Ia berhenti.

“Lalu…”

Fiona mengingat cahaya yang muncul.

“…mahkota itu berubah.”

Darrien menatap gelang itu lagi.

“Dan sekarang ada di tanganmu.”

Fiona mengangguk perlahan.

“Aku kira itu hanya mimpi.”

Darrien diam.

Tatapannya masih tertuju pada gelang tersebut.

Namun ia tidak menyentuhnya.

“Ceritakan mimpimu.”

Fiona menatapnya.

“Yang mana?”

“Semua.”

Fiona terdiam sejenak.

Kemudian mulai bercerita.

“Dalam mimpi itu…”

“Aku berada di sebuah istana.”

“Semua terasa sangat familiar.”

“Ada dua tiny elf yang selalu mengikutiku.”

Darrien mengangkat alis.

“Tiny elf?”

Fiona mengangguk.

“Mereka tidak bisa bicara.”

“Mereka hanya tertawa dan menunjukkan arah.”

Darrien tersenyum kecil.

“Mirip denganmu.”

Fiona langsung memelototinya.

“Jangan menggodaku.”

Darrien tertawa pelan.

“Lanjutkan.”

Fiona kembali bercerita.

“Aku masuk ke sebuah ruangan.”

“Di sana ada sebuah lukisan.”

Darrien menjadi sedikit lebih serius.

“Lukisan?”

Fiona mengangguk.

“Seorang wanita.”

“Wajahnya…”

Ia berhenti.

“…mirip denganku.”

Darrien tidak langsung menjawab.

Fiona menatapnya.

“Aku tidak tahu siapa dia.”

Darrien akhirnya berkata,

“Mungkin itu bagian dari mimpimu yang belum selesai.”

Fiona mengangguk.

“Aku juga berpikir begitu.”

Kemudian ia melihat gelang di tangannya lagi.

“Dan sekarang…”

Ia menyentuh simbol daun perak kecil itu.

“…ini ikut keluar dari mimpiku.”

Darrien menatapnya.

“Kau tidak merasa aneh?”

Fiona berpikir sebentar.

“Sedikit.”

Kemudian ia tersenyum.

“Tapi cantik.”

Darrien ikut tersenyum.

“Kalau begitu simpan.”

Fiona menatapnya.

“Menurutmu aman?”

“Untuk sementara.”

Fiona mengangguk.

Namun sebelum ia bisa berkata lebih jauh—

Darrien mengangkat tangannya dan merapikan rambut Fiona yang masih berantakan.

Fiona kembali terdiam.

Tatapan mereka bertemu.

Jarak mereka masih dekat.

Terlalu dekat.

Fiona perlahan menundukkan wajah.

“Kau…”

“Hm?”

“Jangan terlalu dekat.”

Darrien tersenyum.

“Kau yang masih berada di pelukanku.”

Fiona terdiam.

“…Oh.”

Darrien tertawa kecil.

Fiona akhirnya menyandarkan kepalanya kembali ke dadanya.

Untuk beberapa saat—

mereka tidak berbicara.

Namun di balik keheningan itu—

keduanya sama-sama tahu.

Mimpi Fiona tidak lagi sekadar mimpi.

Karena sesuatu dari sana—

sudah mengikuti Fiona ke dunia nyata.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience