Series
382
BAB 280 — SURGA HERBAL ELARION
Semakin jauh mereka memasuki bagian timur Pasar Cahaya—
Elarion semakin jarang berbicara.
Bukan karena ia lelah.
Bukan pula karena bosan.
Justru sebaliknya.
Matanya terus bergerak dari satu kios ke kios lainnya.
Kemudian—
ia berhenti.
Di depan sebuah toko herbal yang jauh lebih besar daripada kios sebelumnya.
Rak-rak kayu memenuhi bagian depan toko.
Berbagai tanaman kering digantung dari langit-langit.
Akar-akar langka disimpan dalam kotak kaca.
Beberapa botol berisi cairan berwarna aneh tersusun rapi di belakang meja.
Elarion berdiri diam.
Fiona menatapnya.
“Elarion?”
Tidak ada jawaban.
“Elarion?”
Masih tidak ada.
Darrien akhirnya menoleh.
“Dia sudah menemukan sesuatu.”
Ace tertawa.
“Sepertinya begitu.”
Rowan melihat ekspresi Elarion.
“Bukan sesuatu.”
Ia menunjuk toko tersebut.
“Sepertinya dia menemukan surga.”
Elarion akhirnya berjalan masuk.
***
Begitu pintu toko dibuka—
aroma herbal langsung memenuhi udara.
Elarion menarik napas perlahan.
“…Luar biasa.”
Pemilik toko menoleh.
“Apakah Anda mencari bahan tertentu?”
Elarion melihat sekeliling.
“Berapa lama kalian mengumpulkan semua ini?”
Pemilik toko tersenyum bangga.
“Sudah beberapa generasi.”
Elarion mengambil sebuah daun kering.
“Ini tumbuh di pegunungan utara?”
“Ya.”
Ia mengambil akar lain.
“Dan ini?”
“Lembah timur.”
Elarion mengambil botol kecil.
“Ini?”
“Bunga Moonroot.”
Elarion terdiam.
Matanya semakin serius.
Fiona melihatnya.
Kemudian berbisik kepada Darrien,
“Dia bahagia.”
Darrien mengangguk.
“Sepertinya sangat.”
***
Elarion berpindah dari satu rak ke rak lainnya.
“Ini.”
“Ambil.”
“Yang itu juga.”
“Dan yang di belakang.”
Penjual mulai kebingungan.
“Yang mana?”
Elarion menunjuk.
“Semua.”
Fiona langsung menutup mulutnya.
Ace tertawa.
Rowan menatap Elarion.
“Semua?”
Elarion menoleh.
“Bahan-bahan ini sulit ditemukan di Veyra.”
Ia kembali melihat rak.
“Kalau aku bisa mendapatkan semuanya, persediaan elixir akan jauh lebih baik.”
Darrien mengangguk.
“Kalau begitu beli.”
Fiona menatapnya.
“Kau mendukungnya?”
Darrien menunjuk Elarion.
“Lihat wajahnya.”
Fiona melihat.
Elarion memang terlihat jauh lebih hidup dibandingkan biasanya.
Fiona akhirnya tertawa.
“Benar juga.”
***
Pemilik toko kemudian membawa mereka ke bagian belakang.
“Kalau Anda mencari bahan yang lebih langka…”
Ia membuka sebuah pintu kecil.
Di baliknya terdapat ruangan lain.
Fiona ikut mengintip.
Rak-raknya lebih sedikit.
Namun setiap bahan di dalamnya terlihat jauh lebih berharga.
Elarion berhenti.
“…Ini.”
Ia mendekati sebuah kotak.
Di dalamnya terdapat beberapa bunga kecil berwarna ungu gelap.
“Night Veil.”
Pemilik toko mengangguk.
“Tidak banyak yang tersisa.”
Elarion memperhatikannya dengan serius.
“Berapa?”
Pemilik toko menyebutkan harganya.
Elarion langsung mengeluarkan uang.
Fiona berkedip.
“Cepat sekali.”
Darrien tertawa kecil.
“Dia takut kehabisan.”
Elarion memasukkan bahan tersebut dengan hati-hati.
“Bahan seperti ini tidak boleh dilewatkan.”
***
Sementara Elarion terus berburu herbal—
Fiona duduk di luar toko bersama Darrien.
Ia memandang pintu toko.
“Menurutmu dia akan keluar?”
Darrien mengangguk.
“Pasti.”
“Berapa lama?”
Darrien berpikir.
“…Aku tidak yakin.”
Ace menyela.
“Kalau bahan herbalnya masih ada, mungkin sampai malam.”
Rowan mengangguk serius.
“Benar.”
Kevin yang sedang berdiri di dekat mereka hanya berkata,
“Biarkan.”
Fiona tertawa.
“Dia benar-benar menikmati liburannya.”
Darrien mengangguk.
“Setiap orang punya cara sendiri.”
***
Hampir satu jam kemudian—
pintu toko akhirnya terbuka.
Elarion keluar.
Di kedua tangannya terdapat beberapa kantong besar.
Fiona menatapnya.
“Sudah?”
Elarion mengangguk.
“Untuk sementara.”
Darrien melihat jumlah kantong tersebut.
“Untuk sementara?”
Elarion menjawab tenang.
“Masih ada beberapa bahan yang belum kubeli.”
Ace langsung tertawa.
“Dia belum selesai.”
Rowan menggeleng.
“Sudah kuduga.”
Elarion menatap mereka.
“Ada masalah?”
“Tidak.”
Fiona tersenyum.
“Tidak ada.”
Ia kemudian melihat kantong-kantong herbal itu.
“Jadi… sekarang kau punya cukup bahan untuk membuat banyak elixir?”
Elarion mengangguk.
“Cukup untuk sementara.”
Ia memandang pasar di depan.
Kemudian menambahkan,
“Lunaris memang memiliki bahan yang tidak dimiliki Veyra.”
Elyon yang sejak tadi menunggu akhirnya berkata,
“Kalau begitu, masih ada satu tempat lagi.”
Elarion langsung menoleh.
“Di mana?”
Elyon tersenyum tipis.
“Pasar herbal bagian dalam.”
Elarion terdiam.
Kemudian—
“Bawa aku.”
Fiona menahan tawanya.
Darrien hanya menggeleng.
Ace berbisik kepada Rowan,
“Dia menemukan dungeon.”
Rowan mengangguk.
“Dan herbalnya adalah loot.”
Kevin mendengar mereka.
“Jangan ganggu.”
Mereka semua tertawa.
Elarion berjalan mengikuti Elyon.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Lunaris—
Fiona merasa bahwa mungkin…
**Elarion justru orang yang paling menikmati perjalanan ini.**
Bukan karena istana.
Bukan karena taman.
Bukan karena makanan.
Tetapi karena—
Lunaris ternyata memiliki **surga herbal** yang tidak pernah ia temukan di Veyra.
Share this novel