75. Jalan Terlarang

Romance Series 94

BAB 75
JALAN TERLARANG

Mereka terus bergerak menuju jalur yang ditunjukkan pria misterius itu.

Tidak ada seorang pun yang berbicara selama beberapa saat.

Darrien masih memikirkan perkataannya.

*Jangan biarkan gadis itu kembali ke Ardika.*

Ia tidak tahu siapa pria itu.

Namun untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan—

Darrien mempercayainya.

“Darrien.”

Fiona menarik tangannya.

“Hm?”

“Kau masih memikirkan pria tadi?”

“Ya.”

“Menurutmu dia orang baik?”

Darrien terdiam.

“Aku tidak tahu.”

Fiona mengangguk.

“Aku juga.”

Kevin yang berjalan di depan mereka berkata,

“Jangan terlalu percaya pada orang asing.”

Darrien menatapnya.

“Guru juga tidak tahu siapa dia?”

“Tidak.”

Ace menyahut dari belakang,

“Namun dia jelas mengetahui sesuatu.”

Darrien menoleh.

“Ya.”

Ace memperhatikan ekspresinya.

“Dan aku tidak suka itu.”

***

Mereka akhirnya memasuki bagian hutan yang jauh lebih gelap.

Pohon-pohon tumbuh rapat.

Jalan hampir tidak terlihat.

Elarion membuka peta.

“Jalan ini sudah lama tidak digunakan.”

“Bagus,” jawab Ace.

“Tidak ada orang.”

Darrien tiba-tiba berhenti.

“Ada.”

Semua orang menoleh.

Darrien memejamkan mata.

Ia menggunakan sensing.

“Bukan manusia.”

Kevin langsung waspada.

“Berapa banyak?”

Darrien menggeleng.

“Banyak.”

Fiona mendekat.

“Apa mereka berbahaya?”

Darrien mencoba merasakan aura mereka.

“Tidak.”

Kemudian suara aneh terdengar dari semak-semak.

Fiona mundur sedikit.

Seekor makhluk kecil keluar.

Kemudian satu lagi.

Kemudian lima.

Makhluk-makhluk itu menatap mereka.

Elarion tersenyum.

“Makhluk hutan.”

Darrien menghela napas lega.

Namun salah satu makhluk kecil itu tiba-tiba mendekati Fiona.

Ia mengendus tangannya.

Fiona mengulurkan jari.

Makhluk itu menyentuhnya.

“Lucu.”

Darrien tersenyum.

“Kau selalu disukai makhluk.”

Fiona menatapnya.

“Mungkin karena aku baik.”

“Mungkin.”

***

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Ace tiba-tiba menoleh.

“Datang.”

Darrien langsung berdiri.

Dari kejauhan terdengar suara kuda.

Banyak.

Elarion menutup peta.

“Ardika?”

Ace mengangguk.

“Dan Varian.”

Darrien menghela napas.

“Cepat sekali.”

Kevin menatapnya.

“Kita tidak bisa melawan dua rombongan sekaligus.”

Darrien mengangguk.

“Aku tahu.”

Ia melihat sekeliling.

Kemudian menunjuk sebuah celah di antara bebatuan.

“Ke sana.”

Mereka bergerak cepat.

Fiona mengikuti.

Mereka masuk ke sebuah lorong sempit di antara dua tebing.

Darrien menggunakan sihir untuk menutupi jejak mereka.

Bayangan menyelimuti tanah.

Aura mereka perlahan menghilang.

Beberapa menit kemudian—

rombongan pengejar melewati jalan di depan mereka.

Keith Varian turun dari kudanya.

“Jejak mereka hilang lagi.”

Marcus memeriksa tanah.

Ia melihat bekas sihir.

“Bayangan.”

Keith menatapnya.

“Siapa yang menggunakan sihir seperti ini?”

Marcus terdiam.

Ia kembali teringat anak laki-laki itu.

“Orang yang bersama gadis itu.”

Clark turun dari kereta.

“Jadi mereka memang punya penyihir.”

Marcus mengangguk.

“Bukan penyihir biasa.”

Keith menatap hutan.

“Cari.”

Mereka terus bergerak.

Namun tidak menemukan apa pun.

***

Setelah rombongan itu pergi…

Darrien membuka mata.

“Aman.”

Fiona menghela napas lega.

Kemudian ia tersenyum.

“Kita berhasil.”

Darrien ikut tersenyum.

Namun Ace menunjuk ke depan.

“Kita belum sampai.”

Di depan mereka terbentang hutan yang sangat luas.

Dan jauh di baliknya…

wilayah Ardika berakhir.

Jika mereka berhasil melewatinya—

mereka akan benar-benar keluar dari wilayah kekuasaan keluarga tersebut.

Darrien menggenggam tangan Fiona.

“Kita lanjut.”

Fiona mengangguk.

Namun sebelum mereka bergerak—

sebuah suara kecil terdengar dari atas pohon.

“Berhenti.”

Semua orang mendongak.

Sosok misterius tadi duduk santai di sebuah dahan.

Ia tersenyum.

“Kalau kalian terus ke sana…”

Ia menunjuk hutan di depan.

“…kalian akan masuk ke wilayah yang jauh lebih berbahaya.”

Darrien mengerutkan kening.

“Bukankah kau bilang jangan kembali ke jalan utama?”

“Aku bilang jangan kembali.”

“Lalu ke mana kami harus pergi?”

Pria itu tersenyum.

“Ke tempat yang tidak akan dicari oleh mereka.”

Darrien menatapnya tajam.

“Di mana?”

Pria itu menunjuk ke arah pegunungan.

“Ke sana.”

Kemudian ia menghilang lagi.

Darrien menatap pegunungan.

Elarion menghela napas.

“Sekali lagi…”

Ace menatapnya.

“Dia memberi kita teka-teki.”

Kevin tersenyum tipis.

“Setidaknya kali ini dia memberi arah.”

Fiona tertawa kecil.

Darrien menghela napas.

“Baik.”

Ia menggenggam tangan Fiona.

“Pegunungan.”

Mereka mulai bergerak.

Tidak mengetahui bahwa…

di balik pegunungan itu terdapat wilayah yang bahkan keluarga Ardika dan Varian jarang masuki.

Dan mungkin…

itulah satu-satunya tempat di mana mereka bisa bersembunyi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience