Series
382
BAB 268 — TIGA HARI MENUJU LUNARIS
Malam itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan malam-malam sebelumnya.
Tidak ada latihan.
Tidak ada pertempuran.
Tidak ada rapat kerajaan yang mendesak.
Dan yang paling penting—
tidak ada Kevin yang mengetuk pintu kamar Darrien sebelum matahari terbit.
Untuk sebagian besar orang di Istana Veyth—
malam itu adalah malam yang damai.
Namun bagi Fiona—
tidur bukanlah sesuatu yang mudah.
Bukan karena mimpi buruk.
Bukan pula karena ketakutan.
Melainkan karena satu hal sederhana—
Lunaris.
Fiona duduk di atas tempat tidurnya.
Di hadapannya—
beberapa pakaian telah dikeluarkan dari lemari.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kemudian bertambah.
Fiona memandang semuanya.
“Yang mana?”
Ia mengambil sebuah gaun.
Kemudian menggeleng.
“Tidak.”
Ia meletakkannya kembali.
Mengambil yang lain.
“Ini terlalu formal.”
Yang lain.
“Ini terlalu sederhana.”
Ia mengangkat satu pakaian lagi.
“Kalau ini…”
Fiona menatapnya beberapa detik.
Kemudian tersenyum.
“Mungkin.”
Namun beberapa saat kemudian—
ia kembali mengambil pakaian lain.
***
Waktu berlalu.
Tumpukan pakaian di tempat tidur semakin banyak.
Fiona duduk di tengah-tengahnya.
Ia memandang semuanya dengan ekspresi serius.
“Berapa banyak yang harus kubawa?”
Ia berpikir.
“Mungkin tiga hari…”
Kemudian menggeleng.
“Tidak.”
“Mungkin mereka akan mengajakku keluar.”
Ia mengambil pakaian lain.
“Kalau begitu harus membawa ini.”
Kemudian ia mengambil yang lain.
“Dan ini.”
Ia berhenti.
“Kalau ada acara makan malam?”
Pakaian lain masuk ke dalam koper.
“Kalau pergi ke taman?”
Satu lagi.
“Kalau…”
Fiona berhenti.
Ia menatap koper yang hampir penuh.
Kemudian—
menatap pakaian yang masih tersisa.
“…Mungkin aku membawa terlalu banyak.”
Hening.
Fiona berpikir beberapa detik.
Kemudian—
“Tidak.”
Ia mengambil satu pakaian lagi.
“Lebih baik berjaga-jaga.”
***
Beberapa waktu kemudian—
Fiona akhirnya selesai.
Koper telah tertutup.
Ia menatapnya dengan puas.
“Sudah.”
Ia kemudian duduk kembali di tempat tidur.
Namun—
ia belum mengantuk.
Pikirannya justru mulai membayangkan Lunaris.
Istana mereka.
Taman mereka.
Orang-orang yang mungkin akan ditemuinya.
Dan terutama—
Ratu Seraphine.
Fiona tersenyum kecil.
Ia masih mengingat bagaimana hangatnya sambutan sang ratu ketika mereka bertemu sebelumnya.
“Dia benar-benar baik.”
Fiona kemudian teringat undangan untuk menginap di Lunaris.
Ia tersenyum semakin lebar.
“Semoga menyenangkan.”
Pikirannya kemudian beralih kepada Darrien.
Ia membayangkan perjalanan bersama.
Kemudian—
ia teringat bahwa tiga bulan latihan Darrien akhirnya selesai.
“Setidaknya dia bisa beristirahat sekarang.”
Fiona tersenyum.
Ia tidak menyadari—
bahwa dirinya mulai mengantuk.
Kelopak matanya semakin berat.
Ia masih memikirkan pakaian.
Perjalanan.
Lunaris.
Dan berbagai hal kecil lainnya.
Sampai akhirnya—
kepalanya perlahan bersandar pada bantal.
Fiona bahkan tidak menyadari kapan tepatnya ia tertidur.
Malam itu—
untuk pertama kalinya setelah mimpi aneh yang membuatnya terbangun beberapa malam sebelumnya—
tidurnya terasa damai.
Tidak ada mimpi buruk.
Tidak ada darah.
Tidak ada tangisan.
Hanya tidur yang tenang.
***
Di sisi lain istana—
Darrien juga telah tertidur.
Setelah tiga bulan latihan yang melelahkan—
tubuhnya akhirnya benar-benar menikmati waktu istirahat.
Ace dan Rowan juga telah kembali ke kamar mereka.
Elarion menikmati malam yang tenang.
Dan bahkan Kevin—
akhirnya mendapatkan apa yang selama ini ia tunggu.
Tidur.
Tanpa jadwal latihan.
Tanpa bangun terlalu pagi.
Tanpa Darrien.
Tanpa magical dummy.
Kevin menutup matanya dengan puas.
“Liburan…”
Kemudian—
ia tertidur.
Malam itu benar-benar menjadi malam yang baik bagi semua orang.
Setidaknya—
untuk saat ini.
***
Jauh di Kerajaan Lunaris—
sebuah surat baru saja tiba.
Seorang pelayan membawa surat tersebut menuju ruang kerajaan.
“Yang Mulia.”
Raja Zeith menerima surat itu.
Ia membuka segelnya.
Queen Seraphine berdiri di sampingnya.
“Dari Veyth?”
Zeith membaca isinya.
Kemudian—
senyum perlahan muncul di wajahnya.
“Mereka menerima undangan kita.”
Seraphine langsung terlihat lega.
“Kapan mereka datang?”
“Tiga hari lagi.”
Mata Seraphine langsung berbinar.
“Tiga hari?”
Zeith mengangguk.
“Mereka akan datang bersama Darrien dan Fiona.”
Seraphine tersenyum lebar.
“Bagus.”
Ia menatap Zeith.
“Aku harus memastikan semuanya sudah siap.”
Zeith tertawa kecil.
“Bukankah semuanya sudah disiapkan sejak beberapa hari lalu?”
Seraphine terdiam.
Kemudian menjawab dengan tenang,
“Belum cukup.”
Zeith hanya bisa menggeleng.
Namun ia sendiri terlihat bahagia.
Akhirnya—
Fiona akan datang.
Dan kali ini—
bukan hanya untuk menghadiri sebuah acara kerajaan.
Ia akan menjadi tamu Lunaris.
***
Namun tidak semua orang di ruangan itu memperlihatkan kegembiraan yang sama.
Di dekat jendela kristal—
Elyon berdiri sendirian.
Tangannya memegang beberapa catatan.
Matanya tidak tertuju pada surat kedatangan.
Melainkan pada sesuatu yang jauh lebih mengganggu pikirannya.
Cahaya Fiona.
Dan—
reaksi kristal.
Ia masih mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
Energi cahaya Fiona tidak terasa seperti sihir biasa.
Dan kristal Lunaris—
bereaksi terhadapnya.
Bukan sekadar menyala.
Tetapi seolah-olah—
mengenalinya.
Elyon menyipitkan mata.
“Siapa sebenarnya dirimu, Fiona?”
Ia menatap keluar jendela.
Kristal-kristal Lunaris berkilauan di bawah cahaya bulan.
Pikirannya terus berputar.
Tentang cahaya.
Tentang kristal.
Tentang energi yang terasa jauh lebih murni daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Dan tentang kemungkinan—
bahwa kedatangan Fiona ke Lunaris mungkin akan mengungkap sesuatu yang selama ini tersembunyi.
Elyon menarik napas perlahan.
“Tiga hari…”
Ia menatap langit malam.
“Kalau begitu…”
Sebuah senyum tipis muncul.
“…aku akan menunggu.”
Dan malam kembali sunyi.
Tiga hari lagi—
Veyth akan datang ke Lunaris.
Share this novel