Series
382
BAB 233
Fiona membeku.
Cahaya yang muncul di sekeliling tubuhnya semakin jelas.
Namun—
cahaya itu tidak terasa seperti Light Magic biasa.
Tidak seperti ketika ia menyembuhkan Darrien.
Tidak seperti ketika ia meningkatkan kecepatannya.
Dan tidak seperti cahaya yang biasanya muncul dari telapak tangannya.
Kali ini—
cahaya tersebut terasa jauh lebih dalam.
Seolah-olah berasal dari sesuatu yang sudah lama berada di dalam dirinya.
Fiona menatap kedua tangannya.
“Aku…”
Napasnya tertahan.
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
Kevin masih berdiri di depannya.
Tatapannya tidak pernah meninggalkan Fiona.
“Jangan melawannya.”
Fiona menatapnya.
“Apa?”
“Cahaya itu.”
Kevin berbicara dengan tenang.
“Jangan mencoba menghentikannya.”
Fiona ragu.
“Tapi aku bahkan tidak tahu apa ini.”
“Justru karena itu.”
Kevin mengangkat satu tangan.
“Jangan paksa.”
Fiona menelan ludah.
Ia mencoba menarik napas.
Perlahan.
Cahaya itu berdenyut.
Sekali.
Kemudian sekali lagi.
Darrien berdiri tidak jauh darinya.
Ia tidak bergerak.
Namun tatapannya penuh kekhawatiran.
“Fiona.”
Fiona menoleh.
“Aku baik-baik saja.”
“Benarkah?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
Namun suaranya terdengar tidak yakin.
Darrien ingin mendekat.
Kevin mengangkat tangannya.
“Jangan.”
Darrien berhenti.
“Kenapa?”
“Biarkan dia.”
Darrien mengerutkan kening.
“Kau yakin?”
Kevin tidak menjawab.
Tatapannya tetap pada Fiona.
Elarion yang berdiri di luar barrier juga tidak mengatakan apa-apa.
Ia sedang mengamati.
Bukan hanya cahaya.
Tetapi—
reaksi gelang di pergelangan tangan Fiona.
Simbol daun perak itu mulai bersinar.
Fiona melihatnya.
Matanya membesar.
“Gelang ini…”
Cahayanya berbeda.
Lebih lembut.
Namun di balik cahaya itu—
ada sesuatu yang terasa seperti gema.
Seperti suara yang tidak terdengar oleh telinga.
Fiona memejamkan mata.
Dan untuk sesaat—
ia melihat sesuatu.
Crystal Garden.
Pohon besar.
Dua tiny elf.
Kemudian—
sebuah pintu.
Pintu menuju ruangan potret.
Fiona membuka mata dengan cepat.
“…”
Darrien langsung menyadari perubahan ekspresinya.
“Apa yang kau lihat?”
Fiona menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Kevin memperhatikan.
“Kau melihat sesuatu?”
Fiona menatapnya.
“Bagaimana kau tahu?”
Kevin hanya tersenyum kecil.
“Karena ekspresimu berubah.”
Fiona terdiam.
Kemudian cahaya di sekelilingnya kembali berdenyut.
Kali ini lebih kuat.
**WHOOM.**
Udara di dalam battlefield bergerak.
Rambut Fiona terangkat sedikit.
Darrien langsung mengambil satu langkah ke arahnya.
“Fiona!”
“Aku tidak apa-apa!”
Fiona menahan tubuhnya.
Cahaya terus berputar.
Namun anehnya—
tidak terasa panas.
Tidak terasa menyakitkan.
Justru terasa familiar.
Seperti sesuatu yang pernah disentuhnya sebelumnya.
Fiona menyentuh gelang di pergelangan tangannya.
“Ini…”
Ia berbisik.
“Tempat itu…”
Kevin mendengarnya.
“Tempat apa?”
Fiona menatapnya.
“Tempat dalam mimpiku.”
Ruangan menjadi hening.
Elarion langsung memperhatikan lebih serius.
Darrien juga menatap Fiona.
Kevin tidak menunjukkan keterkejutan.
Namun matanya sedikit menyipit.
“Jadi…”
“Cahaya itu terhubung dengan tempat tersebut.”
Fiona tidak menjawab.
Ia sendiri tidak tahu.
***
Di luar barrier—
Ace menatap Rowan.
“Apa yang sedang terjadi?”
Rowan menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Elarion tetap diam.
Ace kemudian menoleh kepadanya.
“Elarion?”
Elarion tidak langsung menjawab.
“Jangan ganggu dia.”
Ace dan Rowan saling berpandangan.
“Kenapa?”
“Karena kalau aku tidak salah…”
Elarion berhenti.
Ia tidak melanjutkan kalimatnya.
Ace mengerutkan kening.
“Kalau kau tidak salah apa?”
Elarion menggeleng.
“Aku belum yakin.”
***
Di dalam battlefield—
cahaya perlahan mulai mereda.
Fiona menarik napas panjang.
Tubuhnya terasa sedikit lemas.
Darrien segera mendekat.
“Kau baik-baik saja?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
Darrien memegang bahunya.
“Pusing?”
“Sedikit.”
Kevin masih berdiri di depan mereka.
Namun kali ini—
tatapannya berubah.
Ia tidak lagi hanya melihat Fiona sebagai seseorang yang memiliki Light Magic.
Ada sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Kita berhenti.”
Darrien mengangguk.
Fiona terlihat lega.
Namun sebelum mereka keluar dari battlefield—
Kevin berkata,
“Fiona.”
Ia menoleh.
“Hm?”
“Besok…”
Fiona langsung terlihat panik.
“Besok lagi?”
Kevin tertawa kecil.
“Ya.”
Fiona menghela napas.
“Aku sudah tahu.”
Kevin melanjutkan,
“Besok kau tidak hanya mengamati.”
Fiona terdiam.
“Apa maksudmu?”
Kevin menatapnya.
“Besok…”
Ia menunjuk ke tengah battlefield.
“…kau akan mencoba mengendalikan cahaya itu.”
Fiona membelalakkan mata.
Darrien juga langsung menatap Kevin.
“Kau yakin?”
Kevin mengangguk.
“Ya.”
Elarion yang mendengar dari luar barrier langsung menyipitkan mata.
Karena sekarang—
ia mulai memahami sesuatu.
Kevin bukan sekadar ingin melatih Fiona.
Ia sedang mencoba mencari tahu—
**apa sebenarnya yang ada di dalam dirinya.**
Dan Fiona sendiri—
belum menyadari bahwa cahaya yang baru saja muncul tadi…
mungkin bukanlah kekuatan yang baru ia dapatkan.
Melainkan—
**sesuatu yang selama ini sudah menunggunya untuk bangun.**
Share this novel