59. Bukan Lola

Romance Series 94

BAB 59
BUKAN LOLA

Hari-hari di kediaman Ardika mulai terasa semakin panjang bagi Fiona.

Setiap pagi, ia harus mengenakan pakaian yang telah disiapkan para pelayan.

Setiap siang, ia harus mempelajari tata krama bangsawan.

Setiap sore, ia harus mendengarkan cerita tentang kehidupan Lola.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.

“Aku bukan Lola.”

Para pelayan akhirnya berhenti mencoba memanggilnya dengan nama itu.

Mereka hanya menyebutnya “Nona”.

Fiona tidak keberatan.

Setidaknya…

mereka tidak memaksanya menyangkal dirinya sendiri.

Hari itu, Susanti datang ke kamarnya.

Ia membawa sebuah kotak kecil.

“Fiona.”

Fiona menoleh.

“Apa itu?”

Susanti meletakkan kotak tersebut di atas meja.

“Perhiasan milik Lola.”

Fiona tidak menyentuhnya.

“Aku tidak membutuhkannya.”

“Besok keluarga Varian akan mengadakan jamuan.”

Fiona langsung mengerti.

“Mereka akan datang?”

Susanti mengangguk.

Fiona berdiri.

“Aku tidak mau bertemu mereka.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu jangan suruh aku.”

Susanti terdiam.

“Kami hanya membutuhkanmu untuk berada di sana.”

Fiona menatapnya.

“Sebagai Lola.”

Susanti tidak menjawab.

Fiona tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di dalamnya.

“Setiap kali kalian melihatku, kalian hanya melihat wajah putri kalian.”

Susanti menundukkan kepala.

“Kau benar.”

Fiona sedikit terkejut.

Susanti kemudian berkata,

“Dan itu yang membuat semuanya semakin sulit.”

Fiona memandangnya.

“Kalau begitu lepaskan aku.”

Susanti tidak menjawab.

“Biarkan aku pulang.”

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena sekarang semuanya sudah terlalu jauh.”

Fiona mengepalkan tangan.

“Bukan salahku.”

“Aku tahu.”

“Bukan salahku kalau aku mirip dengan Lola.”

“Aku tahu.”

“Bukan salahku kalau kalian membuat perjanjian pernikahan.”

Susanti menutup mata.

“Aku tahu.”

Fiona terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat air mata kecil di sudut mata Susanti.

Namun Fiona tetap tidak melunak.

“Aku tetap ingin pulang.”

Susanti mengangguk perlahan.

“Aku tahu.”

Ia mengambil kotak itu.

“Namun untuk sementara…”

Ia membuka kotaknya.

Di dalamnya terdapat sebuah kalung dengan lambang keluarga Ardika.

“Pakailah ini.”

Fiona menatap kalung tersebut.

“Tidak.”

Susanti menghela napas.

“Fiona.”

“Aku tidak mau memakai lambang keluarga yang bukan milikku.”

Susanti menutup kotak itu.

Ia tidak memaksa.

“Baik.”

Ia kemudian berbalik.

Namun sebelum keluar, Fiona berkata,

“Bu Susanti.”

Susanti berhenti.

“Kalau suatu hari nanti Lola kembali…”

Susanti menoleh.

“Jangan biarkan dia merasa bahwa aku mengambil tempatnya.”

Susanti terdiam.

Fiona menatapnya.

“Aku tidak ingin menjadi penggantinya.”

Beberapa detik kemudian, Susanti mengangguk.

“Aku mengerti.”

Pintu tertutup.

Fiona duduk kembali.

Ia menatap ke luar jendela.

Langit sore mulai berubah warna.

Tangannya menyentuh bunga kecil yang masih ia simpan.

Bunga yang dibelinya bersama Darrien.

Fiona tersenyum tipis.

“Darrien…”

Ia bertanya-tanya apakah Darrien masih berlatih.

Kemudian ia tertawa kecil.

“Pasti.”

Ia tahu anak itu.

Kalau Kevin menyuruhnya mengulang seratus kali…

Darrien mungkin akan mengeluh sembilan puluh sembilan kali.

Namun tetap menyelesaikannya.

Fiona memeluk lututnya.

“Aku ingin pulang.”

***

Di tempat lain…

Kevin berdiri di depan Darrien.

“Seratus kali.”

Darrien menatapnya.

“Seratus?”

“Ya.”

Darrien menarik napas.

“Baik.”

Tidak ada keluhan.

Kevin mengangkat alis.

Ia masih belum terbiasa.

“Mulai.”

Darrien mengangkat tangan.

Sihirnya bergerak.

Lebih cepat.

Lebih padat.

Lebih terkendali.

Namun kali ini…

Kevin tidak hanya mengajarinya cara menyerang.

Ia mengajarinya cara bertahan.

Cara membaca lawan.

Cara memecahkan penghalang.

Cara menggunakan sihir tanpa menghabiskan seluruh tenaganya.

Cara bertarung ketika tubuhnya terluka.

Cara mempertahankan pikiran ketika emosinya menguasai diri.

Darrien mempelajari semuanya.

Hari demi hari.

Tanpa mengetahui bahwa di tempat yang jauh…

Fiona sedang menatap bunga kecil yang pernah ia berikan kepadanya.

Dan tanpa mengetahui bahwa…

gadis itu juga sedang menunggu hari ketika mereka bisa bertemu lagi.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience