8. Mata Yang Mengawasi

Romance Series 94

BAB 8
MATA YANG MENGAWASI

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.

Setidaknya, bagi Fiona.

Ia masih membantu membersihkan panti, masih menghabiskan waktu bersama Darrien, dan masih percaya bahwa mereka akan menemukan cara untuk meninggalkan tempat itu suatu hari nanti.

Namun Darrien menjadi jauh lebih berhati-hati.

Ia tidak pernah membawa tas kecilnya ketika Maria berada di sekitar mereka. Barang-barang yang telah ia kumpulkan disembunyikan di tempat yang hanya mereka berdua ketahui.

Setiap kali Maria mendekat, Darrien akan mengubah pembicaraan.

Awalnya, Maria tidak memperhatikannya.

Namun setelah beberapa hari, tatapan wanita itu mulai berubah.

Suatu sore, Fiona sedang mencuci pakaian di halaman belakang ketika Maria datang menghampirinya.

“Di mana Darrien?”

Fiona menunjuk ke arah gudang.

“Dia sedang membantu membawa kayu.”

Maria tersenyum.

“Oh.”

Senyum itu tampak ramah.

Tetapi Fiona mulai menyadari bahwa senyum Maria tidak pernah mencapai matanya.

Ia menundukkan kepala dan kembali mencuci pakaian.

Maria pergi.

Beberapa saat kemudian, Darrien muncul dari belakang gudang.

Ia langsung memperhatikan wajah Fiona.

“Apa dia mengatakan sesuatu?”

Fiona menggeleng.

“Tidak.”

Darrien melihat ke arah Maria yang sedang berjalan menjauh.

“Dia bertanya tentangmu?”

“Iya.”

Darrien terdiam.

Malam itu, ia memeriksa kembali tempat persembunyian barang-barang mereka.

Semuanya masih ada.

Namun ketika ia kembali ke kamar, Fiona sudah menunggunya.

“Kau takut?”

Darrien berhenti.

“Kenapa bertanya begitu?”

“Karena kau terus melihat ke belakang.”

Darrien tidak bisa menahan senyum kecil.

“Mungkin aku memang terlalu waspada.”

Fiona mendekat.

“Kalau begitu, aku akan membantumu.”

“Dengan apa?”

“Menjadi lebih waspada.”

Darrien tertawa pelan.

“Kau?”

Fiona mengangguk serius.

“Aku bisa.”

Darrien mengusap kepalanya.

“Baiklah. Mulai sekarang, kita berdua harus berhati-hati.”

Fiona tersenyum.

Namun malam itu, ketika mereka sedang tidur, sebuah bayangan berhenti di depan pintu kamar mereka.

Maria.

Ia tidak masuk.

Hanya berdiri beberapa saat, mendengarkan suara dari dalam.

Kemudian pandangannya jatuh pada pintu yang tertutup.

“Anak-anak ini…”

Ia berbalik perlahan.

Di wajahnya tidak ada lagi senyum ramah.

Hanya tatapan dingin.

Ia mulai curiga bahwa Darrien sedang merencanakan sesuatu.

Dan jika dugaannya benar, ia tidak berniat membiarkan mereka pergi begitu saja.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience