244. Kedatangan Lunaris

Romance Series 382

BAB 244

Cahaya teleportasi perlahan meredup.

Sisa-sisa partikel cahaya masih melayang di udara sebelum akhirnya menghilang.

Di tengah lingkaran teleportasi Veyth—

tiga sosok berdiri dengan tenang.

Para penjaga Veyth yang telah menunggu sejak tadi langsung menundukkan kepala.

Sosok pertama adalah seorang pria dengan aura seorang penguasa.

Pakaian kerajaannya dihiasi lambang Lunaris.

Tatapannya tenang, namun memiliki wibawa yang membuat orang-orang di sekitarnya secara naluriah menjaga sikap.

Dialah—

King Zeith.

Di sampingnya berdiri seorang wanita anggun dengan pakaian kerajaan berwarna lembut.

Queen Seraphine.

Dan sosok ketiga—

seorang Light Elf pria.

Berbeda dari dua penguasa di sampingnya, pakaiannya tidak terlalu dipenuhi ornamen kerajaan.

Namun justru kesederhanaannya membuat auranya terasa semakin berbeda.

Rambutnya tertata rapi.

Tatapannya tenang.

Dan seluruh tubuhnya memancarkan aura Light yang begitu halus hingga para penjaga Veyth merasa sulit untuk menentukan seberapa dalam kekuatan yang sebenarnya ia miliki.

Dia adalah—

Elyon.

**Penasihat Agung Negara Lunaris.**

Penjaga pertama segera berlutut.

“Selamat datang di Veyth, Yang Mulia Raja Zeith.”

Penjaga kedua mengikuti.

“Selamat datang, Yang Mulia Ratu Seraphine.”

Kemudian seluruh penjaga memberi hormat.

“Dan selamat datang, Yang Mulia Penasihat Agung Negara Elyon.”

Elyon hanya mengangguk.

“Terima kasih.”

Suaranya tenang.

Tidak berbeda jauh dari suara Elyon yang pernah dikenal Fiona.

Namun penampilannya—

sama sekali berbeda.

Tidak ada pakaian petualang.

Tidak ada perlengkapan perjalanan.

Tidak ada ekspresi seorang pengembara yang sedang mencari tempat untuk singgah.

Hanya seorang Light Elf yang berdiri sebagai salah satu tokoh tertinggi Lunaris.

Raja Zeith melihat ke arah istana Veyth.

“Apakah jamuan sudah dimulai?”

Penjaga segera menjawab.

“Ya, Yang Mulia.”

“Bagus.”

Ratu Seraphine tersenyum.

“Berarti kami tidak terlambat.”

“Tidak, Yang Mulia.”

Penjaga itu kemudian memberi isyarat kepada beberapa pengawal untuk mempersiapkan jalan menuju Crystal Hall.

Namun sebelum mereka bergerak—

Elyon menoleh.

Tatapannya jatuh ke arah Crystal Hall yang terlihat dari kejauhan.

Untuk sesaat—

ia diam.

Cahaya samar dari kristal istana terlihat bahkan dari tempat mereka berdiri.

Elyon memperhatikannya.

Ekspresinya berubah sedikit.

Ratu Seraphine menyadarinya.

“Elyon?”

Elyon tidak langsung menjawab.

“Kristalnya…”

Ia menyipitkan mata.

“…berubah lagi.”

Raja Zeith ikut melihat.

“Lebih kuat?”

“Ya.”

Elyon mengangguk perlahan.

“Seperti merespons sesuatu.”

Ratu Seraphine terdiam.

Mereka sudah mengetahui perubahan itu.

Itulah salah satu alasan utama mereka datang.

Namun sekarang—

mereka akhirnya berada di Veyth.

Dan perubahan tersebut terasa jauh lebih jelas.

Raja Zeith menarik napas.

“Kalau begitu, kita tidak boleh membuat tuan rumah menunggu.”

Elyon mengangguk.

“Benar.”

Mereka mulai berjalan menuju Crystal Hall.

***

Di dalam aula—

pesta masih berlangsung.

Musik masih terdengar.

Para tamu masih berbincang.

Dan Fiona—

masih makan.

Ia bahkan sedang memilih makanan berikutnya ketika suara langkah dari arah pintu utama mulai terdengar.

Darrien yang duduk di dekatnya menoleh.

“Ada apa?”

Fiona ikut melihat.

“Hmm?”

Elarion yang sejak tadi berbicara dengan salah satu tamu juga menghentikan percakapannya.

Suasana aula perlahan berubah.

Bukan karena semua orang sudah tahu siapa yang datang.

Namun karena beberapa penjaga Veyth mulai berdiri di sepanjang pintu.

Kemudian seorang petugas kerajaan masuk.

Ia berjalan menuju Raja Edward dan Ratu Gloria.

Berhenti.

Berlutut.

“Yang Mulia.”

Edward menoleh.

“Ada apa?”

“Rombongan Lunaris telah tiba.”

Beberapa tamu langsung berhenti berbicara.

Bisikan terdengar di seluruh aula.

“Lunaris?”

“Kerajaan Light Elf?”

“Mereka datang?”

Fiona yang masih memegang garpu berhenti.

“…Lunaris?”

Darrien menoleh kepadanya.

“Kau tahu?”

“Tidak.”

Fiona perlahan meletakkan garpunya.

Elarion menatap pintu.

Ekspresinya menjadi sedikit lebih serius.

***

Raja Edward dan Ratu Gloria segera berdiri untuk menyambut tamu mereka.

Para bangsawan juga ikut berdiri.

Suasana Crystal Hall berubah menjadi jauh lebih formal.

Pintu utama dibuka.

Raja Zeith masuk lebih dulu.

Ratu Seraphine berada di sampingnya.

Dan beberapa langkah di belakang—

Elyon.

Fiona menatap mereka.

Awalnya—

ia hanya melihat Raja dan Ratu Lunaris.

Namun ketika nama mereka diperkenalkan—

ia mendengar satu nama.

“Raja Lunaris Zeith”

“Ratu Lunaris Seraphine.”

Kemudian—

“Yang Mulia, Penasihat Agung Negara Lunaris, Elyon.”

Fiona membeku.

Garpu yang masih berada di tangannya berhenti di udara.

“…Elyon?”

Darrien menoleh kepadanya.

“Kau kenal?”

Fiona tidak langsung menjawab.

Ia menatap sosok Light Elf itu.

Wajahnya berbeda.

Jauh berbeda.

Pakaiannya juga berbeda.

Aura yang ia tunjukkan juga terasa jauh lebih tenang dan berwibawa.

Fiona berkedip.

“…”

Kemudian ia menggeleng perlahan.

“Tidak mungkin.”

Darrien ikut memperhatikan.

“Kenapa?”

“Namanya…”

Fiona menunjuk samar ke arah Elyon.

“Elyon.”

Ace yang duduk tidak jauh dari mereka langsung menoleh.

“Elyon?”

Rowan ikut memperhatikan.

“Tunggu.”

Ace menyipitkan mata.

“Elyon yang kita kenal?”

Rowan menggeleng.

“Tidak mungkin.”

Ia melihat sosok Lunaris itu lagi.

“Wajahnya berbeda.”

Ace mengangguk.

“Jauh berbeda.”

Fiona masih diam.

“…”

Darrien menatapnya.

“Kau yakin?”

Fiona akhirnya menggeleng.

“Tidak.”

Ia tersenyum kecil.

“Mungkin hanya namanya yang sama.”

Ace mengangguk cepat.

“Ya.”

“Bisa saja.”

Rowan juga setuju.

“Nama yang sama bukan berarti orang yang sama.”

Fiona mengangguk.

“Benar.”

Namun—

entah kenapa—

dadanya terasa sedikit aneh.

Bukan karena wajahnya.

Bukan karena suaranya.

Melainkan karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Seperti—

perasaan pernah mengenal seseorang.

***

Elarion tidak mengatakan apa-apa.

Tatapannya tetap tertuju kepada Elyon.

Berbeda dengan Fiona.

Ia tidak terlalu memperhatikan wajah.

Ia memperhatikan—

**kehadiran.**

Aura Light yang mengelilingi Elyon terasa familiar.

Sangat familiar.

Elarion menyipitkan mata.

“…”

Ace menoleh kepadanya.

“Elarion?”

“Hm?”

“Kau melihat apa?”

Elarion tidak langsung menjawab.

“Tidak ada.”

Ace mengangkat alis.

“Wajahmu bilang ada.”

Elarion tersenyum tipis.

“Aku hanya merasa…”

Ia berhenti.

“Merasa?”

Elarion kembali melihat Elyon.

“…pernah merasakan aura itu.”

Rowan mengerutkan kening.

“Dari mana?”

Elarion menggeleng.

“Itulah masalahnya.”

Ia tidak bisa memastikan.

Karena sosok di hadapannya jelas berbeda.

Namun—

kehadiran magis itu…

terlalu familiar untuk dianggap kebetulan.

***

Sementara itu—

Kevin yang berada tidak jauh dari mereka juga melihat Elyon.

Ia mengamati beberapa detik.

Kemudian—

mengangkat bahu.

“Light Elf yang kuat.”

Ace menoleh.

“Hanya itu?”

Kevin mengangguk.

“Ya.”

“Tidak terasa familiar?”

Kevin menggeleng.

“Tidak.”

Elarion menoleh kepadanya.

Kevin kembali melihat Elyon.

“Kenapa?”

Elarion tersenyum kecil.

“Tidak apa-apa.”

Kevin mengangkat bahu.

“Kalau begitu jangan terlalu dipikirkan.”

Dan tanpa menyadarinya—

Kevin justru menjadi orang yang paling yakin bahwa mereka sedang melihat orang yang berbeda.

Sense-nya membaca apa yang ada di permukaan.

Dan permukaan itu—

mengatakan satu hal:

**Elyon dari Lunaris bukan Elyon sang petualang.**

***

Di sisi lain aula—

Ardika dan Varian juga memperhatikan.

Surya menatap sosok Light Elf itu.

Kemudian mendengar namanya disebut.

“Elyon…”

Ia mengerutkan kening.

Susanti juga menoleh.

“Nama yang sama?”

Surya mengangguk.

“Mungkin.”

Lola tersenyum.

“Bukankah kebetulan?”

Marcus menjawab,

“Nama bisa sama.”

Tidak jauh dari sana—

Keith Varian juga mendengar nama tersebut.

Ia menatap Elyon.

Kemudian tersenyum kecil.

“Elyon?”

Clara menoleh.

“Kau mengenalnya?”

“Bukan yang itu.”

Keith menggeleng.

“Yang aku kenal berbeda.”

***

Sementara seluruh aula sibuk memperhatikan kedatangan Lunaris—

Fiona perlahan mengambil kembali garpunya.

Darrien menatapnya.

“Kau masih ingin makan?”

Fiona melihat piringnya.

Kemudian melihat Elyon.

Kemudian kembali melihat makanan.

“…Tentu.”

Darrien tertawa kecil.

“Prioritas.”

Fiona mengangguk serius.

“Aku belum selesai.”

Elarion menatapnya.

“Luar biasa.”

Fiona mulai makan lagi.

Namun—

sesaat sebelum garpu menyentuh bibirnya—

ia kembali menatap Elyon.

Entah kenapa—

tatapan mereka hampir bertemu.

Elyon juga melihat ke arahnya.

Hanya sesaat.

Namun cukup.

Fiona membeku.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Elyon juga terdiam.

Namun ia tidak menunjukkan reaksi besar.

Hanya sebuah tatapan panjang.

Seolah-olah—

ia sedang memastikan sesuatu.

Kemudian Raja Zeith dan Ratu Seraphine melanjutkan langkah menuju Raja Edward dan Ratu Gloria.

Fiona perlahan menurunkan garpunya.

“…Aneh.”

Darrien menoleh.

“Apa?”

Fiona menggeleng.

“Tidak tahu.”

Ia melihat Elyon sekali lagi.

“Sepertinya…”

Ia berhenti.

“…aku pernah mengenal tatapan itu.”

Namun sebelum ia bisa berpikir lebih jauh—

Darrien memanggilnya.

“Fiona.”

“Hm?”

“Supmu.”

Fiona menoleh.

Supnya hampir tumpah karena ia terlalu lama memegang sendok.

“Ah!”

Ia buru-buru memperbaikinya.

Ace langsung tertawa.

Rowan ikut tertawa.

Elarion menghela napas.

Dan di sisi lain aula—

Elyon memperhatikan semua itu dengan tatapan tenang.

Berbeda dengan yang lain—

ia tahu persis siapa Fiona.

Namun untuk saat ini—

ia memilih diam.

Karena ada terlalu banyak hal yang belum waktunya dikatakan.

Dan di balik Crystal Hall di Lunaris —

cahaya kristal Lunaris kembali berdenyut.

Sekali.

Lebih terang dari sebelumnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience