Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 388 — GERAKAN TANPA BERPIKIR
Latihan kembali dimulai.
Namun kali ini—
Kevin tidak mengatakan apa pun.
Darrien berdiri beberapa meter di depannya.
Ia sudah tahu.
Hari ini tidak akan mudah.
Kevin menghilang.
Darrien langsung menutup matanya.
Magic sense menyebar.
Namun—
tidak ada apa-apa.
Darrien mengerutkan kening.
*Tidak ada jejak.*
Kemudian—
sebuah serangan datang dari belakang.
Darrien bergerak secara refleks.
**WHOOSH!**
Serangan Kevin hanya mengenai udara.
Darrien bahkan tidak sempat berpikir.
Tubuhnya bergerak sendiri.
Kevin tersenyum.
“Jangan berpikir.”
Darrien menatapnya.
“Apa?”
“Tubuhmu sudah tahu.”
Kevin kembali menghilang.
Darrien menarik napas.
Ia tidak mencoba mencari Kevin.
Ia hanya merasakan.
Perubahan udara.
Getaran magicure.
Gerakan kecil di antara pepohonan.
Kemudian—
**WHOOSH!**
Darrien menghilang.
Sebuah dark magic muncul di tangannya ketika ia bergerak.
Kevin muncul di sisi kiri.
Darrien langsung menyerang.
Kevin menghindar.
Darrien tidak berhenti.
Ia mengubah arah serangannya di tengah gerakan.
**BOOM!**
Kevin mundur beberapa langkah.
Untuk sesaat—
keduanya saling menatap.
Kevin tersenyum.
“Bagus.”
Darrien menarik napas.
“Aku mulai mengerti.”
“Bagaimana?”
“Tidak perlu melihat.”
Darrien mengangkat tangannya.
“Tidak perlu memikirkan gerakan.”
“Cukup merasakan.”
Kevin mengangguk.
“Benar.”
Kemudian—
Kevin menghilang lagi.
Darrien langsung mengejar.
***
Latihan berubah menjadi semakin cepat.
Tidak ada lagi gerakan yang bisa diprediksi.
Kevin menyerang dari segala arah.
Darrien menghindar menggunakan magic sense.
Darrien menyerang sambil bergerak.
Kevin menghilang sebelum serangan mengenainya.
Dark magic dan kekuatan Kevin terus bertabrakan.
**BOOM!**
**WHOOSH!**
**BOOM!**
Namun perlahan—
Darrien mulai berhenti berpikir.
Tubuhnya bergerak sendiri.
Satu langkah.
Berputar.
Menghilang.
Muncul.
Menyerang.
Menghindar.
Semua menjadi satu aliran.
***
Di luar barrier—
Fiona memperhatikan dengan serius.
Ace dan Rowan bahkan tidak lagi banyak bercanda.
Elyon menyilangkan tangan.
Elarion menatap Darrien dengan kagum.
Ace akhirnya berkata,
“Dia semakin cepat.”
Rowan mengangguk.
“Dan semakin sulit dilihat.”
Fiona tersenyum.
“Bukan hanya cepat.”
Ia menatap Darrien.
“Dia mulai mempercayai magic sense-nya.”
Kevin juga menyadarinya.
Itulah yang sebenarnya ia tunggu.
Bukan kekuatan besar.
Bukan serangan yang menghancurkan.
Melainkan—
insting.
***
Kevin tiba-tiba meningkatkan kecepatannya.
Darrien tidak sempat melihat.
Namun—
tubuhnya bergerak.
Ia menghindar.
Kemudian memutar tubuh.
Dark magic langsung terbentuk di telapak tangannya.
Kevin muncul tepat di depannya.
Darrien menyerang.
Kevin menahan.
**BOOM!**
Gelombang magicure menyebar.
Keduanya terdorong mundur.
Darrien berdiri kembali.
Napasnya berat.
Namun—
ia tersenyum.
Kevin juga tersenyum.
“Sekarang kau mulai benar-benar belajar.”
Darrien mengusap sedikit keringat di dahinya.
“Berarti selesai?”
Kevin menggeleng.
“Belum.”
Darrien langsung menghela napas.
“Aku tahu.”
Ace dari luar barrier berteriak,
“JANGAN PERNAH BERTANYA ITU!”
Darrien menoleh.
“DIAM!”
Semua tertawa.
Bahkan Kevin.
Namun di balik tawa itu—
Darrien mulai menyadari sesuatu.
Kemampuan yang ia lihat dalam mimpi—
perlahan mulai menjadi bagian dari dirinya sendiri.
Dan ia bahkan tidak perlu mengingat masa lalu untuk menggunakannya.
