162. Sore Yang Tenang

Romance Series 382

BAB 162
SORE YANG TENANG

Waktu berlalu tanpa terasa.

Matahari mulai bergerak lebih rendah.

Cahaya keemasan menyelimuti lembah.

Fiona masih berada di dekat air mancur.

Beberapa makhluk magis berkeliaran di sekitarnya.

Salah satu makhluk kecil bahkan mengikuti Fiona ke mana pun ia pergi.

“Kenapa kau mengikutiku?”

Makhluk itu hanya mengeluarkan suara kecil.

Fiona tertawa.

“Baiklah.”

Darrien yang berdiri tidak jauh darinya tersenyum.

“Sepertinya kau mendapatkan teman baru.”

Fiona mengangguk.

“Dia lucu.”

“Kalau kau bawa pulang, Elarion mungkin akan protes.”

Fiona langsung menoleh.

“Kenapa?”

“Karena dia akan bilang rumah kita bukan tempat penampungan makhluk magis.”

Fiona tertawa.

Dari kejauhan—

Elarion langsung berseru.

“Aku dengar itu!”

Semua tertawa.

***

Di atas tikar—

makanan hampir habis.

Kevin bersandar sambil menghela napas puas.

“Ini baru liburan.”

Ace mengangguk.

“Tidak ada buku.”

Rowan tersenyum.

“Tidak ada rapat.”

Kevin menambahkan,

“Tidak ada istana.”

Mereka semua menoleh kepada Elarion.

Elarion mengangkat kedua tangan.

“Aku tidak mengatakan apa-apa.”

***

Fiona akhirnya kembali ke tempat mereka duduk.

Ia duduk di samping Darrien.

Angin lembut melewati lembah.

Darrien memberikan sebuah minuman kepadanya.

“Minum.”

“Terima kasih.”

Fiona menerimanya.

Mereka duduk berdampingan.

Tidak banyak bicara.

Tidak perlu.

Pemandangan di depan mereka sudah cukup.

Air mancur terus mengalir.

Makhluk-makhluk magis bergerak di antara rumput.

Burung-burung terbang rendah di atas lembah.

Fiona menatap semuanya.

“Darrien.”

“Hm?”

“Aku suka tempat ini.”

“Aku juga.”

Fiona tersenyum.

“Kalau kita punya waktu lagi…”

Ia berhenti sebentar.

“…kita bisa datang lagi.”

Darrien mengangguk.

“Pasti.”

***

Namun tidak jauh dari sana—

salah satu makhluk magis tiba-tiba berhenti bergerak.

Kepalanya terangkat.

Ia menatap ke arah hutan.

Kemudian—

beberapa makhluk lain melakukan hal yang sama.

Fiona memperhatikan.

“Ada apa?”

Darrien juga melihat ke arah yang sama.

Namun tidak ada apa-apa.

Hanya pepohonan.

Angin.

Dan suara air.

Elarion berdiri.

Ia mengamati sekeliling.

“Tidak ada yang aneh.”

Makhluk-makhluk itu akhirnya kembali bergerak.

Fiona mengangguk.

“Mungkin aku hanya terlalu memperhatikannya.”

Darrien tersenyum.

“Jangan pikirkan.”

Fiona kembali duduk.

Matahari semakin rendah.

Dan lembah kembali tenang.

Hari libur mereka masih belum berakhir.

Setidaknya—

untuk saat ini.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience