Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 424 — JEJAK MAGICURE KUNO
PERPUSTAKAAN KERAJAAN VEYTH.
Untuk pertama kalinya sejak mereka kembali dari pegunungan—
peta menuju Shadowcresent disingkirkan dari meja.
Tidak ada lagi yang membicarakan jalur menuju kerajaan vampire itu.
Tidak ada lagi yang mencoba mencari jalan alternatif.
Sebaliknya—
tumpukan buku lain mulai memenuhi meja panjang perpustakaan.
Buku-buku mengenai magicure kuno.
Teleportasi.
Magicure ruang.
Portal.
Dan berbagai catatan tentang sihir yang telah ada jauh sebelum kerajaan-kerajaan mereka berdiri.
Elyon berdiri di tengah meja.
“Kita berhenti mencari vampire itu.”
Ace yang sedang membaca buku tebal langsung mengangkat kepalanya.
“Akhirnya.”
Rowan meliriknya.
“Kau terdengar lega.”
“Aku memang lega.”
Ace menutup bukunya.
“Betisku masih mengingat gunung itu.”
Rowan hanya menghela napas.
Kevin tidak memedulikan mereka.
“Kalau begitu, apa yang kita cari?”
Elyon menunjuk beberapa buku di atas meja.
“Magicure-nya.”
Elarion langsung memahami.
“Teleportasi.”
Elyon mengangguk.
“Apa yang terjadi pada kita kemarin bukan teleportasi biasa.”
Darrien berdiri di dekat meja.
Wajahnya masih serius.
“Kita bahkan tidak merasakan magicure itu sebelum aktif.”
Kevin menambahkan,
“Dan tidak seorang pun dari kita sempat menghentikannya.”
Gloria membuka salah satu catatan kuno.
“Kalau begitu, mungkin kita sedang berhadapan dengan jenis magicure ruang yang sudah tidak digunakan lagi.”
Edward menatap seluruh rak buku.
“Cari semua yang berhubungan dengan magicure itu.”
Perintah tersebut langsung membuat perpustakaan kembali sibuk.
***
Satu demi satu buku dibuka.
Halaman-halaman tua dibalik.
Debu beterbangan di udara.
Berbagai simbol kuno muncul di hadapan mereka.
Beberapa catatan menjelaskan teleportasi antar kota.
Beberapa lainnya membahas perpindahan jarak pendek.
Ada pula catatan mengenai portal.
Namun—
tidak satu pun menjelaskan apa yang terjadi kepada mereka.
Ace membuka buku lain.
“Teleportasi biasa.”
Ia membaca bagian penjelasan.
“Memerlukan seorang pengguna magicure.”
Ia berhenti.
Kemudian melihat semua orang.
“Jadi apakah kita diserang oleh pengguna magicure yang tidak terlihat?”
“Tidak.”
Elarion menggeleng.
“Tidak ada jejak magicure dari luar.”
Ace mengerutkan kening.
“Kalau begitu…”
Ia melihat buku tersebut lagi.
“…bagaimana sihir itu bisa aktif?”
Tidak ada yang menjawab.
***
Beberapa jam berlalu.
Perpustakaan mulai dipenuhi keheningan.
Semangat yang sebelumnya muncul setelah mereka menemukan jejak Fiona kembali berubah menjadi frustrasi.
Elyon mengusap dahinya.
“Tidak ada.”
Rowan meletakkan buku lain.
“Yang ini juga tidak.”
Gloria masih membaca manuskrip di tangannya.
“Sebagian besar catatan menjelaskan teleportasi sebagai magicure yang dikendalikan secara langsung.”
Kevin yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
“Bagaimana jika itu bukan teleportasi?”
Semua orang menoleh kepadanya.
Kevin menatap peta yang masih berada di atas meja.
“Bagaimana jika magicure itu tidak memindahkan kita?”
Ace mengangkat alis.
“Lalu apa yang dipindahkan?”
Kevin menjawab,
“Bagaimana jika…”
Ia menunjuk peta.
“…ruang di sekitar kita yang dipindahkan?”
Hening.
Mata Elyon menyipit.
“Pemindahan ruang…”
Elarion langsung mengambil buku lain.
“Tunggu.”
Ia membuka bagian indeks.
Jarinya bergerak cepat melewati beberapa halaman.
Kemudian berhenti.
“Di sini.”
Ia membuka sebuah manuskrip yang sangat tua.
Halaman-halamannya hampir kecokelatan karena usia.
Beberapa simbol bahkan telah memudar.
Elarion membaca perlahan.
“Magicure ruang kuno…”
Ia berhenti.
“…yang mampu memindahkan kelompok tertentu tanpa kontak langsung.”
Darrien segera mendekat.
“Itu terdengar seperti yang kita alami.”
Elarion menggeleng.
“Belum tentu.”
Ia menunjuk bagian lain.
“Teknik ini membutuhkan sebuah…”
Ia membaca tulisan kuno tersebut.
“…jangkar ruang.”
Elyon mengerutkan kening.
“Jangkar?”
“Ya.”
“Lokasi yang telah dipersiapkan sebelumnya.”
Semua orang terdiam.
Edward menatap Darrien.
“Jadi…”
Darrien langsung memahami.
“Clearing itu.”
Elyon mengangguk perlahan.
“Bisa jadi.”
Ia melihat peta.
“Jalur yang kita ikuti membawa kita tepat ke tempat itu.”
Elarion melanjutkan,
“Dan begitu kita berada di dalam area tersebut…”
Ia mengetuk bagian manuskrip.
“…jangkar ruangnya aktif.”
***
Ace menatap buku itu.
Kemudian perlahan melihat yang lain.
“Jadi…”
Ia menunjuk peta.
“Gunung itu bukan sekadar jalur yang salah.”
Rowan menoleh.
“Lalu?”
Ace menelan ludah.
“Kita diarahkan ke sana.”
Hening.
Kevin mengangguk.
“Benar.”
Darrien menatap peta.
Jalur yang mereka ikuti.
Clearing tempat mereka berhenti.
Teleportasi tiba-tiba.
Semuanya mulai terhubung.
“Mereka sengaja membuat kita sampai ke sana.”
Elarion mengangguk.
“Dan setelah kita tiba…”
Ia menatap manuskrip.
“…mereka mengaktifkan jangkar ruang.”
Darrien mengepalkan tangannya.
Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara selama beberapa saat.
Mereka sebelumnya mengira jalur tersebut hanya dibuat untuk membuat mereka tersesat.
Ternyata—
mereka sedang diarahkan.
***
Edward akhirnya berkata,
“Berarti mereka mengetahui keberadaan kita.”
Kevin mengangguk.
“Dan mengetahui lokasi kita berhenti.”
Darrien menatap pegunungan yang tergambar pada peta.
“Yang berarti…”
Tatapannya menjadi semakin tajam.
“…mereka mengawasi kita.”
Ace perlahan menutup bukunya.
“Aku tiba-tiba tidak terlalu kesal karena dikirim pulang.”
Rowan menatapnya.
“Kenapa?”
Ace mengangkat bahu.
“Karena kalau mereka memang ingin membunuh kita…”
Ia melihat Darrien.
“…kita tidak akan berada di sini sekarang.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan kembali diam.
***
Elyon kembali membaca manuskrip tersebut.
“Tunggu.”
Ia membalik halaman.
“Mungkin ada bagian lain.”
Ia membaca lebih lanjut.
Namun halaman berikutnya telah rusak.
Sebagian besar tulisannya hilang.
Hanya beberapa kata yang masih dapat dibaca.
“Jangkar Ruang…”
Ia membaca kata berikutnya.
“Wilayah Kuno…”
Kemudian—
“Batas…”
Dan satu kata terakhir.
“Pengembalian.”
Elyon menatap halaman itu.
“Pengembalian…”
Darrien langsung menoleh.
“Apa maksudnya?”
Elyon menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Ia menunjukkan halaman yang rusak.
“Bagian sisanya hilang.”
Ace menatap halaman tersebut.
“Tentu saja.”
Rowan menghela napas.
“Kenapa bagian yang berguna selalu hilang?”
Elarion menutup manuskrip itu perlahan.
“Karena catatan ini mungkin telah berusia ribuan tahun.”
Ace menunjuk halaman tersebut.
“Kalau begitu, aku resmi membenci sejarah kuno.”
Elyon mengabaikannya.
Ia kembali menatap yang lain.
“Kita tidak perlu langsung mencari Shadowcresent.”
Darrien mengerutkan kening.
“Kita perlu memahami magicure yang melindungi wilayah itu.”
Kevin mengangguk.
“Jika kita memahami teleportasinya…”
Elyon melanjutkan,
“…kita mungkin bisa memahami bagaimana cara masuk.”
Darrien kembali melihat peta.
Fiona masih berada di suatu tempat di balik pegunungan.
Ia masih dapat merasakan keberadaannya.
Namun sekarang mereka memahami satu hal.
Mereka tidak dapat memaksa jalan masuk.
Shadowcresent telah tersembunyi selama ribuan tahun.
Dan pertahanan mereka bukan sesuatu yang dapat ditembus dengan kekuatan semata.
Mereka baru saja menghadapi—
satu jenis magicure.
Teleportasi.
Sebuah magicure yang mampu mengirim seluruh kelompok kembali ke kerajaan mereka tanpa melukai satu orang pun.
Darrien mengepalkan tangannya.
“Kalau begitu, kita pelajari.”
Kevin menatapnya.
“Dan setelah kita memahaminya?”
Darrien menatap peta.
“Kita kembali.”
Tidak ada seorang pun yang membantah.
Pencarian mereka telah berubah.
Mereka tidak lagi hanya mencari sebuah kerajaan vampire.
Mereka sedang mencari tahu—
magicure kuno yang selama ribuan tahun telah menjaga kerajaan itu tetap tersembunyi.
Dan jauh di balik pegunungan—
Shadowcresent tetap berdiri dalam keheningan.
Menunggu.
