29. Setahun Bersama Sang Pengembara

Romance Series 94

BAB 29
SETahun BERSAMA SANG PENGEMBARA

Genap satu tahun telah berlalu sejak Darrien dan Fiona pertama kali bertemu Elarion.

Fiona kini berusia dua belas tahun.

Darrien empat belas tahun.

Rumah kecil di tengah hutan yang dulu terasa asing kini telah menjadi tempat yang mereka kenal sebagai rumah.

Pagi itu, Fiona membantu Elarion menyusun botol-botol ramuan.

Darrien sedang memotong beberapa tanaman di meja sebelah.

“Kau salah memotongnya,” kata Fiona.

Darrien menoleh.

“Tidak.”

“Harus lebih tipis.”

Darrien melihat potongan di tangannya.

“Elarion tidak bilang begitu.”

Fiona menunjuk sebuah buku.

“Di sana.”

Darrien mengambil buku tersebut dan membukanya.

Ia membaca beberapa baris.

Kemudian terdiam.

“…Benar.”

Fiona tersenyum puas.

“Aku lebih pintar.”

“Jangan sombong.”

Elarion yang sedang mengaduk ramuan di belakang mereka hanya tertawa kecil.

Setahun bersama mereka telah mengubah banyak hal.

Darrien kini jauh lebih mampu mengendalikan sihir dinginnya.

Ia dapat menciptakan lapisan bayangan untuk bertahan, memperkuat tubuhnya dengan sihir, dan menggunakan pedang dengan jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Namun Elarion selalu mengingatkannya untuk tidak menggunakan kekuatan lebih dari yang diperlukan.

Fiona juga berkembang.

Cahayanya kini dapat digunakan untuk menyembuhkan luka ringan, menenangkan rasa sakit, dan menciptakan penghalang tipis.

Ia juga mulai memahami berbagai tanaman dan mampu membuat beberapa ramuan sederhana tanpa bantuan Elarion.

Mereka masih belum mengetahui asal-usul kekuatan mereka.

Elarion pun tidak pernah memaksa mereka mencari jawabannya.

Bagi mereka, yang penting adalah belajar.

Hari itu, Elarion meletakkan sebuah botol kosong di depan mereka.

“Ujian.”

Fiona langsung menatapnya.

“Ujian lagi?”

“Ya.”

Darrien menghela napas.

“Apa yang harus kami buat?”

“Antidot.”

Fiona mengerutkan kening.

“Untuk racun?”

“Benar.”

Elarion meletakkan beberapa bahan di meja.

“Kalian harus memilih bahan yang tepat tanpa bertanya kepadaku.”

Darrien memperhatikan semuanya.

Fiona membaca catatan di buku.

Mereka bekerja bersama.

Tidak seperti setahun yang lalu ketika mereka masih sering menunggu instruksi.

Sekarang mereka berdiskusi.

Mencoba.

Mengoreksi kesalahan.

Dan akhirnya—

sebuah cairan bening dengan sedikit warna keemasan memenuhi botol.

Elarion memeriksanya.

Ia mengangkat botol ke arah cahaya.

“Berhasil.”

Fiona tersenyum lebar.

“Benarkah?”

“Benar.”

Darrien mengangguk puas.

Elarion kemudian mengembalikan botol itu.

“Kalian sudah banyak berkembang.”

Fiona tersenyum.

“Karena kau mengajari kami.”

Elarion menggeleng.

“Karena kalian mau belajar.”

Ia menatap keduanya.

“Jangan pernah melupakan itu.”

Darrien terdiam sejenak.

Setahun lalu, mereka adalah dua anak yang bahkan tidak tahu bagaimana dunia di luar Akasia.

Sekarang mereka mampu membaca peta sederhana, mengenali tanaman beracun, membuat ramuan dasar, menggunakan senjata, merasakan energi sihir, dan mengendalikan kekuatan mereka sendiri.

Namun Elarion tahu bahwa perjalanan mereka belum selesai.

Masih terlalu banyak hal yang belum mereka ketahui.

Sore itu, ketiganya duduk di depan rumah sambil menikmati udara hutan.

Fiona memandang langit.

“Elarion.”

“Hm?”

“Apakah kau akan terus bepergian?”

“Suatu hari.”

Fiona terdiam.

“Berarti kita akan berpisah?”

Elarion tersenyum tipis.

“Belum.”

Darrien menatapnya.

“Belum?”

“Aku masih punya banyak hal untuk kalian ajarkan.”

Fiona tersenyum lega.

Darrien mengangguk.

Untuk saat ini, mereka masih memiliki tempat untuk pulang.

Mereka masih memiliki seseorang yang membimbing mereka.

Dan mereka masih memiliki waktu.

Namun di balik ketenangan hutan, dunia di luar sana terus bergerak.

Dan tanpa mereka sadari, masa kecil mereka perlahan mulai mendekati akhirnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience