Series
382
BAB 238
Matahari akhirnya tenggelam.
Cahaya terakhir yang sebelumnya menyinari taman kecil perlahan menghilang di balik pegunungan.
Langit berubah gelap.
Satu demi satu bintang mulai terlihat.
Dan bulan—
perlahan naik di atas kerajaan Veyth.
Namun Fiona masih belum bangun.
Di kamar Fiona—
Darrien berdiri di dekat jendela.
Tatapannya tertuju pada bulan yang semakin tinggi.
Kemudian ia menoleh.
Fiona masih tertidur di tempat tidur.
Tidak bergerak.
Napasnya masih teratur.
Wajahnya terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Darrien berjalan kembali ke sisi tempat tidur.
Ia duduk.
Tangannya perlahan menyentuh punggung tangan Fiona.
“Fiona.”
Tidak ada jawaban.
Darrien menunggu.
Beberapa detik.
Kemudian memanggil lagi.
“Fiona.”
Masih tidak ada.
Ia menghela napas.
“Sudah malam.”
Tidak ada perubahan.
Darrien menatap wajahnya lama.
Awalnya ia masih bisa menenangkan dirinya.
Fiona pernah mengalami mimpi aneh sebelumnya.
Ia bahkan sudah tahu bahwa dunia mimpi itu terasa berbeda.
Mungkin Fiona memang sedang mencari jawaban.
Mungkin ia sedang berada di ruangan kristal itu lagi.
Mungkin—
ia hanya belum selesai.
Namun semakin lama waktu berlalu—
semakin sulit bagi Darrien untuk mempercayai alasan-alasan itu.
Tangannya perlahan mengepal.
“Sudah terlalu lama.”
Ia melihat jam.
Kemudian melihat Fiona lagi.
Beberapa jam.
Sudah beberapa jam sejak Fiona tertidur.
Dan gadis itu masih tidak menunjukkan tanda-tanda bangun.
Darrien menunduk.
“Kalau ini hanya mimpi…”
Suaranya pelan.
“…kenapa kau tidak bisa kembali?”
Ia tidak mendapat jawaban.
Darrien mengusap wajahnya.
Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir—
ia tidak memikirkan Kevin.
Tidak memikirkan latihan.
Tidak memikirkan bagaimana cara menjadi lebih kuat.
Tidak memikirkan musuh.
Yang ada di kepalanya hanya satu hal.
**Fiona.**
Ia kembali menyentuh dahinya.
Tidak panas.
Napasnya normal.
Detak jantungnya juga terasa normal.
Tidak ada luka.
Tidak ada racun.
Tidak ada tanda sihir berbahaya yang bisa ia rasakan.
Namun—
Fiona tetap tidak bangun.
Darrien menatap gelang di pergelangan tangannya.
Simbol daun perak itu diam.
Tidak bersinar.
Tidak bergerak.
“Kalau kau sedang terjebak…”
Ia berhenti.
Rahangnya mengeras.
“…aku bahkan tidak tahu bagaimana cara mencarimu.”
Itulah yang paling membuatnya takut.
Selama ini—
ketika Fiona menghadapi sesuatu—
Darrien bisa berdiri di sampingnya.
Bisa melindunginya.
Bisa bertarung.
Bisa melakukan sesuatu.
Namun sekarang—
Fiona berada di tempat yang bahkan tidak bisa ia masuki.
Sebuah dunia yang tidak bisa disentuhnya.
Dan untuk pertama kalinya—
kekuatan yang ia miliki terasa tidak berguna.
Darrien menunduk.
Ia menggenggam tangan Fiona lebih erat.
“Jangan lakukan ini padaku.”
Suaranya hampir seperti bisikan.
“Aku tidak tahu bagaimana menemukanmu.”
Ia menelan ludah.
“Jadi…”
“pulanglah sendiri.”
***
Di dalam mimpi—
Fiona masih berada di Crystal Hall.
Namun tempat itu sudah berubah.
Cahaya yang sebelumnya lembut kini terasa jauh lebih redup.
Tidak gelap.
Tetapi—
sepi.
Terlalu sepi.
Fiona berdiri di depan pintu yang baru saja tertutup.
Ia masih memegang kristal kecil dari dalam kotak.
Kedua tiny elf berada di belakangnya.
Namun kali ini—
mereka tidak tertawa.
Fiona menatap mereka.
“Kenapa kalian diam?”
Tidak ada jawaban.
Ia melihat sekeliling.
“Biasanya kalian terus tertawa.”
Salah satu tiny elf menunjuk ke arah atas.
Fiona mendongak.
Crystal Hall bergetar sangat halus.
Cahaya di langit-langit berubah.
Fiona mengerutkan kening.
“Apa yang terjadi?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian—
sebuah suara terdengar.
Sangat jauh.
“Fiona…”
Fiona membeku.
Ia mengenal suara itu.
Bukan suara Darrien.
Bukan Elarion.
Bukan Kevin.
Suara wanita yang sebelumnya ia dengar.
Fiona berbalik.
“Siapa kau?”
Tidak ada jawaban.
“Kenapa kau terus memanggil namaku?”
Hening.
Fiona menggenggam kristal itu.
“Apa kau tahu siapa aku?”
Suara itu kembali terdengar.
“…”
Namun kali ini—
bukan namanya yang dipanggil.
Hanya satu kata.
**“Pulang.”**
Fiona terdiam.
“Pulang ke mana?”
Tidak ada jawaban.
“Ini rumahku?”
Hening.
“Tempat ini?”
Tidak ada jawaban.
Fiona mulai merasa frustrasi.
“Kalau kau ingin aku tahu sesuatu…”
Ia mengepalkan tangan.
“…berhenti memberiku potongan-potongan jawaban!”
Suaranya menggema di seluruh Crystal Hall.
Tiny elf terkejut.
Fiona menarik napas.
Kemudian—
sebuah cahaya muncul di depannya.
Cahaya itu membentuk sebuah lingkaran.
Di dalamnya—
sebuah bayangan.
Fiona mendekat.
Dan perlahan—
ia melihat seseorang.
Darrien.
Fiona membeku.
“Darrien?”
Bayangan itu menunjukkan Darrien yang sedang duduk di samping tempat tidurnya.
Wajahnya terlihat lelah.
Namun ia masih menggenggam tangan Fiona.
Fiona menatapnya.
“…”
Darrien di dalam bayangan menunduk.
Bibirnya bergerak.
Fiona tidak bisa mendengar apa yang ia katakan.
Ia mendekat.
“Darrien…”
Bayangan itu semakin jelas.
Fiona akhirnya mendengar suaranya.
**“Pulanglah.”**
Mata Fiona membesar.
Ia menyentuh permukaan cahaya.
“Darrien…”
Bayangan itu bergetar.
Fiona bisa melihat kekhawatiran di wajahnya.
Dan tiba-tiba—
rasa bersalah menghantam dadanya.
“Aku…”
Ia menunduk.
“Aku terlalu lama di sini.”
Tiny elf mendekat.
Fiona menatap mereka.
“Aku harus kembali.”
Kedua tiny elf saling pandang.
Kemudian—
salah satunya mengangguk.
Fiona mengangkat kristal.
“Tapi aku belum menemukan jawabannya.”
Tiny elf itu menunjuk kristal.
Kemudian menunjuk Fiona.
Fiona mengerutkan kening.
“Apa maksudnya?”
Tidak ada jawaban.
Namun kristal itu mulai bersinar.
Cahaya lembut mengalir ke seluruh tubuh Fiona.
Ia terkejut.
“Tunggu…”
Cahaya semakin kuat.
Fiona mencoba menahannya.
Namun—
bukan karena sakit.
Justru karena terasa seperti sesuatu sedang menariknya kembali.
Ke dunia nyata.
Fiona menatap Crystal Hall.
Kemudian pintu yang tadi tertutup.
Ia masih memiliki begitu banyak pertanyaan.
Tentang wanita itu.
Tentang gelangnya.
Tentang kristal.
Tentang tempat ini.
Tentang dirinya sendiri.
Namun—
untuk saat ini—
ia memilih kembali.
“Baiklah…”
Ia memejamkan mata.
“Aku akan kembali.”
***
Di dunia nyata—
Darrien masih berada di samping Fiona.
Ia sudah tidak tahu berapa lama ia duduk di sana.
Malam semakin dalam.
Cahaya bulan masuk melalui jendela.
Ia mengusap wajah Fiona perlahan.
“Fiona…”
Tidak ada jawaban.
Darrien menunduk.
Kemudian berbisik,
“Kalau kau masih mendengarku…”
Ia berhenti.
“…aku di sini.”
Tangannya kembali menggenggam tangan Fiona.
“Aku tidak pergi.”
Untuk beberapa saat—
tidak ada apa pun.
Kemudian—
jari Fiona bergerak.
Darrien langsung mengangkat kepala.
“Fiona?”
Ia menatap tangannya.
Jari Fiona bergerak lagi.
Kali ini lebih jelas.
Darrien berdiri.
“Fiona!”
Namun Fiona masih belum membuka mata.
Darrien menahan napas.
Ia melihat gelang itu.
Simbol daun perak mulai bersinar.
Sangat tipis.
Namun nyata.
Darrien langsung duduk kembali.
“Bagus…”
Ia menggenggam tangannya.
“Pulanglah.”
Suaranya bergetar sedikit.
“Aku tahu kau bisa mendengarku.”
***
Di dalam mimpi—
cahaya semakin terang.
Fiona hampir tidak bisa melihat apa pun.
Kedua tiny elf berdiri di depannya.
Fiona tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Mereka tersenyum.
Kemudian—
salah satu dari mereka menunjuk ke dada Fiona.
Fiona mengerutkan kening.
“Apa?”
Tiny elf itu menyentuh cahaya di dada Fiona.
Dan tiba-tiba—
sebuah suara terdengar lagi.
Lebih jelas daripada sebelumnya.
“Fiona…”
Fiona membuka mata.
“Siapa kau?”
Hening.
Kemudian—
jawaban itu datang.
Sangat pelan.
**“Kita akan bertemu.”**
Fiona membeku.
“Kapan?”
Tidak ada jawaban.
“Di mana?”
Masih tidak ada jawaban.
Cahaya semakin kuat.
Fiona menutup matanya.
Namun tepat sebelum dunia mimpi menghilang—
ia melihat sesuatu.
Bukan wajah.
Bukan sosok.
Hanya sepasang mata.
Mata yang terasa—
anehnya familiar.
Fiona ingin mengejarnya.
Namun tubuhnya sudah terlalu ringan.
Ia hanya sempat berbisik—
“Siapa…”
***
Di kamar—
Darrien melihat kelopak mata Fiona bergerak.
Sekali.
Kemudian sekali lagi.
Darrien langsung berdiri.
“Fiona?”
Tidak ada jawaban.
Namun kali ini—
napas Fiona berubah sedikit.
Lebih dalam.
Lebih nyata.
Darrien menahan napas.
Ia tidak berani menyentuhnya lagi.
Tidak ingin mengganggu prosesnya.
Ia hanya duduk di sana.
Menunggu.
Karena setelah berjam-jam—
akhirnya Fiona mulai kembali.
Namun Darrien belum tahu—
apa yang akan dibawa Fiona bersamanya dari mimpi itu.
Dan di pergelangan tangannya—
kristal kecil yang tidak pernah ada sebelumnya…
perlahan mulai muncul sebagai cahaya.
Sementara gelang daun peraknya—
bersinar untuk pertama kalinya di dunia nyata.
Darrien menatapnya.
“…”
Ia tidak berkata apa-apa.
Karena sesuatu memberitahunya—
ketika Fiona membuka mata nanti…
**dia mungkin bukan satu-satunya yang membawa pulang sesuatu dari mimpi itu.**
Share this novel