Series
94
BAB 62
TIGA MINGGU
Waktu terus berjalan.
Tiga minggu.
Itulah waktu yang tersisa sebelum pernikahan yang telah ditetapkan keluarga Ardika dan Varian.
Dan bagi Darrien…
tiga minggu itu bukan waktu untuk menunggu.
Itu adalah waktu untuk menjadi lebih kuat.
***
Hari pertama dimulai sebelum matahari terbit.
Darrien berdiri di tengah hutan.
Di sekelilingnya terdapat puluhan lingkaran sihir.
Kevin berdiri di hadapannya.
“Jangan gunakan kekuatan penuh.”
Darrien mengangguk.
“Mulai.”
Tiga boneka sihir menyerang bersamaan.
Darrien bergerak.
Satu serangan berhasil ia hindari.
Serangan kedua ditangkis.
Serangan ketiga hampir mengenai bahunya.
Darrien memutar tubuh.
Es muncul dari tanah.
Boneka pertama terjebak.
Kemudian Darrien mengangkat tangan.
Penghalang terbentuk.
Serangan kedua menghantam penghalang.
**BOOM!**
Darrien terdorong mundur.
Namun ia tetap berdiri.
Kevin mengangguk.
“Lebih baik.”
Darrien menarik napas.
“Lagi.”
***
Hari ketujuh.
Darrien mulai belajar menggabungkan sihir.
Es.
Bayangan.
Penghalang.
Gerakan.
Ia tidak lagi menggunakan satu mantra untuk satu serangan.
Ia mulai membuat beberapa sihir bekerja bersamaan.
Kevin semakin jarang memberikan petunjuk.
Ia hanya mengamati.
Karena Darrien mulai memahami sendiri apa yang harus dilakukan.
***
Hari keempat belas.
Darrien berdiri di tengah hujan.
Tubuhnya penuh luka kecil akibat latihan.
Kevin melemparkan sebuah kristal.
“Pecahkan.”
Darrien mengangkat tangan.
Kristal itu menghilang dari pandangannya.
Kevin mengangkat alis.
Beberapa detik kemudian—
**Krak!**
Kristal tersebut pecah dari dalam.
Kevin tersenyum tipis.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Darrien menghapus darah kecil di sudut bibirnya.
“Aku masih belum cukup kuat.”
“Benar.”
“Kalau begitu lanjut.”
Kevin tertawa kecil.
“Bagus.”
***
Hari kedua puluh.
Darrien berdiri di hadapan sebuah penghalang besar.
Penghalang itu sama seperti yang pernah menghentikannya ketika Fiona dibawa pergi.
Ia menatapnya cukup lama.
Kemudian mengepalkan tangan.
“Aku akan memecahkannya.”
Kevin berdiri di belakangnya.
“Jangan pecahkan dengan kekuatan.”
Darrien mengerutkan kening.
“Lalu?”
“Pahami.”
Darrien menutup mata.
Ia merasakan aliran sihir.
Satu lapisan.
Dua.
Tiga.
Ada titik lemah.
Darrien membuka mata.
Ia menyentuh penghalang.
Sihir dingin mengalir perlahan.
Tidak meledak.
Tidak menghantam.
Hanya menyusup.
**Krak.**
Satu retakan muncul.
Kemudian dua.
Penghalang runtuh.
Darrien terdiam.
Kevin mengangguk.
“Sekarang kau tahu cara menghadapi penghalang yang lebih kuat darimu.”
Darrien menatap tangannya.
“Ini cukup?”
Kevin menjawab,
“Belum.”
Darrien tersenyum kecil.
“Aku juga berpikir begitu.”
***
Sementara itu…
di kediaman Ardika, Fiona berdiri di depan cermin.
Gaun pernikahan telah disiapkan.
Ia menyentuh kainnya.
Indah.
Namun terasa asing.
Di belakangnya, seorang pelayan membantu menyisir rambutnya.
“Nona Lola…”
Fiona menatap cermin.
“Jangan panggil aku begitu.”
Pelayan itu langsung menunduk.
“Maaf.”
Fiona kemudian melihat pantulan dirinya.
Untuk sesaat, ia benar-benar memahami mengapa keluarga Ardika begitu yakin.
Ia memang sangat mirip dengan Lola.
Namun hanya secara fisik.
Karena ketika pintu kamar terbuka…
seorang gadis lain masuk.
Fiona menoleh.
Gadis itu memiliki wajah yang hampir sama.
Rambut yang sama.
Usia yang hampir sama.
Namun ekspresinya berbeda.
Lola.
Fiona menatapnya.
Lola juga menatap Fiona.
Tidak ada kata-kata.
Keduanya berdiri berhadapan.
Seperti melihat cermin yang hidup.
Akhirnya Lola berkata,
“Jadi kau Fiona.”
Fiona terdiam.
“Kau tahu?”
Lola mengangguk.
“Mereka menceritakan semuanya.”
Fiona mengerutkan kening.
“Lalu kenapa kau tidak mengatakan sesuatu?”
Lola duduk di kursi.
“Karena aku yang meminta mereka menunda pernikahan.”
Fiona terdiam.
“Aku tidak ingin menikah dengan Clark.”
“Lalu aku?”
Lola menatap Fiona.
“Aku tidak pernah meminta mereka mengambilmu.”
Nada suaranya terdengar pelan.
“Aku hanya ingin waktu.”
Fiona menatapnya.
“Sekarang aku yang terjebak.”
Lola menundukkan kepala.
“Aku tahu.”
Untuk pertama kalinya…
Fiona tidak merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang ingin merebut hidupnya.
Ia melihat seorang gadis yang juga terjebak dalam keputusan keluarganya sendiri.
“Apakah kau benar-benar sakit?”
Lola menggeleng.
“Tidak.”
Fiona hampir tertawa.
“Jadi kau benar-benar berpura-pura?”
“Ya.”
Keduanya saling memandang.
Kemudian Fiona tertawa kecil.
Lola ikut tersenyum.
Namun senyum itu tidak bertahan lama.
Lola menatap gaun pernikahan.
“Aku minta maaf.”
Fiona menggeleng.
“Bukan salahmu.”
Lola menatapnya.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
Fiona terdiam.
Ia menyentuh bunga kecil yang masih disimpannya.
“Aku akan pulang.”
Lola tersenyum tipis.
“Semoga kau berhasil.”
***
Hari kedua puluh satu.
Hari terakhir.
Darrien berdiri di depan Kevin.
Tidak ada lagi latihan dasar.
Tidak ada lagi kristal kecil.
Tidak ada lagi boneka latihan.
Kevin menyerahkan sebuah mantel kepadanya.
“Besok kita berangkat.”
Darrien menerima mantel itu.
“Ke Ardika?”
“Ya.”
Darrien mengangguk.
Ace berdiri tidak jauh dari mereka.
Elarion juga sudah menyiapkan perjalanan.
Darrien menatap hutan yang selama ini menjadi tempat latihannya.
Kemudian ia menoleh kepada Kevin.
“Terima kasih.”
Kevin mengangkat alis.
“Jangan berterima kasih dulu.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kau membuat kesalahan di perjalanan…”
Kevin tersenyum.
“…aku akan tetap mengajarimu.”
Darrien tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu.
Kemudian senyum itu menghilang.
Ia menatap ke arah jalan.
“Besok.”
Satu kata.
Namun semua orang mengerti.
Besok…
mereka akan pergi mencari Fiona.
Share this novel