104. Menuju Ruang Kristal

Romance Series 94

BAB 104
MENUJU RUANG KRISTAL

Malam telah turun ketika Elyon akhirnya kembali ke Lunaris.

Ia memasuki gerbang utama istana tanpa pengawalan berlebihan.

Jubah pengembaranya masih melekat di tubuh.

Namun begitu ia melewati pintu dalam istana—

penyamaran itu perlahan menghilang.

Rambutnya kembali tertata.

Telinga elfnya terlihat jelas.

Aura tenang seorang Light Elf bangsawan kembali terasa di sekelilingnya.

Seorang penjaga memberi hormat.

“Selamat datang kembali, Guru Agung.”

Elyon hanya mengangguk.

“Terima kasih.”

Ia tidak berhenti.

Langkahnya membawanya menuju aula kerajaan.

***

Raja Zeith dan Ratu Seraphine telah menunggunya.

Begitu pintu terbuka, Seraphine langsung menoleh.

“Kau akhirnya kembali.”

Elyon tersenyum.

“Perjalanan pulang cukup cepat.”

Zeith menatap pakaian pengembaranya.

“Kau masih menggunakan penyamaran itu?”

“Lebih nyaman.”

Seraphine terkekeh.

“Kau adalah Guru Agung kerajaan, tapi lebih sering terlihat seperti pengelana yang kehilangan arah.”

Elyon tersenyum.

“Itulah kelebihannya.”

Zeith menggeleng kecil.

“Bagaimana Veyra?”

“Ramai.”

“Dan gadis itu?”

Elyon tahu siapa yang dimaksud.

“Fiona baik-baik saja.”

Seraphine sedikit mengendurkan ekspresinya.

“Bagaimana keadaannya?”

“Normal.”

“Normal?”

“Dia makan, berjalan-jalan, membuat kalung, dan tertawa.”

Seraphine hampir tersenyum.

“Jadi dia benar-benar tidak tahu apa-apa?”

“Belum.”

Zeith menatapnya serius.

“Dan kau?”

“Aku masih mencari tahu.”

Mereka mulai berjalan keluar dari aula.

Tujuan mereka adalah Ruang Kristal Kerajaan.

***

Lorong istana Lunaris dipenuhi cahaya lembut dari kristal-kristal kecil yang tertanam di dinding.

Beberapa pelayan Elf berjalan melewati mereka dan memberi hormat.

Elyon berjalan santai di samping Raja dan Ratu.

Seraphine bertanya,

“Ketika kau pertama kali merasakan energinya, seberapa kuat?”

“Nyaris tidak ada.”

“Dan sekarang?”

“Lebih jelas.”

Zeith menoleh.

“Karena daun itu?”

“Sepertinya.”

Elyon menghela napas.

“Aku tidak ingin memastikan sesuatu yang belum kupahami.”

Zeith mengangguk.

“Itu sebabnya aku mempercayaimu.”

Seraphine menatap Elyon.

“Apakah dia terlihat seperti Light Elf?”

Elyon terdiam sejenak.

“Tidak.”

“Manusia?”

“Secara fisik, ya.”

“Tapi?”

“Ada sesuatu yang tidak cocok.”

Seraphine mengerutkan kening.

“Apa?”

Elyon tersenyum tipis.

“Kalau aku sudah tahu, aku tidak akan kembali ke Lunaris.”

Zeith tertawa kecil.

“Jawaban yang menyebalkan.”

“Terima kasih.”

Seraphine menggeleng.

“Kau semakin menyebalkan setelah menjadi Guru Agung.”

“Jabatan itu tidak mengubahku.”

“Justru itu masalahnya.”

Mereka terus berjalan.

***

Ketika mereka melewati sebuah jendela besar, Elyon sempat melihat taman istana.

Ia terdiam.

Seraphine memperhatikannya.

“Memikirkan sesuatu?”

“Fiona.”

“Kenapa?”

Elyon tersenyum kecil.

“Dia benar-benar terlihat seperti gadis biasa.”

Zeith menatapnya.

“Dan itu membuatmu semakin penasaran.”

“Benar.”

Elyon memasukkan kedua tangannya ke dalam jubah.

“Kalau dia memiliki hubungan dengan kristal kerajaan…”

Ia berhenti.

“…aku ingin tahu bagaimana.”

Seraphine mengangguk.

“Kita juga.”

***

Mereka akhirnya tiba di depan pintu besar.

Dua penjaga Light Elf berdiri di kedua sisi.

Mereka langsung memberi hormat.

“Yang Mulia.”

Zeith mengangguk.

“Buka.”

Pintu perlahan terbuka.

Cahaya pucat keluar dari dalam.

Elyon berhenti sejenak.

Ekspresinya berubah serius.

Seraphine menarik napas.

Zeith melangkah masuk.

Mereka bertiga memasuki Ruang Kristal.

Di tengah ruangan—

berdiri kristal kerajaan.

Kristal yang selama bertahun-tahun hampir sepenuhnya gelap.

Namun sekarang—

cahaya kecil berdenyut di dalamnya.

Elyon menatapnya.

“Masih menyala.”

Sylvester berdiri di dekat kristal.

Ia segera memberi hormat.

“Yang Mulia.”

Zeith mengangguk.

“Bagaimana keadaannya?”

Sylvester menjawab,

“Masih sama.”

“Tidak bertambah terang?”

“Belum.”

“Tidak padam?”

“Tidak.”

Elyon mendekat.

Ia mengamati permukaan kristal.

Kemudian mengulurkan tangannya.

Cahaya di dalam kristal bergerak.

Sangat kecil.

Namun jelas.

Elyon menyipitkan mata.

“Menarik.”

Seraphine mendekat.

“Apa?”

Elyon tidak langsung menjawab.

Ia menatap cahaya tersebut.

“Reaksinya masih sama.”

Zeith bertanya,

“Dengan Fiona?”

Elyon mengangguk.

“Ya.”

Untuk beberapa saat—

tidak ada yang berbicara.

Hanya cahaya kristal yang berdenyut perlahan.

Satu kali.

Dua kali.

Kemudian kembali tenang.

Seraphine berbisik,

“Setelah bertahun-tahun…”

Elyon menatap kristal itu.

“Dan kita masih belum tahu apakah cahaya ini sedang menunjukkan jalan…”

Ia tersenyum tipis.

“…atau hanya mengingatkan kita bahwa sesuatu telah kembali.”

Zeith menatapnya.

“Untuk sekarang, kita tunggu.”

Elyon mengangguk.

“Untuk sekarang.”

Di dalam Ruang Kristal—

cahaya kecil itu kembali berdenyut.

Seolah-olah sedang menunggu seseorang yang bahkan belum tahu bahwa dirinya sedang dicari.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience