Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 125
SETELAH LATIHAN
Matahari mulai condong ketika latihan mereka berlanjut.
Darrien mengusap keringat di dahinya.
“Sekali lagi?”
Fiona mengangguk.
“Sekali lagi.”
Mereka kembali mengambil posisi.
Kali ini Fiona bergerak lebih cepat.
Darrien menghindar ke samping.
Fiona segera berbalik dan mencoba menyentuh bahunya.
Namun Darrien berhasil menghindar.
“Hampir.”
Fiona tersenyum.
“Berarti aku semakin baik.”
“Sedikit.”
“Sedikit?”
Fiona memelototinya.
Darrien tertawa.
“Baiklah. Banyak.”
“Begitu lebih baik.”
Mereka kembali bergerak.
Langkah demi langkah.
Serangan demi serangan.
Tidak ada yang benar-benar ingin menang.
Mereka hanya ingin menjadi lebih baik.
***
Beberapa waktu kemudian—
Fiona akhirnya menjatuhkan diri ke atas rumput.
“Lelah…”
Darrien duduk di sampingnya.
“Aku juga.”
Fiona menatap langit.
Awan bergerak perlahan di atas mereka.
“Latihan lebih melelahkan daripada berjalan-jalan.”
Darrien tertawa.
“Karena kau tidak bisa berhenti untuk membeli makanan.”
Fiona langsung menoleh.
“Aku bisa berhenti.”
“Kau pasti akan berhenti.”
“Tidak selalu.”
“Pasar malam kemarin?”
Fiona terdiam.
“…”
Darrien tersenyum puas.
“Nah.”
Fiona memukul lengannya pelan.
“Jangan menggodaku.”
Darrien tertawa.
Mereka kembali diam.
Angin sore bergerak perlahan melewati halaman.
Untuk beberapa saat—
tidak ada penelitian.
Tidak ada kerajaan.
Tidak ada pembicaraan tentang masa lalu.
Hanya mereka.
Fiona kemudian mengangkat tangannya.
“Darrien.”
“Hm?”
“Lihat.”
Ia menunjukkan telapak tangannya.
Tidak ada cahaya.
Namun Fiona tersenyum.
“Aku merasa lebih mudah mengendalikan energiku.”
Darrien mengangguk.
“Itu bagus.”
“Menurutmu aku bisa menjadi penyihir hebat?”
Darrien menatapnya.
“Kalau kau mau.”
Fiona tersenyum.
“Dan kau?”
“Aku?”
“Kau ingin menjadi apa?”
Darrien berpikir sebentar.
“Aku tidak tahu.”
Ia melihat langit.
“Dulu aku hanya ingin hidup tenang.”
Fiona tersenyum.
“Sekarang?”
Darrien menoleh kepadanya.
“Sekarang aku ingin tahu siapa diriku.”
Fiona mengangguk.
“Dan setelah itu?”
Darrien terdiam.
Kemudian tersenyum kecil.
“Entahlah.”
Fiona memandangnya.
“Kalau kau menemukan jawabannya…”
Ia berhenti.
“…jangan berubah.”
Darrien menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena aku menyukai Darrien yang sekarang.”
Darrien terdiam.
Wajahnya sedikit berubah.
Fiona menyadarinya.
“Kau malu?”
“Tidak.”
“Kau malu.”
“Aku tidak.”
Fiona tertawa.
Darrien akhirnya ikut tertawa.
“Baiklah.”
Ia mengangkat tangannya.
Fiona memandangnya.
Darrien kemudian mengacak rambutnya.
“Kalau begitu aku tidak akan berubah.”
Fiona langsung merapikan rambutnya.
“Jangan berantakan!”
Darrien tertawa.
***
Matahari semakin rendah.
Fiona perlahan berdiri.
“Ayo kembali.”
Darrien mengangguk.
Namun sebelum mereka pergi—
Fiona mengulurkan tangan.
Darrien melihatnya.
“Apa?”
“Pegangan.”
Darrien tersenyum.
Ia menggenggam tangan Fiona.
Mereka berjalan kembali menuju rumah.
Langkah mereka pelan.
Tidak terburu-buru.
Dan untuk hari itu—
latihan mereka telah selesai.
Tidak ada kemenangan besar.
Tidak ada kekuatan baru yang luar biasa.
Hanya dua orang yang belajar menjadi sedikit lebih kuat—
sambil tetap berjalan berdampingan.
