369. Malam Terakhir Di Lunaris

Romance Completed 594

BAB 369 — MALAM TERAKHIR DI LUNARIS

Latihan akhirnya berakhir.

Kevin berdiri di tengah area latihan dengan ekspresi puas.

Ia memandang Darrien yang kembali terbaring di tanah.

Namun kali ini—

ada sesuatu yang berbeda.

Darrien memang masih terlihat seperti seseorang yang baru saja melewati bencana.

Napasnya berat.

Tubuhnya lelah.

Bahkan rambutnya sudah tidak berbentuk.

Namun gerakannya tadi—

jauh lebih baik.

Kontrol dark magic-nya meningkat.

Gerakannya lebih cepat.

Silent chant-nya mulai terbentuk secara alami.

Dan yang paling penting—

Darrien mulai memahami bagaimana menghemat magicure tanpa mengurangi kekuatan serangannya.

Kevin tersenyum.

“Bagus.”

Darrien yang masih terbaring hanya membuka satu mata.

“Bagus?”

“Ya.”

Kevin mengangguk.

“Kau akhirnya berkembang.”

Darrien terdiam.

Ia mencoba menggerakkan jarinya.

Berhasil.

Kemudian lengannya.

Berhasil.

Setelah beberapa usaha—

ia akhirnya duduk sendiri.

Tidak membutuhkan bantuan siapa pun.

Kevin memperhatikan.

“Lihat?”

Darrien mengatur napas.

“Apa?”

“Kau bahkan bisa duduk sendiri sekarang.”

Darrien menatapnya.

Kemudian—

tersenyum lelah.

“Dan aku masih membencimu.”

Kevin tertawa.

“Bagus.”

Ia berbalik.

“Kalau begitu, kita lanjutkan lagi setelah kembali ke Veyth.”

Darrien langsung terdiam.

“….”

Kevin terus berjalan.

“Jangan lupa.”

Darrien menatap punggungnya.

“Kenapa dia selalu punya cara untuk merusak suasana?”

Ace dan Rowan yang berada di luar barrier langsung tertawa.

Ace mengangkat tangan.

“Setidaknya kau masih hidup.”

Darrien menatapnya.

“Jangan membuatku iri.”

Rowan tertawa.

“Besok perjalanan.”

Darrien menghela napas.

“Ya…”

Ia melihat langit.

“…besok kita kembali ke Veyth.”

***

Fiona akhirnya masuk ke area latihan.

Ia berhenti ketika melihat Darrien sudah duduk sendiri.

Fiona berkedip.

“Kau bisa duduk?”

Darrien mengangguk bangga.

“Tanpa bantuanmu.”

Fiona tersenyum.

“Perkembangan besar.”

Darrien mengangguk.

“Aku juga merasa begitu.”

Fiona kemudian menatap Kevin yang sudah semakin jauh.

“Kevin benar-benar melatihmu dengan keras.”

Darrien menghela napas.

“Jangan puji dia.”

Fiona tertawa kecil.

“Baik.”

***

Hari itu adalah hari terakhir mereka di Lunaris.

Besok—

mereka akan memulai perjalanan kembali menuju Veyth.

Dan karena itu—

setelah semua orang selesai membersihkan diri dan beristirahat—

mereka berkumpul di ruang makan.

Waktu telah memasuki sore.

Teatime.

Zeith dan Seraphine sudah berada di sana.

Tidak lama kemudian—

Darrien, Fiona, Ace, Rowan, Elarion, dan Elyon juga datang.

Mereka duduk bersama.

Minuman hangat disajikan.

Beberapa makanan ringan diletakkan di atas meja.

Suasana terasa santai.

Zeith melihat mereka.

“Jadi…”

Ia tersenyum.

“Besok kalian kembali ke Veyth?”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

Edward dan Gloria sudah kembali lebih dulu.

Sekarang giliran mereka.

Seraphine tersenyum.

“Sayang sekali kalian hanya tinggal sebentar.”

Fiona mengangguk.

“Namun kami bisa kembali lagi.”

Zeith tertawa.

“Pintu Lunaris selalu terbuka.”

Ace langsung mengangkat tangan.

“Kalau begitu kami bisa datang lagi untuk piknik.”

Rowan menoleh.

“Dan memancing.”

Ace langsung mengangguk.

“Kali ini kita pasti menangkap ikan.”

Elarion tertawa.

“Kalian bahkan tidak menangkap satu pun.”

Ace menunjuknya.

“Karena ikannya terlalu pintar.”

Rowan mengangguk serius.

“Benar.”

Elyon menatap mereka.

“Atau mungkin ikannya hanya tidak ingin ditangkap.”

Semua tertawa.

Ace menghela napas.

“Bahkan ikan Lunaris menghina kami.”

***

Percakapan kemudian menjadi lebih santai.

Zeith berbicara mengenai beberapa tempat lain di sekitar Lunaris yang bisa mereka kunjungi jika datang lagi.

Seraphine menyebut beberapa festival yang biasanya diadakan ketika musim berubah.

Fiona mendengarkan.

Darrien sesekali menambahkan sesuatu.

Elarion berbicara mengenai tempat-tempat yang ingin ia lihat.

Ace dan Rowan sudah mulai merencanakan kompetisi berikutnya.

Kali ini—

mereka berjanji akan membawa pulang ikan.

Tidak ada yang percaya.

***

Setelah teh selesai—

hari mulai gelap.

Mereka tidak langsung kembali ke kamar.

Sebaliknya—

Fiona mengajak mereka menuju Crystal Garden.

***

CRYSTAL GARDEN

Malam telah turun.

Bulan bersinar terang di atas Istana Lunaris.

Cahaya bulan memantul pada kristal-kristal yang tumbuh di sekitar taman.

Setiap kristal memancarkan cahaya lembut.

Tidak terlalu terang.

Cukup untuk membuat seluruh taman terlihat seperti berada di dalam mimpi.

Semua duduk di sekitar taman.

Tidak ada meja.

Tidak ada dokumen.

Tidak ada agenda.

Hanya percakapan.

Ace duduk bersandar pada salah satu batu kristal.

Rowan berada di sampingnya.

Elarion duduk di rerumputan.

Elyon menikmati udara malam.

Fiona dan Darrien duduk bersebelahan.

Mereka semua berbicara mengenai hari-hari yang telah mereka lewati.

Tentang pasar.

Tentang piknik.

Tentang danau.

Tentang Ace dan Rowan yang gagal menangkap ikan.

Dan tentu saja—

tentang latihan Darrien.

Ace tertawa.

“Besok dia akan kembali ke Veyth.”

Rowan mengangguk.

“Dan Kevin masih akan melatihnya.”

Darrien menghela napas.

“Sayangnya.”

Fiona tersenyum.

“Tapi kau berkembang.”

Darrien melihatnya.

Kemudian tersenyum.

“Kalau kau bilang begitu…”

Ia bersandar sedikit.

“…aku akan percaya.”

Mereka kembali berbicara.

Tidak ada percakapan berat.

Tidak ada masa lalu.

Tidak ada rahasia yang harus dibuka.

Hanya pengalaman sederhana.

Hari-hari yang mungkin tidak akan terlihat penting bagi sejarah kerajaan—

namun berarti bagi mereka.

Fiona memandang kristal-kristal yang berkilauan.

Tempat ini pernah menjadi bagian dari masa lalunya.

Tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan.

Namun malam itu—

ia tidak merasa terikat oleh masa lalu.

Ia hanya menikmati keberadaannya di sana.

Bersama orang-orang yang sekarang menjadi bagian dari hidupnya.

Darrien menatap langit.

“Lunaris ternyata tidak buruk.”

Fiona tertawa kecil.

“Baru sekarang kau mengaku?”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

“Padahal kau hampir mati di sini.”

“Karena Kevin.”

Dari kejauhan—

suara Kevin terdengar.

“Aku masih mendengar.”

Darrien langsung menutup matanya.

“…Tentu saja.”

Semua tertawa.

***

Malam semakin larut.

Satu demi satu—

percakapan mulai melambat.

Tidak ada yang ingin terburu-buru pergi.

Karena besok—

mereka akan meninggalkan Lunaris.

Dan meskipun perjalanan ini hanya berlangsung beberapa hari—

mereka mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada yang mereka rencanakan.

Waktu.

Tawa.

Kebersamaan.

Dan pengalaman yang akan mereka ingat.

Fiona menatap bulan.

Darrien berada di sisinya.

Crystal Garden berkilauan di sekitar mereka.

Untuk sementara—

dunia terasa sangat damai.

Dan malam terakhir mereka di Lunaris—

berakhir tanpa perang.

Tanpa tragedi.

Tanpa rahasia baru.

Hanya tawa kecil dan percakapan yang perlahan menghilang bersama cahaya bulan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience