Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 502 — SATU NAPAS YANG TERSISA
Tidak ada yang meninggalkan ruangan itu.
Sejak Fiona dibawa kembali ke Veyth, ruang penyembuhan kerajaan berubah menjadi medan perang yang berbeda.
Tidak ada pedang.
Tidak ada ledakan.
Tidak ada musuh yang bisa dilihat.
Hanya tubuh Fiona yang terbaring diam di atas ranjang...
dan satu kehidupan yang perlahan berusaha meninggalkan tubuhnya.
Para penyembuh terus bergantian.
Satu kelompok selesai.
Kelompok berikutnya langsung mengambil posisi.
Lingkaran sihir penyembuhan memenuhi lantai.
Cahaya putih, biru pucat, dan emas terus mengalir menuju tubuh Fiona.
Namun hasilnya selalu sama.
Luka itu tidak menutup sepenuhnya.
Darah memang mulai berkurang.
Aliran darah yang sebelumnya terlalu cepat akhirnya dapat diperlambat.
Detak jantung Fiona yang hampir tidak teratur juga menjadi sedikit lebih stabil.
Tetapi...
itu saja.
Seorang penyembuh menatap tangannya sendiri yang gemetar.
“Denyut nadinya masih ada.”
Penyembuh lain mengangguk.
“Perdarahannya berhasil ditekan.”
Darrien langsung menoleh.
“Berarti dia akan sembuh?”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Tidak ada seorang pun yang langsung menjawab.
Akhirnya Elarion menarik napas panjang.
“Belum.”
Satu kata.
Namun rasanya jauh lebih menyakitkan daripada apa pun.
Darrien menatap Fiona lagi.
Wajah Fiona masih pucat.
Terlalu pucat.
Bibirnya kehilangan warna.
Napasnya begitu lemah sampai setiap tarikan napas terasa seperti sesuatu yang harus diperjuangkan tubuhnya sendiri.
Darrien kembali menggenggam tangannya.
“Jangan dengarkan mereka.”
Suaranya rendah.
“Aku tahu kau keras kepala.”
Tidak ada respons.
“Aku tahu kau suka tidur terlalu lama.”
Sudut bibir Darrien bergerak sedikit.
Senyum yang nyaris tidak terlihat.
“Dan aku tahu kau akan marah kalau aku menyuruhmu bangun.”
Dia menundukkan kepalanya.
“Tapi kali ini...”
Jarinya mengusap punggung tangan Fiona perlahan.
“...aku benar-benar memintamu.”
Tetap tidak ada respons.
Di sisi lain ruangan, beberapa penyembuh membuka buku-buku kuno yang sebelumnya ditemukan di arsip kerajaan Veyth.
Halaman demi halaman dibuka.
Formula penyembuhan tingkat tinggi diperiksa.
Ramuan kuno dibandingkan.
Bahkan teknik yang sudah berusia ratusan tahun dicoba satu per satu.
Namun semuanya gagal memberikan hasil yang mereka butuhkan.
“Teknik ini terlalu lemah.”
“Yang ini membutuhkan tubuh dalam kondisi lebih stabil.”
“Formula ini tidak cocok dengan struktur magicure Fiona.”
“Yang ini bahkan dapat memperburuk kerusakan.”
Elyon berdiri di depan meja penuh buku.
Matanya bergerak cepat membaca setiap halaman.
Elarion berada di sampingnya.
Keduanya tampak semakin serius.
“Tidak ada.”
Elyon akhirnya menutup satu buku.
“Bahkan teknik penyembuhan langka dari arsip kerajaan tidak cukup.”
Elarion mengangguk perlahan.
“Yang bisa kita lakukan hanya mempertahankan kondisinya.”
“Dengan kata lain...” Elyon menatap Fiona.
“Kita hanya membeli waktu.”
Darrien mendengar kalimat itu.
Namun kali ini dia tidak mengatakan apa-apa.
Dia hanya menggenggam tangan Fiona lebih erat.
Kemudian—
Pintu ruangan terbuka.
Semua kepala langsung menoleh.
Seorang penjaga kerajaan masuk dengan wajah tegang.
“Yang Mulia.”
Edward berdiri.
“Ada apa?”
Penjaga itu membungkuk.
“Delegasi dari Lunaris telah tiba.”
Ruangan langsung hening.
Beberapa detik kemudian...
tiga sosok memasuki ruangan.
Sylvester berjalan paling depan.
Di tangannya terdapat beberapa buku tua yang dibungkus kain putih dengan lambang kerajaan Lunaris.
Di belakangnya...
King Zeith.
Queen Seraphine.
Keduanya datang tanpa rombongan besar.
Tanpa kemegahan kerajaan.
Tidak ada waktu untuk itu.
Zeith langsung melihat ke arah ranjang.
Wajahnya berubah serius.
Seraphine juga berhenti beberapa langkah dari Fiona.
Untuk sesaat...
bahkan seorang ratu hanya bisa diam melihat kondisi gadis yang terbaring di sana.
Sylvester segera mendekati Elarion dan Elyon.
“Aku membawa semua yang berhasil kami temukan dari perpustakaan kerajaan.”
Dia meletakkan buku-buku itu di atas meja.
“Termasuk catatan penyembuhan kuno yang sudah hampir tidak pernah digunakan.”
Elarion segera membuka salah satunya.
Halaman pertama.
Kedua.
Ketiga.
Matanya semakin serius.
“Ini...”
Sylvester mengangguk.
“Aku tahu.”
“Teknik ini bahkan tidak digunakan lagi di Lunaris.”
“Benar.”
“Karena terlalu berbahaya?”
“Karena terlalu sulit.”
Elyon mengambil buku lain.
“Dan kalau berhasil?”
Sylvester terdiam sesaat.
“Bisa memperpanjang kehidupan seseorang yang berada di ambang kematian.”
Darrien langsung mengangkat kepala.
“Lakukan.”
Semua orang menoleh kepadanya.
Darrien berdiri perlahan.
“Kalau ada kemungkinan sekecil apa pun... lakukan.”
Zeith memandangnya.
Kemudian memandang Fiona.
“Aku setuju.”
Seraphine mengangguk.
“Gunakan.”
Para penyembuh Lunaris segera membuka lingkaran sihir baru.
Cahaya dari lingkaran itu berbeda.
Lebih tua.
Lebih murni.
Lebih dalam.
Sylvester membaca mantra kuno dari buku tersebut.
Cahaya keemasan perlahan turun ke tubuh Fiona.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Detak jantung Fiona yang sebelumnya sangat lemah...
mulai menjadi sedikit lebih stabil.
Beberapa penyembuh menarik napas lega.
Namun Elarion tidak tersenyum.
Dia masih melihat luka itu.
Luka tersebut...
masih ada.
Belum tertutup.
Belum pulih.
Belum sembuh.
Hanya...
tidak memburuk secepat sebelumnya.
Sylvester perlahan menutup bukunya.
“Berhasil.”
Darrien menatapnya.
“Dia akan sembuh?”
Sylvester terdiam.
Lalu menjawab dengan jujur.
“Tidak.”
Darrien membeku.
“Kami hanya berhasil membuat tubuhnya bertahan lebih lama.”
Ruangan kembali sunyi.
Zeith menatap Fiona.
Seraphine menggenggam tangannya sendiri.
Elarion menundukkan pandangan.
Elyon menghela napas panjang.
Dan Darrien...
kembali duduk di sisi ranjang.
Tangannya kembali mencari tangan Fiona.
Masih dingin.
Namun kali ini...
detaknya sedikit lebih terasa.
Darrien menutup matanya.
“Satu napas lagi saja...”
Bisiknya.
“Kalau itu yang kau punya sekarang...”
Dia menggenggam tangan Fiona.
“...aku akan menunggumu untuk mengambil napas berikutnya.”
Di luar ruangan...
malam terus berjalan.
Namun di dalam ruangan itu...
tidak seorang pun berniat menyerah.
Karena perang mereka belum selesai.
Dan musuh mereka...
masih bernama kematian.
