Series
390
BAB 335 — LATIHAN UNTUK MENGEJAR
POV DARRIEN :
Fiona menghilang lagi.
Bukan karena terluka.
Bukan karena marah.
Bukan karena ada sesuatu yang terjadi padanya.
Dia hanya merasa malu—
lalu menggunakan kecepatannya yang luar biasa untuk melarikan diri.
Darrien masih berdiri diam di Crystal Hall.
Ia masih mengingat bagaimana Fiona menghilang begitu saja.
Tidak ada chanting.
Tidak ada lingkaran teleportasi.
Hanya—
hilang.
Darrien menghela napas.
“Saintess…”
Ia telah melihat kenangan masa lalu Fiona.
Ia tahu seberapa kuat dirinya di masa lalu.
Ia bahkan melihat bagaimana Fiona bertarung di medan perang.
Bagaimana sihirnya bergerak.
Bagaimana ia mampu menghancurkan musuh tanpa ragu.
Dan sekarang—
kekuatan itu kembali berada di dalam tubuh Fiona.
Darrien menatap kedua tangannya.
Selama ini, ia selalu mengira dirinya cukup kuat untuk melindungi Fiona.
Namun sekarang?
Ia tidak terlalu yakin.
Terutama setelah melihat kecepatannya tadi.
Jika Fiona memutuskan untuk melarikan diri lagi—
apakah ia bisa mengejarnya?
Darrien mengepalkan tangannya.
“Tidak.”
Ia menggeleng.
“Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”
Jika Fiona ingin menghilang—
ia harus mampu menemukannya.
Jika Fiona ingin berlari—
ia harus mampu mengejarnya.
Bukan untuk memaksanya tetap tinggal.
Bukan untuk mengendalikannya.
Namun karena—
ia tidak ingin lagi berdiri tanpa daya ketika wanita yang dicintainya menghilang jauh dari jangkauannya.
Darrien menarik napas panjang.
“Aku harus berlatih.”
Lagi.
Ternyata—
bahkan setelah semua yang telah ia lalui,
ia masih memiliki pekerjaan rumah.
***
Darrien mulai memikirkan siapa yang bisa membantunya.
Elyon?
Terlalu fokus pada teori sihir.
Elarion?
Terlalu sibuk menganalisis semuanya.
Ace?
Sama sekali tidak.
Rowan?
Mungkin.
Namun bukan pilihan terbaik untuk latihan seperti ini.
Sylvester?
Bisa.
Tetapi hanya ada satu nama yang langsung muncul di pikirannya.
Seseorang yang benar-benar mampu mendorong kecepatannya.
Darrien perlahan menoleh.
Tatapannya jatuh kepada seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana.
Kevin.
Kevin sedang berbicara dengan Rowan.
Namun tiba-tiba—
ia berhenti.
Entah kenapa, bulu kuduknya terasa merinding.
Kevin perlahan menoleh.
Mata mereka bertemu.
“…”
Darrien menatapnya.
Kevin menatap balik.
Tidak ada yang berbicara.
Beberapa detik berlalu.
Ekspresi Kevin perlahan berubah.
Kenapa Darrien menatapnya seperti itu?
Bukan dengan marah.
Bukan dengan curiga.
Bahkan bukan dengan tatapan serius biasa.
Tatapan itu lebih buruk.
Seperti seseorang yang sudah membuat keputusan.
Kevin menyipitkan matanya.
*Ada sesuatu yang salah.*
***
POV KEVIN :
Entah kenapa—
ia tiba-tiba merasa tidak enak.
Bukan karena bahaya sihir.
Bukan karena musuh.
Bukan pula karena seseorang sedang mencoba membunuhnya.
Ini jauh lebih buruk.
Kevin kembali melihat Darrien.
Darrien masih menatapnya.
“…”
*Kenapa dia melihatku seperti itu?*
Darrien akhirnya berjalan mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Kevin secara refleks mundur satu langkah.
Darrien berhenti.
“Kevin.”
Ekspresi Kevin langsung waspada.
“Ya?”
Darrien menatapnya.
“Aku membutuhkan bantuanmu.”
Kevin langsung merasa semakin tidak nyaman.
“…Bantuan seperti apa?”
Darrien tersenyum.
Senyuman yang sangat tenang.
Entah kenapa—
justru membuat Kevin semakin takut.
“Aku ingin berlatih.”
Kevin berkedip.
“Itu bagus.”
Darrien mengangguk.
“Aku ingin kau melatihku.”
Kevin membeku.
“…Aku?”
Darrien mengangguk.
Kevin menatap Darrien.
Kemudian melihat Rowan.
Kemudian Ace.
Kemudian Elarion.
Kemudian Elyon.
Tidak ada seorang pun yang terlihat berniat menyelamatkannya.
Ace bahkan sudah mulai tersenyum.
Rowan berusaha menahan tawa.
Elarion terlihat terhibur.
Elyon hanya mengamati.
Kevin kembali menatap Darrien.
“Kenapa aku?”
Darrien menjawab dengan jujur.
“Aku harus menjadi lebih cepat.”
Kevin mengangkat alis.
“Kenapa?”
Darrien terdiam sebentar.
Kemudian menjawab,
“Fiona.”
Kevin langsung mengerti.
Ekspresinya menjadi rumit.
“Dia melarikan diri lagi?”
Darrien mengangguk.
Kevin menghela napas.
“Dan kau ingin mengejarnya?”
Darrien menggeleng.
“Bukan mengejar.”
Ia mengoreksi.
“Menjadi cukup cepat untuk mengikutinya.”
Kevin menatapnya.
“Itu terdengar persis seperti mengejar.”
Ace langsung tertawa.
Rowan menutup mulutnya.
Bahkan Elyon tidak mampu menyembunyikan senyumnya.
Darrien mengabaikan mereka.
Ia kembali menatap Kevin.
“Aku harus bisa mengejar kecepatannya.”
Kevin menarik napas.
“Darrien…”
“Ya?”
“Dia adalah Saintess.”
“Aku tahu.”
“Dia memiliki pengalaman sihir lebih dari dua ribu lima ratus tahun.”
“Aku tahu.”
“Dia bisa menggunakan sihir instan tanpa chanting.”
“Aku tahu.”
“Dia menghilang sebelum siapa pun sempat bereaksi.”
“Aku tahu.”
Kevin menatap Darrien dengan tatapan kosong.
“Dan kau masih ingin mengejarnya?”
Darrien mengangguk.
“Bukan mengejar.”
Kevin memejamkan mata.
“Menjadi cukup cepat untuk mengikutinya.”
Kevin membuka mata lagi.
“…Itu sama saja.”
Ace kembali tertawa.
Rowan menggeleng.
Elarion bahkan tersenyum.
Darrien tidak peduli.
Ia hanya menunggu jawaban Kevin.
Akhirnya—
Kevin menghela napas panjang.
“Baiklah.”
Darrien tersenyum.
“Terima kasih.”
Kevin langsung merasa menyesal.
“Aku akan menyesali keputusan ini.”
Darrien menjawab tenang,
“Mungkin.”
Kevin:
“…”
Perasaan buruk yang sejak tadi muncul ternyata benar.
Dan entah kenapa—
Kevin merasa latihan besok akan menjadi salah satu keputusan terburuk dalam hidupnya.
Sementara jauh dari sana—
Fiona mungkin masih belum mengetahui bahwa setelah ia melarikan diri karena malu—
Darrien baru saja memulai rencana untuk menjadi cukup cepat agar bisa menangkapnya.
Dan seseorang bernama Kevin—
baru saja menjadi korban pertama dari rencana tersebut.
Share this novel