477. Warisan Sang Grandmaster

Romance Completed 594

BAB 477 — WARISAN SANG GRANDMASTER

Grandmaster Darrien tidak langsung berbicara.

Keheningan memenuhi tepi danau.

Hanya suara angin malam yang mengusap rerumputan dan riak air yang perlahan menyentuh tepian danau.

Darrien masih berlutut.

Kepalanya tertunduk, bahunya naik turun menahan napas yang belum juga kembali tenang.

Air mata masih menetes satu demi satu membasahi rumput di bawahnya.

Grandmaster Darrien memandangnya lama.

Tatapan itu... bukan tatapan seorang guru kepada murid.

Bukan pula tatapan seorang legenda kepada penerusnya.

Itu adalah tatapan seorang pria yang melihat dirinya sendiri... ribuan tahun yang lalu.

Perlahan...

Ia melangkah.

Satu langkah.

Rumput bergoyang pelan.

Langkah kedua.

Jubah hitam panjangnya ikut bergerak tertiup angin.

Langkah ketiga.

Ia berhenti hanya beberapa langkah di depan Darrien.

Darrien mengangkat wajah perlahan.

Mata mereka bertemu.

Wajah yang sama.

Tatapan yang berbeda.

Yang satu dipenuhi pengalaman ribuan tahun.

Yang satu dipenuhi luka yang masih segar.

Lalu...

Cahaya muncul di bawah kaki mereka.

Lingkaran sihir perlahan terbentuk.

Satu simbol demi satu simbol muncul dari rerumputan, membentuk pola kuno yang berputar mengelilingi mereka berdua.

Magicure memenuhi udara.

Udara menjadi jauh lebih berat.

Darrien tanpa sadar menahan napas.

"Apa ini...?"

Grandmaster Darrien tetap tenang.

"Jawab aku dulu."

Suaranya lembut.

Namun memiliki wibawa yang membuat Darrien tidak mampu mengalihkan pandangan.

"Apakah kau akan membawa Fiona kembali?"

Pertanyaan itu terdengar sederhana.

Namun jantung Darrien langsung berdegup lebih cepat.

Fiona.

Nama itu saja sudah cukup membuat dadanya terasa sesak.

Air mata kembali menggenang.

Ia mengangguk tanpa ragu.

"Aku akan."

Jawabannya keluar begitu cepat.

Bahkan sebelum sempat berpikir.

Grandmaster Darrien tersenyum tipis.

Senyum yang sangat kecil.

Lalu ia bertanya lagi.

"Apakah kau akan menjaganya..."

Ia berhenti sejenak.

"...atas namaku?"

Darrien membeku.

Kalimat itu menghantam jauh lebih keras daripada sebelumnya.

Atas namaku.

Bukan menggantikanku.

Melainkan melanjutkan sesuatu yang pernah kumulai.

Darrien mengepalkan tangannya di atas rumput.

Dadanya bergetar.

"Aku akan."

Suaranya kali ini lebih berat.

Ia meletakkan telapak tangannya di dada.

"Dengan seluruh hatiku..."

"...aku akan membawa Fiona kembali."

Air mata jatuh lagi.

"...dan aku akan menjaganya."

Ia mengangkat kepalanya.

Tatapannya lurus.

"Tidak peduli berapa lama waktu yang kubutuhkan."

Ia menarik napas panjang.

"Karena..."

Senyum kecil muncul di wajahnya meski pipinya basah.

"...aku juga mencintainya."

Keheningan kembali datang.

Grandmaster Darrien menatapnya cukup lama.

Lalu...

Tawa kecil terdengar.

"Haha..."

Tawa itu hangat.

Namun di sudut mata Grandmaster Darrien...

ada setetes air mata yang perlahan jatuh.

"Ya..."

Ia menatap langit malam.

"Itu juga kata-kata terakhir yang pernah kukatakan kepadanya..."

Senyumnya perlahan berubah menjadi kesedihan.

"...sebelum aku jatuh."

Angin malam kembali berembus.

Grandmaster Darrien memandang danau.

Pantulan bulan bergoyang di permukaan air.

"Aku pernah kehilangan dia."

Suaranya begitu pelan.

"Tapi waktu yang pernah kumiliki bersamanya..."

Ia memejamkan mata sejenak.

"...adalah hadiah terbaik dalam hidupku."

Darrien hanya mendengarkan.

"Aku selalu berharap..."

Grandmaster Darrien membuka matanya kembali.

"...aku memiliki sedikit waktu lagi."

Senyumnya pahit.

"Sedikit saja."

Tangannya perlahan terbuka.

Seolah ingin menggenggam sesuatu yang sudah lama menghilang.

"Tapi takdir memilih cara yang berbeda."

Ia melihat kedua tangannya.

"Dan sekarang..."

Tatapannya kembali kepada Darrien.

"...aku melihat kesempatan kedua."

Darrien merasakan tenggorokannya kembali sesak.

Ia ingin bertanya banyak hal.

Namun tubuhnya hanya mampu diam.

Grandmaster Darrien mengulurkan tangan kanannya.

Lingkaran sihir di bawah mereka mulai berputar semakin cepat.

"Terimalah."

Magicure memenuhi udara.

"Kekuatan yang pernah kumiliki."

"Keagungan yang pernah kubangun."

"Warisan yang selama ini menunggumu."

Darrien menatap tangan itu.

Tangannya sendiri perlahan terangkat.

Masih gemetar.

Masih ragu.

Namun akhirnya...

ujung jari mereka bersentuhan.

BOOOOOOM!

Cahaya meledak.

Lingkaran sihir berubah menjadi lautan cahaya keemasan dan hitam.

Magicure mengalir deras memasuki tubuh Darrien.

"Aaagh!"

Darrien langsung mengertakkan gigi.

Tubuhnya melengkung ke belakang.

Urat di lehernya menegang.

Magicure memenuhi setiap pembuluh darahnya.

Rasanya seperti seluruh tubuhnya sedang dipaksa menerima ribuan tahun kekuatan dalam satu detik.

Ia berusaha menarik tangannya.

Tidak bisa.

Lingkaran sihir menahan mereka.

Grandmaster Darrien tetap berdiri.

Tenang.

Seolah semua rasa sakit itu pernah ia rasakan.

"Bernapas."

Perintahnya singkat.

Darrien mencoba mengikuti.

Satu tarikan napas.

Magicure menjadi sedikit lebih stabil.

"Dengarkan tubuhmu."

Darrien memejamkan mata.

Ia merasakan aliran energi.

Tidak lagi bertabrakan.

Mulai menyatu.

Magicure miliknya...

dan magicure Grandmaster Darrien...

perlahan menemukan ritme yang sama.

Grandmaster Darrien tersenyum kecil.

"Bagus."

Cahaya semakin terang.

"Selamatkan dia."

Suaranya kembali terdengar.

"Jangan biarkan dia melupakan kita."

Darrien menggigit bibirnya.

Air mata kembali mengalir.

"Dia sudah menunggu terlalu lama."

Suara Grandmaster Darrien bergetar untuk pertama kalinya.

"Ribuan tahun..."

"...dia menunggu kelahiranku kembali."

Dada Darrien terasa hancur.

Grandmaster Darrien menatapnya dengan mata yang dipenuhi kesedihan.

"Jangan kecewakan dia."

Kalimat itu terasa seperti permohonan.

Bukan perintah.

Permohonan terakhir seorang pria yang pernah kehilangan seluruh dunianya.

Kemudian tubuh Grandmaster Darrien mulai berubah menjadi cahaya.

Darrien panik.

"Tunggu!"

Ia mencoba berdiri.

"Tunggu! Masih banyak yang ingin kutanyakan!"

Grandmaster Darrien hanya tersenyum.

Senyum yang damai.

"Setelah ini..."

Suaranya semakin jauh.

"...kau akan berdiri dengan kakimu sendiri."

Cahaya mulai memakan tubuhnya.

"Fokuslah pada masalah yang ada di hadapanmu."

Darrien mengulurkan tangan.

"Jangan pergi!"

Namun tangannya hanya melewati cahaya.

Grandmaster Darrien hampir sepenuhnya menghilang.

Lalu...

ia mengucapkan kalimat terakhir.

"Kadang-kadang..."

Cahaya memenuhi seluruh danau.

"...jawabannya sudah berada sangat dekat denganmu."

Senyum terakhir.

Lalu...

ia lenyap.

BOOOOOOM!

Lingkaran sihir meledak.

Magicure memenuhi seluruh dunia.

Darrien menutup matanya sambil berteriak.

"AAAAAAAH!!"

Danau menghilang.

Bulan menghilang.

Langit malam pecah menjadi cahaya putih.

Lalu...

gelap.

---

"Ghah!"

Darrien terbangun dengan napas tersengal.

Dadanya naik turun begitu cepat hingga terasa sakit.

Keringat membasahi seluruh tubuhnya.

Ia langsung duduk.

Tangannya mencengkeram dada.

Masih sulit bernapas.

Beberapa detik...

ia hanya mendengar detak jantungnya sendiri.

Deg.

Deg.

Deg.

Perlahan ia melihat sekeliling.

Kamarnya.

Tempat tidurnya.

Jendela.

Lemari.

Semuanya familiar.

"Aku..."

Suaranya serak.

"...kembali?"

Ia mengangkat telapak tangannya.

Magicure muncul perlahan.

Cahaya hitam berputar di antara jari-jarinya.

Namun kali ini...

ia membeku.

Energi itu berbeda.

Lebih padat.

Lebih tenang.

Lebih dalam.

Darrien menatap tangannya cukup lama.

Jantungnya kembali berdetak cepat.

"Itu..."

Bukan mimpi.

Ia bisa merasakannya.

Magicure di dalam tubuhnya benar-benar berubah.

Pada saat itu...

cahaya matahari pertama memasuki kamar melalui jendela.

Fajar baru saja tiba.

Sinar keemasan jatuh tepat mengenai telapak tangan Darrien.

Ia mengepalkan tangannya perlahan.

Tatapannya berubah.

Tidak lagi hanya dipenuhi kesedihan.

Kini ada tekad yang jauh lebih kuat.

Namun jauh di dalam hatinya...

kalimat terakhir Grandmaster Darrien terus bergema.

"Kadang-kadang... jawabannya sudah berada sangat dekat denganmu."

Darrien menoleh ke arah matahari yang baru terbit.

Dan untuk pertama kalinya...

ia mulai bertanya pada dirinya sendiri.

Apa sebenarnya jawaban yang berada begitu dekat denganku...?

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience