Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 503 — DI TENGAH TAMAN YANG KEMBALI
Waktu terus berjalan.
Namun di ruang penyembuhan Veyth...
tidak ada yang berubah menjadi lebih mudah.
Para penyembuh masih bekerja.
Ramuan demi ramuan digunakan.
Lingkaran sihir baru terus dibuat.
Teknik penyembuhan kuno yang berhasil ditemukan dari berbagai arsip juga dicoba.
Beberapa hanya mampu memperlambat kerusakan.
Beberapa membantu menjaga aliran darah Fiona tetap stabil.
Beberapa lainnya hanya mampu mempertahankan detak jantungnya beberapa saat lebih lama.
Tidak ada satu pun yang benar-benar menyembuhkan luka itu.
Namun tidak ada seorang pun yang berhenti.
Veyth terus mencari.
Lunaris terus mencari.
Setiap buku yang mungkin berguna dibuka.
Setiap catatan kuno diperiksa.
Setiap teknik penyembuhan yang masih mungkin digunakan dicoba.
Mereka hanya membeli waktu.
Tetapi untuk sekarang...
waktu adalah satu-satunya hal yang mereka miliki.
***
Jauh di dalam kesadaran Fiona...
tidak ada suara para penyembuh.
Tidak ada aroma obat.
Tidak ada suara langkah kaki.
Tidak ada suara Darrien yang terus memanggil namanya dari dunia luar.
Hanya keheningan.
Dan sebuah taman.
Taman kristal yang dahulu sempat berubah.
Kini telah kembali seperti semula.
Kristal-kristal bening berdiri di antara rerumputan.
Cahaya lembut memantul dari permukaannya.
Istana kristal kembali berdiri di kejauhan.
Tidak ada lagi warna merah tua yang memenuhi tempat itu.
Tidak ada lagi retakan yang menyebar di seluruh langit kristal.
Bahkan kristal merah tua yang dahulu menyimpan ingatan Fiona tentang Darrien...
telah kembali menjadi kristal biasa.
Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Di tengah taman itu...
Fiona duduk sendirian.
Kedua lututnya ditarik mendekati dada.
Kedua lengannya memeluk tubuhnya sendiri.
Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah.
Matanya terbuka.
Namun pandangannya kosong.
Di sampingnya berdiri dua peri kecil.
Keduanya tidak mengatakan apa-apa.
Mereka hanya menemani.
Karena untuk pertama kalinya...
bahkan mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada Fiona.
Fiona mengangkat wajah.
Di hadapannya terdapat sebuah cermin kristal.
Permukaannya berkilau perlahan.
Cermin itu menunjukkan dunia di luar.
Dia bisa melihat ruangan penyembuhan Veyth.
Melihat para penyembuh bergerak tanpa henti.
Melihat Elarion dan Elyon membuka buku-buku tua.
Melihat Sylvester datang membawa catatan dari Lunaris.
Melihat King Zeith dan Queen Seraphine berada di sana.
Dan...
Darrien.
Darrien masih duduk di sisi ranjangnya.
Masih menggenggam tangannya.
Masih menunggunya.
Fiona menatapnya lama.
Sangat lama.
Bibirnya bergerak sedikit.
“Darrien...”
Suaranya begitu pelan hingga hampir tidak terdengar.
Salah satu peri kecil menatapnya.
Fiona menundukkan kepala lagi.
“Aku merindukannya.”
Kedua peri itu diam.
Fiona menarik napas.
Namun bahkan di dalam dunia pikirannya sendiri...
dadanya terasa berat.
Karena sekarang dia mengingat semuanya.
Bukan hanya Darrien.
Tetapi juga Raizen.
Dia mengingat bagaimana Raizen membawanya berjalan di taman.
Bagaimana dia tersenyum ketika melihat Fiona menikmati makanan.
Bagaimana mereka duduk bersama di dekat danau.
Bagaimana Raizen menyelimuti dirinya ketika malam menjadi dingin.
Bagaimana mereka menari di bawah bulan merah.
Bagaimana dia pernah merasa aman di dalam pelukan Raizen.
Bagaimana dia pernah mengatakan bahwa dia mencintainya.
Semua itu...
bukan mimpi.
Bukan kebohongan.
Bukan kenangan palsu dalam arti sederhana.
Itu adalah sesuatu yang benar-benar dia jalani.
Fiona menutup mata.
Air mata perlahan turun di pipinya.
“Aku tidak membencinya...”
Salah satu peri kecil menunduk.
Fiona memeluk dirinya lebih erat.
“Aku tidak bisa membencinya.”
Suara Fiona bergetar.
“Karena apa yang kami jalani juga nyata bagiku.”
Dia mengusap air matanya sendiri.
“Dia mencintaiku.”
Sebuah jeda.
“Dan aku juga pernah mencintainya.”
Kalimat itu terasa begitu berat untuk diucapkan.
Namun Fiona tidak menariknya kembali.
Dia membiarkannya tetap ada.
Karena itulah kenyataannya.
Kemudian pandangannya kembali menuju cermin kristal.
Darrien masih di sana.
Kepalanya sedikit tertunduk.
Tangannya masih menggenggam tangan Fiona.
Fiona dapat melihat bibirnya bergerak.
Meskipun suara dari dunia luar tidak benar-benar masuk ke dalam taman itu...
dia tahu apa yang dikatakannya.
Dia tahu Darrien sedang memintanya untuk bangun.
Memintanya untuk kembali.
Memintanya untuk tidak menyerah.
Fiona memejamkan mata.
“Aku tahu...”
Suaranya hampir seperti bisikan.
“Aku mendengarmu.”
Tangannya perlahan menyentuh dadanya sendiri.
Di dalam tubuhnya...
Pure Light masih ada.
Sangat besar.
Sangat murni.
Cahaya itu berdenyut perlahan.
Menunggu.
Jika Fiona menginginkannya...
dia bisa melepaskannya.
Dia bisa membiarkan Pure Light mengalir keluar.
Dia bisa mencoba menyembuhkan tubuhnya sendiri.
Tetapi...
Fiona tidak melakukannya.
Bukan karena dia tidak mampu.
Bukan karena Pure Light-nya menghilang.
Dia hanya...
tidak ingin melakukannya.
Untuk sementara.
“Aku ingin waktu.”
Kedua peri kecil menatapnya.
Fiona menatap taman di sekelilingnya.
“Aku hanya ingin sedikit waktu untuk diriku sendiri.”
Dia menundukkan kepala.
“Beberapa bulan terakhir... semuanya terjadi terlalu cepat.”
Darrien kembali muncul di cermin.
Wajahnya yang lelah.
Tangannya yang tidak pernah meninggalkan Fiona.
Fiona tersenyum kecil.
Senyum yang penuh kesedihan.
“Dulu aku hanya tahu satu hal.”
Dia menatap cermin.
“Aku mencintai Darrien.”
Kemudian bayangan Raizen muncul dalam ingatannya.
Taman mawar hitam.
Bulan merah.
Sebuah tarian.
Pelukan.
Danau.
Senyuman.
Fiona memejamkan mata.
“Lalu aku bertemu dengannya.”
Air mata kembali jatuh.
“Dan aku mencintainya juga.”
Tidak ada kebencian dalam suaranya.
Hanya kebingungan.
Dan rasa sakit.
“Apa yang sebenarnya terjadi padaku selama beberapa bulan itu?”
Pertanyaan itu menggantung di taman kristal.
Tidak ada yang menjawab.
Fiona mengangkat wajah.
Memandang istana kristal di kejauhan.
Kemudian melihat kedua peri kecil di sampingnya.
“Aku ingin mengingat semuanya.”
Dia menarik napas perlahan.
“Bukan hanya ingatan tentang Darrien.”
“Bukan hanya ingatan tentang Raizen.”
“Aku ingin memahami diriku sendiri.”
Peri kecil itu mendekat.
Salah satunya menyentuh tangan Fiona.
Fiona tersenyum tipis.
“Aku tidak ingin bangun hanya karena semua orang menyuruhku.”
Tatapannya kembali kepada Darrien di dalam cermin.
“Maaf.”
Suaranya bergetar.
“Aku tahu kau menungguku.”
Dia mengusap permukaan cermin.
“Aku tahu kau takut kehilangan aku lagi.”
Jarinya berhenti.
“Tapi...”
Fiona menundukkan kepala.
“Untuk kali ini... biarkan aku sendiri.”
Cermin itu perlahan meredup.
Fiona menarik tangannya.
Kemudian kembali duduk di tengah taman.
Memeluk dirinya sendiri.
Pure Light masih berdenyut di dalam tubuhnya.
Masih menunggu.
Masih mampu menyelamatkannya.
Namun Fiona belum siap menggunakannya.
Dia hanya ingin duduk.
Berpikir.
Mengingat.
Dan mencari jawaban atas satu pertanyaan yang selama ini tidak pernah sempat dia tanyakan.
**Siapa sebenarnya dirinya... setelah mencintai dua kehidupan yang berbeda?**
Di dunia luar...
detak jantung Fiona masih terdengar lemah.
*Dum...*
Jeda.
*Dum...*
Namun masih ada.
Dan untuk sekarang...
Fiona membiarkannya tetap begitu.
Karena sebelum dia kembali...
dia ingin menemukan jawabannya sendiri.
