Series
94
BAB 4
JANJI DI TEPI BATAS HUTAN
Dua tahun berlalu sejak hari mereka menemukan cahaya aneh di dalam diri Fiona.
Fiona kini berusia sembilan tahun, sementara Darrien telah menginjak sebelas tahun.
Mereka sudah jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Meski begitu, kebiasaan untuk saling menjaga tidak pernah berubah.
Kehidupan di Akasia masih berjalan sederhana. Bagi Fiona dan Darrien, kota kecil itu adalah satu-satunya rumah yang mereka kenal.
Pada suatu hari di musim panas, mereka berjalan lebih jauh dari biasanya, menuju tepi hutan tua yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita penduduk.
Orang-orang Akasia menyebutnya Hutan Perbatasan.
Konon, jauh di balik pepohonan lebatnya, terdapat wilayah yang jarang didatangi manusia. Tempat di mana makhluk-makhluk ajaib hidup dan berbagai hal aneh masih mungkin terjadi.
Namun Fiona tidak merasa takut.
Selama Darrien bersamanya, hutan sebesar apa pun terasa tidak terlalu menakutkan.
Mereka berhenti di bawah sebuah pohon raksasa dengan batang berwarna putih. Angin musim panas berembus perlahan, membawa aroma dedaunan dan suara gemerisik yang terdengar seperti bisikan.
Darrien mengamati sekeliling.
“Kau merasakannya juga, Fiona?”
Fiona mengangkat wajah.
“Seperti apa?”
“Entahlah…”
Darrien mengerutkan kening.
“Seolah-olah hutan ini mengenal kita.”
Fiona terdiam sejenak.
“Rasanya seperti pulang ke rumah yang belum pernah kukunjungi.”
Darrien menatapnya.
“Rumah?”
Fiona mengangguk.
“Udara di sini terasa berbeda. Lebih tenang.”
Sebelum Darrien sempat menjawab, sesuatu bergerak di antara pepohonan.
Sebuah bayangan ramping melintas dengan cepat.
Darrien langsung berdiri dan sedikit bergeser ke depan Fiona.
Di antara sela-sela pepohonan, mereka sempat melihat sepasang telinga yang sedikit lancip sebelum sosok itu menghilang kembali ke dalam hutan.
Fiona menatap dengan rasa ingin tahu.
“Itu…”
“Jangan mendekat,” ujar Darrien pelan.
Ia tidak tahu siapa makhluk itu dan tidak ingin mengambil risiko.
Namun tidak ada serangan.
Beberapa detik kemudian, sesuatu melayang turun dari atas pepohonan.
Sebuah daun berwarna perak berputar perlahan di udara sebelum jatuh tepat ke pangkuan Fiona.
Fiona terkejut.
Ia mengambilnya dengan hati-hati.
Daun itu terasa dingin di telapak tangannya, tetapi anehnya memberikan rasa nyaman. Permukaannya berkilau lembut meski tidak terkena cahaya matahari secara langsung.
“Indah sekali…”
Darrien memperhatikannya.
“Jangan dibuang.”
Fiona tersenyum.
“Mungkin ini hadiah.”
“Dari siapa?”
Fiona menoleh ke arah hutan.
“Mungkin dari teman yang tidak ingin menunjukkan wajahnya.”
Darrien tidak bisa menahan senyum kecil.
“Kalau begitu, simpan baik-baik.”
Fiona memasukkan daun perak itu ke dalam saku bajunya.
“Aku akan menjaganya.”
Sore mulai turun ketika mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota.
Sebelum meninggalkan batas hutan, Fiona berhenti.
Darrien ikut berhenti dan menoleh kepadanya.
“Kenapa?”
Fiona menatap hutan di belakang mereka, kemudian kembali memandang Darrien.
“Darrien…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti kita pergi jauh dari Akasia…”
Ia menggenggam ujung bajunya.
“Apakah kita akan tetap bersama?”
Darrien terdiam.
Pertanyaan sederhana itu membuat tatapannya berubah serius.
“Ke mana pun kita pergi,” katanya perlahan, “aku akan tetap bersamamu.”
Fiona tersenyum.
“Benarkah?”
“Benar.”
Darrien mengulurkan tangannya.
“Kalau suatu hari dunia mencoba memisahkan kita, kita akan mencari jalan untuk kembali.”
Fiona menggenggam tangannya.
“Kalau kau menghadapi badai, aku akan berdiri di sampingmu.”
Darrien tersenyum tipis.
“Kalau begitu, jangan pernah lepaskan tanganku.”
“Tidak akan.”
Di bawah cahaya matahari sore yang keemasan, dua anak itu kembali menuju Akasia dengan tangan yang masih saling menggenggam.
Mereka tidak tahu apa yang menunggu di luar kota kecil itu.
Untuk saat ini, Akasia masih menjadi rumah mereka.
Dan janji sederhana di tepi Hutan Perbatasan itu tetap menjadi milik mereka berdua.
Share this novel