Series
382
BAB 266 — HARI TERAKHIR
Pagi itu terasa berbeda.
Darrien berdiri di tengah arena latihan Veyth.
Tidak ada puluhan magical dummy seperti biasanya.
Tidak ada target yang bergerak.
Tidak ada jebakan yang terlihat.
Hanya sebuah arena kosong.
Dan Kevin.
Darrien memandang sekeliling.
“Di mana yang lainnya?”
Kevin berdiri beberapa meter di depannya.
“Tidak ada.”
Darrien mengerutkan kening.
“Tidak ada?”
“Tidak hari ini.”
Darrien semakin curiga.
“Jadi apa yang akan kita lakukan?”
Kevin tidak langsung menjawab.
Sebuah senyuman tipis muncul di sudut bibirnya.
Darrien langsung merasa tidak nyaman.
“…Jangan tersenyum seperti itu.”
Kevin mengabaikannya.
“Hari ini adalah hari terakhir latihan.”
Darrien terdiam.
Untuk beberapa detik—
ia bahkan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Terakhir?”
“Ya.”
Darrien menghela napas panjang.
“Tiga bulan…”
Ia menatap arena.
“Tiga bulan penuh.”
Kevin mengangguk.
“Dan hari ini kita akan melihat hasilnya.”
Darrien mengangkat alis.
“Ujian?”
“Simulasi.”
“Simulasi apa?”
Kevin tidak menjawab.
Ia hanya mengangkat tangannya.
Sebuah penghalang mulai terbentuk.
Lapisan demi lapisan.
Darrien memperhatikan.
Kemudian—
suasana di dalam arena berubah.
Udara menjadi lebih dingin.
Cahaya perlahan meredup.
Sebuah medan sihir terbentuk.
Darrien menyipitkan mata.
“Ini berbeda.”
Kevin mengangguk.
“Karena kali ini, kau tidak akan mengetahui mana yang nyata dan mana yang tidak.”
Darrien terdiam.
***
Beberapa detik kemudian—
sebuah sosok muncul di kejauhan.
Darrien langsung membeku.
“Fiona?”
Sosok itu memang Fiona.
Penampilannya.
Rambutnya.
Wajahnya.
Bahkan auranya.
Semuanya terasa begitu nyata.
Darrien menatap Kevin.
“Kau…”
Kevin tetap diam.
“Ini…”
Darrien menatap sosok Fiona lagi.
“…terlalu nyata.”
“Memang seharusnya begitu.”
Darrien menghela napas.
“Kalau begitu mulai.”
Kevin mengangguk.
Seketika—
arena berubah menjadi medan pertempuran.
Sosok-sosok musuh muncul dari segala arah.
Darrien langsung bergerak.
Tidak ada chant.
Dark mana mengalir ke tubuhnya.
Ia bergerak cepat.
Satu musuh jatuh.
Kemudian yang kedua.
Ketiga.
Keempat.
Darrien terus bergerak.
Napasnya stabil.
Indranya bekerja.
Ia membaca gerakan.
Menghindar.
Menyerang.
Menghemat mana.
Semuanya telah menjadi kebiasaan.
Kemudian—
sebuah suara terdengar.
“Darrien!”
Darrien menoleh.
Fiona.
Ia berdiri di kejauhan.
Salah satu musuh bergerak ke arahnya.
Mata Darrien langsung berubah.
Tubuhnya bergerak—
namun ia berhenti sepersekian detik.
Tarik napas.
Buang.
Jangan panik.
Ia mengamati.
Musuh berada tujuh langkah dari Fiona.
Dua lainnya berada di sisi kiri.
Satu berada di belakang.
Darrien menghitung semuanya dalam satu tarikan napas.
Kemudian—
bergerak.
**BOOM!**
Musuh pertama jatuh.
Darrien berputar.
**CRACK!**
Musuh kedua hancur.
Ia bergerak lagi.
Satu serangan.
Dua.
Tiga.
Tidak ada gerakan berlebihan.
Tidak ada ledakan liar.
Darrien berhasil mencapai Fiona.
Ia langsung berdiri di depannya.
“Jangan bergerak.”
Fiona mengangguk.
Darrien kembali menghadap musuh.
Namun—
salah satu musuh menyerang dari belakang.
Darrien memutar tubuh.
Dark mana muncul tanpa chant.
**CLANG!**
Serangan ditahan.
Kemudian—
Darrien membalas.
***
Pertempuran berlangsung semakin lama.
Namun simulasi terus berubah.
Musuh semakin cepat.
Jumlahnya semakin banyak.
Medan berubah.
Jarak berubah.
Bahkan posisi Fiona berubah.
Darrien harus terus menyesuaikan diri.
Namun kali ini—
ia tidak kehilangan kendali.
Ia tetap bernapas.
Tetap berpikir.
Tetap mengamati.
Tetap bertarung.
Sampai—
sebuah serangan menembus pertahanannya.
Darrien terlambat.
Sosok Fiona terkena serangan.
“FIONA!”
Darrien bergerak secepat kilat.
Ia menangkap tubuhnya sebelum jatuh.
Dan ketika ia melihat darah—
semuanya terasa nyata.
Terlalu nyata.
Tubuh dalam pelukannya terasa hangat.
Darah membasahi tangannya.
Fiona mengangkat wajah.
“Darrien…”
Suaranya lemah.
Mata Darrien bergetar.
Tidak.
Bukan lagi.
Bukan lagi pemandangan ini.
Ia merasakan sesuatu bergerak di dalam tubuhnya.
Dark mana mulai naik.
Lebih banyak.
Lebih cepat.
Matanya mulai kehilangan fokus.
Napasnya—
sempat berhenti.
Namun kemudian—
ia mengingat tiga bulan terakhir.
Kevin.
Latihan.
Pernapasan.
Kontrol.
Darrien menarik napas.
Panjang.
Dalam.
Kemudian mengembuskannya.
Sekali.
Dua kali.
Tangannya masih gemetar.
Namun pikirannya mulai jernih.
Ia menatap musuh.
Bukan dengan kemarahan liar.
Dengan kemarahan yang terarah.
Darrien berdiri.
Masih menggendong Fiona.
Dark mana perlahan naik dari tubuhnya.
Bukan meledak.
Tidak liar.
Ia bergerak seperti kabut hitam yang dikendalikan sepenuhnya.
Kevin yang berdiri di luar medan simulasi memperhatikan dalam diam.
Darrien mengangkat tangan.
Tidak ada chant.
Tidak ada mantra.
Dark magic terkumpul di telapak tangannya.
“Jangan sentuh dia lagi.”
Suaranya rendah.
Sangat tenang.
Musuh menyerang.
Darrien bergerak.
Satu langkah.
Satu serangan.
**BOOM!**
Musuh pertama hancur.
Darrien tidak berhenti.
Ia bergerak melewati medan.
Tidak ada gerakan sia-sia.
Tidak ada serangan berlebihan.
Semua serangannya diarahkan pada titik yang tepat.
Satu demi satu—
musuh jatuh.
Namun simulasi terus meningkatkan tekanan.
Sampai akhirnya—
sebuah serangan terbesar muncul.
Darrien mengangkat tangan.
Dark magic berkumpul.
Jumlahnya sangat besar.
Namun kali ini—
ia tidak kehilangan kendali.
Ia mengatur alirannya.
Memadatkannya.
Mengecilkan radiusnya.
Memusatkan kekuatan.
Kemudian—
melepaskannya.
**BOOOOOOM!**
Seluruh medan simulasi runtuh.
***
Hening.
Kemudian—
semuanya menghilang.
Medan perang lenyap.
Darah lenyap.
Musuh lenyap.
Dan Fiona—
menghilang dari pelukannya.
Darrien berdiri membeku.
Tangannya masih berada dalam posisi memeluk.
Ia melihat sekeliling.
Arena latihan kembali seperti semula.
Tidak ada darah.
Tidak ada musuh.
Tidak ada Fiona yang terluka.
Hanya Kevin.
Darrien menarik napas.
Perlahan.
Kemudian menunduk melihat kedua tangannya.
Masih gemetar sedikit.
Kevin berjalan mendekat.
Darrien menatapnya.
“Itu…”
“Simulasi.”
“Aku tahu.”
Darrien mengusap wajahnya.
“Tapi terasa nyata.”
Kevin mengangguk.
“Memang.”
Darrien diam.
Kemudian bertanya,
“Kenapa?”
Kevin berhenti di depannya.
“Karena aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan jika sesuatu yang paling kau takutkan benar-benar terjadi.”
Darrien menatapnya.
“Dan?”
Kevin melihat matanya.
“Kau marah.”
Darrien diam.
“Kau hampir kehilangan kesadaran.”
Darrien mengepalkan tangannya.
“Tapi…”
Kevin melanjutkan.
“…kau tetap mengendalikan dirimu.”
Darrien terdiam.
Kemudian perlahan—
ia tersenyum.
Tiga bulan.
Semua rasa sakit.
Semua kegagalan.
Semua latihan.
Semua kali ia jatuh dan harus berdiri lagi.
Ternyata—
semuanya memang memiliki tujuan.
Kevin berjalan melewatinya.
“Latihan selesai.”
Darrien menoleh.
“Benar-benar selesai?”
Kevin berhenti.
Kemudian—
senyuman kecil muncul di wajahnya.
“Ya.”
Darrien menghela napas lega.
Namun Kevin menambahkan,
“Setidaknya di Veyth.”
Darrien membeku.
“…Apa maksudmu?”
Kevin menatapnya sebentar.
“Lunaris.”
Darrien terdiam.
Nama itu terasa berbeda sekarang.
Perjalanan berikutnya sudah menunggu.
Dan untuk pertama kalinya—
Darrien tidak merasa takut.
Ia justru merasa siap.
Ia telah belajar bagaimana menggunakan kekuatannya.
Bagaimana mengendalikan emosinya.
Bagaimana bertarung tanpa membuang mana.
Bagaimana membaca musuh.
Bagaimana menggunakan dark magic tanpa chant.
Dan yang paling penting—
bagaimana tetap menjadi dirinya sendiri ketika rasa takut kehilangan seseorang hampir menguasai dirinya.
Darrien menarik napas.
Kemudian tersenyum.
“Kalau begitu…”
Ia menatap langit di luar arena.
“…ayo pergi ke Lunaris.”
Share this novel