196. Kabar Tentang Sang Pangeran

Romance Series 382

BAB 196
KABAR TENTANG SANG PANGERAN

Jauh dari wilayah Veyth—

di wilayah tempat dua klan berbeda hidup berdampingan dalam wilayah mereka masing-masing, sebuah kabar penting akhirnya tiba.

Kabar dari Kerajaan Veyth.

Pewaris kerajaan yang telah lama menghilang—

telah ditemukan.

Dan namanya adalah—

Darrien Veyth.

***

Di wilayah keluarga Ardika—

Surya Ardika baru saja menerima surat resmi tersebut.

Ia membaca isinya dengan tenang.

Namun semakin lama—

ekspresinya berubah.

Susanti yang duduk tidak jauh darinya memperhatikan.

“Ada apa?”

Surya tidak langsung menjawab.

Ia menyerahkan surat tersebut kepadanya.

Susanti membacanya.

Matanya perlahan membesar.

“Pangeran Veyth…?”

Lola yang berada di dekat mereka langsung menoleh.

“Pangeran?”

Marcus juga mendekat.

“Apa yang terjadi?”

Surya menarik napas panjang.

“Pewaris Veyth telah ditemukan.”

Ia berhenti sejenak.

“Dan…”

Tatapannya menjadi serius.

“Dia adalah pemuda yang pernah kita kejar.”

Ruangan langsung sunyi.

Lola membeku.

“Darrien…?”

Surya mengangguk.

Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.

Semua orang mulai mengingat kejadian-kejadian sebelumnya.

Pemuda yang mereka anggap sebagai ancaman.

Pemuda yang mereka kejar.

Dan—

Fiona.

Gadis yang hampir kehilangan nyawanya ketika mereka berhadapan dengan mereka.

Lola menundukkan kepalanya.

“Jadi…”

“Selama ini dia benar-benar seorang pangeran?”

Surya mengangguk perlahan.

“Ya.”

Marcus menghela napas.

“Kalau begitu…”

Ia terdiam.

Mereka semua mengingat satu kejadian yang sama.

Saat Darrien kehilangan kendali.

Saat auranya berubah.

Saat kekuatannya hampir menghabisi mereka.

Dan semua itu terjadi karena Fiona hampir terbunuh.

Susanti menatap suaminya.

“Kita hampir membunuh orang yang ternyata adalah pewaris Veyth.”

Surya tidak membantah.

“Dan kita hampir membunuh gadis yang bersamanya.”

Lola menggigit bibir.

“Kalau begitu…”

Ia menatap surat tersebut.

“…kita harus meminta maaf.”

Surya mengangguk.

“Itulah sebabnya kita akan menghadiri jamuan kerajaan.”

Marcus mengangkat alis.

“Jamuan yang diadakan untuk menyambut kembalinya sang pangeran?”

“Ya.”

Surya berdiri.

“Kita akan datang.”

“Dan kita tidak akan datang dengan tangan kosong.”

Susanti mengangguk.

“Kita harus membawa hadiah.”

Lola tersenyum kecil.

“Sebagai permintaan maaf?”

“Ya.”

Surya menatap mereka.

“Bukan hanya kepada sang pangeran.”

Ia berhenti.

“Juga kepada Fiona.”

Semua orang terdiam.

Mereka tahu—

permintaan maaf sederhana mungkin tidak cukup.

Namun setidaknya—

itu adalah awal.

***

Di wilayah Varian—

kabar yang sama juga tiba.

Keith Varian membaca surat tersebut.

Clara berdiri di dekatnya.

Clark juga berada di sana.

Keith membaca nama yang tertulis di dalam surat.

“Darrien Veyth.”

Clark mengerutkan kening.

“Darrien?”

Ia terdiam.

Kemudian ingatannya kembali pada pemuda yang pernah mereka kejar.

“Jangan bilang…”

Keith mengangguk.

“Ya.”

“Pemuda itu adalah Pangeran Veyth.”

Clark membelalakkan mata.

“Yang waktu itu?”

“Ya.”

Clara menutup mulutnya.

Ia juga mengingat kejadian tersebut.

Mereka mengejar pemuda itu.

Mereka berhadapan dengan Fiona.

Dan pada akhirnya—

Darrien hampir kehilangan kendali sepenuhnya.

Kekuatan yang keluar darinya saat itu membuat mereka semua menyadari bahwa pemuda tersebut bukanlah seseorang yang biasa.

Namun mereka tidak pernah menyangka—

bahwa ia adalah pewaris kerajaan.

Keith meletakkan surat tersebut.

“Kita akan menghadiri jamuan itu.”

Clark menatap ayahnya.

“Untuk apa?”

“Untuk menemui sang pangeran.”

Keith menjawab tenang.

“Dan untuk memberikan hadiah.”

Clara mengangguk.

“Sebagai permintaan maaf.”

Keith menatap mereka.

“Benar.”

Ia terdiam sebentar.

“Kita mungkin tidak mengetahui identitasnya saat itu.”

“Tetapi itu tidak mengubah apa yang terjadi.”

Clark menundukkan kepalanya.

“Dan Fiona…”

Clara mengangguk.

“Kita juga harus meminta maaf kepadanya.”

Keith berdiri.

“Persiapkan hadiah terbaik yang bisa kita bawa.”

“Jamuan itu adalah kesempatan untuk memperbaiki hubungan.”

***

Dua wilayah berbeda.

Dua keluarga berbeda.

Namun—

keduanya menerima kabar yang sama.

Pemuda yang pernah mereka kejar.

Pemuda yang pernah mereka anggap sebagai ancaman.

Pemuda yang hampir mereka bunuh—

ternyata adalah Pangeran Veyth.

Dan dalam waktu satu minggu—

mereka akan berdiri di hadapannya.

Bukan sebagai pemburu.

Bukan sebagai musuh.

Melainkan sebagai tamu kerajaan.

Dengan hadiah di tangan—

dan permintaan maaf yang belum mereka tahu apakah akan diterima.

Sementara itu—

di Istana Veyth,

Darrien sendiri bahkan belum mengetahui bahwa beberapa orang dari masa lalunya sedang mempersiapkan diri untuk datang menemuinya.

Dan Fiona?

Ia juga belum tahu siapa saja yang akan muncul di pesta tersebut.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience