Series
382
BAB 185
PAGI YANG TIDAK TENANG
Pagi akhirnya tiba di Istana Veyth.
Cahaya matahari masuk melalui jendela kristal, menerangi koridor kerajaan.
Namun sejak pagi—
Edward dan Gloria sudah memiliki tujuan.
Bukti terakhir.
Mereka berjalan menuju kamar Darrien bersama Kevin, Rowan, dan Ace yang ikut mengawal.
Tidak seorang pun tahu bahwa di balik pintu kamar itu—
sebuah kejadian kecil sedang berlangsung.
***
Tok.
Tok.
Darrien yang berada di dalam kamar menoleh.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Fiona muncul di ambang pintu.
“Darrien?”
“Hmm?”
Fiona melangkah masuk.
Namun baru beberapa langkah—
ia berhenti.
Tatapannya langsung tertuju kepada Darrien.
Ia belum mengenakan pakaian formal kerajaan.
Pakaian luarnya belum terpasang dengan sempurna.
Beberapa kancing masih terbuka.
Fiona langsung memalingkan wajah.
“Ah…”
Darrien mengangkat alis.
“Ada apa?”
“Kau belum berpakaian.”
“Aku sedang bersiap.”
Fiona menunjuk ke arah pintu.
“Kalau begitu aku tunggu di luar.”
Ia hendak berbalik.
Namun Darrien berkata,
“Tidak perlu.”
Fiona berhenti.
“Kau bisa tetap di sini.”
Fiona perlahan menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Darrien tersenyum kecil.
Fiona langsung memalingkan wajah lagi.
“Aku hanya ingin memastikan kau sudah merasa lebih baik.”
“Aku sudah.”
“Benarkah?”
“Benar.”
Darrien berjalan mendekatinya.
Fiona tidak menyadarinya pada awalnya.
Ia masih memikirkan apa yang ingin dikatakannya.
“Darrien…”
“Hm?”
Suaranya terdengar jauh lebih dekat.
Fiona perlahan menoleh.
Darrien sudah berdiri tepat di depannya.
Fiona membeku.
“Kau…”
“Aku?”
“Kenapa begitu dekat?”
Darrien tersenyum.
“Karena kau terus menghindariku.”
“Aku tidak menghindar.”
“Benarkah?”
Fiona hendak mundur.
Namun Darrien sudah lebih dulu mengangkat kedua tangannya.
Satu ujung jarinya menyentuh pipi Fiona dengan lembut.
Dan satu lagi sebagai penahan di belakang dinding di tempat Fiona sedang berdiri.
Fiona terdiam.
Sentuhan itu perlahan menyusuri pipinya.
Tidak terburu-buru.
Tidak memaksa.
Hanya lembut.
Fiona menatap matanya.
Wajahnya perlahan memerah.
“Darrien…”
“Hmm?”
“Kau sedang melakukan apa?”
“Menatap istriku.”
Fiona langsung semakin merah.
“Kau…”
Darrien tersenyum kecil.
“Kau lucu ketika malu.”
Fiona mengembungkan pipinya.
“Aku tidak malu.”
“Baik.”
Darrien mendekat sedikit.
“Kalau begitu jangan menghindar.”
Fiona tidak menjawab.
Namun kali ini—
ia tidak mundur.
Tangannya Fiona perlahan naik.
Salah satunya melingkari tubuh Darrien.
Yang lainnya bergerak ke belakang bahunya.
Jari-jarinya menggenggam kain pakaian Darrien.
Darrien menatapnya.
Fiona juga menatapnya.
Jarak mereka semakin dekat.
Fiona menutup matanya perlahan.
Darrien membungkuk sedikit.
Hampir—
hanya tinggal beberapa inci—
ketika tangan Fiona tanpa sadar menarik kain di belakang bahunya.
Kain itu bergeser.
Turun melewati lengannya.
Dan—
tanda kecil berbentuk sepasang sayap hitam di belakang bahu Darrien terlihat jelas.
Namun mereka berdua tidak menyadarinya.
Karena perhatian mereka masih tertuju satu sama lain.
Darrien menyentuh pipi Fiona sekali lagi.
Fiona tersenyum malu.
Kemudian—
**KREKKK.**
Pintu terbuka.
Darrien langsung kaget.
Fiona membeku.
Keduanya perlahan menoleh ke arah pintu kamar.
Ternyata, Raja Edward berdiri di ambang pintu.
Manakala, Ratu Gloria berada di sampingnya.
Kevin, Rowan, dan Ace berdiri di belakang mereka.
Hening.
Sangat hening.
Darrien menatap mereka.
Mereka menatap Darrien.
Fiona langsung menyembunyikan wajahnya di dada Darrien.
Kevin menundukkan kepala untuk menyembunyikan tawanya.
Rowan memalingkan wajah.
Ace pura-pura memperhatikan langit-langit.
Edward berkedip.
“…”
Darrien menghela napas.
“Ada apa?”
Edward berusaha mempertahankan wajah serius.
“Kami ingin berbicara denganmu.”
Darrien mengangguk.
“Baik.”
Gloria—
tidak menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada bahu Darrien.
Matanya membesar.
Tanda kecil berbentuk sepasang sayap hitam terlihat jelas di sana.
Gloria berhenti bernapas sesaat.
“Edward…”
Suaranya bergetar.
Edward menoleh.
“Ada apa?”
Gloria menunjuk bahu Darrien.
“Tanda itu…”
Darrien mengerutkan kening.
“Tanda?”
Ia menoleh sedikit.
Baru kemudian ia menyadari kain pakaiannya telah turun.
Fiona juga melihatnya.
“Oh…”
Wajahnya semakin merah.
Gloria melangkah maju.
Air mata mulai memenuhi matanya.
“Itu…”
Ia menatap tanda tersebut tanpa berkedip.
“Tidak mungkin salah.”
Edward akhirnya melihatnya dengan jelas.
Wajahnya berubah.
Gloria menyentuh dadanya.
“Sejak kecil…”
Suaranya bergetar.
“Anakku memiliki tanda yang sama.”
Ruangan kembali sunyi.
Darrien tidak bergerak.
Gloria menatapnya.
“Putraku…”
Untuk pertama kalinya—
kata itu terdengar bukan sebagai dugaan.
Melainkan sebagai sesuatu yang mulai terasa nyata.
Darrien menatap kedua orang tua itu.
Kemudian menatap tanda di bahunya sendiri.
Dan untuk sesaat—
bahkan ia tidak tahu harus berkata apa.
Sementara Fiona masih berdiri di dekatnya.
Tangannya masih menggenggam pakaian Darrien.
Dan wajahnya—
masih merah karena kejadian beberapa detik sebelumnya.
Edward menarik napas perlahan.
“Sepertinya…”
Ia menatap Gloria.
“…kita akhirnya menemukan bukti yang kita cari.”
Share this novel