Completed
594
BAB 401 — SANG RATU VAMPIRE
Tekanan aura Raizen masih memenuhi seluruh aula.
Tidak ada seorang pun yang mampu bergerak dengan bebas.
Udara terasa berat.
Terlalu berat.
Seolah-olah seluruh ruangan telah berubah menjadi lautan tak kasatmata yang menekan tubuh mereka dari segala arah.
Edward masih berlutut.
Satu tangannya menahan lantai batu.
Napasnya terdengar berat.
Ia mencoba mengangkat kepalanya.
Namun tekanan yang memenuhi tubuhnya membuat gerakan sederhana itu terasa seperti mengangkat gunung.
“Ghh…”
Edward menggertakkan giginya.
Ia tidak pernah menyangka—
hanya sebuah aura dapat membuat tubuhnya seperti ini.
Gloria berada tidak jauh darinya.
Ia juga telah berlutut.
Satu tangannya mencengkeram gaunnya.
Tangan lainnya menahan lantai.
“Edward…”
“Aku baik-baik saja.”
Edward menjawab dengan napas berat.
Namun Gloria tahu.
Suaminya sedang berusaha keras untuk tetap terlihat tenang.
***
Ace menahan tubuhnya dengan satu tangan.
Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
“Ini…”
Ia mencoba mengalirkan magicure ke seluruh tubuhnya.
Untuk memperkuat otot.
Untuk menahan tekanan.
Untuk setidaknya—
berdiri.
Namun begitu magicure-nya bergerak—
tekanan dari Raizen kembali meningkat.
Ace langsung menggertakkan giginya.
“Brengsek…”
Ia akhirnya jatuh pada satu lutut.
Batu di bawah lututnya retak.
Rowan berada tidak jauh darinya.
Ia mencoba melakukan hal yang sama.
Namun hasilnya tidak berbeda.
Magicure yang ia gunakan seolah tenggelam sebelum mencapai permukaan.
“Tekanan ini…”
Rowan menarik napas.
“Tidak normal.”
Ace meliriknya.
“Baru sadar?”
Rowan hampir tertawa.
Namun bahkan untuk bercanda pun—
napasnya terlalu berat.
***
Elyon masih berusaha bertahan.
Kedua tangannya mengepal.
Ia mengaktifkan magicure pelindung di sekitar tubuhnya.
Namun lapisan tersebut terus bergetar.
Retakan kecil mulai muncul pada lapisan magicure itu.
Elyon menyadarinya.
“Bahkan barrier-ku…”
Ia menatap Raizen.
“…tidak mampu menahannya.”
Elarion yang berada di dekatnya justru lebih tertarik pada sesuatu yang lain.
Ia mencoba memahami aura tersebut.
Menganalisisnya.
Mencari sumbernya.
Namun semakin ia mencoba—
semakin tidak masuk akal hasil yang ia dapatkan.
Tidak ada pusat magicure.
Tidak ada aliran yang jelas.
Tidak ada pola.
“Ini bukan sekadar tekanan…”
Elarion bergumam.
Elyon menoleh.
“Apa maksudmu?”
Elarion menarik napas.
“Aku tidak tahu.”
Untuk pertama kalinya—
jawaban itu keluar begitu saja darinya.
“Aku benar-benar tidak tahu.”
***
Kevin—
masih berlutut.
Namun ia tidak terlihat panik.
Matanya justru terus mengamati Raizen.
Ia tidak mencoba melawan.
Tidak lagi.
Ia sedang membaca.
Mencari.
Menunggu.
Namun tidak ada yang bisa ditemukan.
Kevin mengerutkan kening.
*Tidak ada titik pusat.*
Ia mencoba lagi.
*Tidak ada aliran.*
Sekali lagi.
*Tidak ada pola.*
Kevin akhirnya menyadari sesuatu yang membuatnya semakin serius.
Raizen bahkan tidak perlu menyerang mereka.
Ini hanya—
**kehadirannya.**
Kevin menurunkan pandangan sebentar.
Kemudian menghela napas.
“…”
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Namun di dalam pikirannya—
sebuah kesimpulan telah terbentuk.
*Monster.*
Bukan karena wajahnya.
Bukan karena statusnya sebagai Raja Vampire.
Tetapi karena kekuatannya berada di luar apa yang dapat ia ukur.
***
Darrien—
masih bertahan.
Satu lututnya hampir menyentuh lantai.
Namun ia menolak.
Tangannya mengepal.
Napasnya semakin berat.
Keringat membasahi dahinya.
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya.
Sedikit.
Hanya sedikit.
Namun tekanan itu segera menekan kembali.
Darrien menggertakkan gigi.
“Fiona…”
Ia menoleh.
Fiona masih berada di sampingnya.
Namun wajahnya terlihat pucat.
Napasnya juga mulai berat.
Darrien langsung bergerak lebih dekat.
“Jangan paksa dirimu.”
Fiona mengangguk kecil.
“Aku masih bisa bertahan.”
Darrien mengamati wajahnya.
Ia tahu Fiona sedang berbohong.
Namun sebelum ia dapat mengatakan sesuatu—
Fiona perlahan mengulurkan tangannya.
Jari-jarinya menyentuh lantai.
Darrien langsung menoleh.
“Fiona?”
Fiona menutup matanya.
“Aku akan mencoba sesuatu.”
“Jangan.”
“Aku harus.”
“Fiona—”
Cahaya putih keperakan tiba-tiba muncul.
Darrien terdiam.
***
Sebuah lingkaran sihir terbentuk di bawah telapak tangan Fiona.
Satu pola daun.
Kemudian dua.
Kemudian puluhan.
Cahaya silver-white menyebar ke seluruh lantai.
**Silver Leaf Magic Circle.**
**FWOOSH—!**
Pure Light Magic meledak keluar.
Namun bukan seperti ledakan.
Cahaya itu menyebar perlahan—
menyentuh seluruh anggota kelompok.
Kemudian—
menembus tekanan gelap Raizen.
Aura yang memenuhi aula mulai bergetar.
Untuk pertama kalinya—
tekanan tersebut terdorong mundur.
Cahaya Fiona terus berkembang.
Daun-daun bercahaya berputar di udara.
Kemudian—
tekanan yang membuat mereka hampir tidak mampu bernapas akhirnya terpecah.
**BOOM—!**
Udara kembali bergerak.
Edward langsung menarik napas dalam.
Gloria menutup mulutnya.
Ace menundukkan kepala.
Rowan menarik napas panjang.
Elyon memegang dadanya.
Elarion terdiam.
Kevin perlahan mengangkat wajahnya.
Darrien langsung berbalik kepada Fiona.
Namun—
Fiona terlihat lemas.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Darrien langsung menangkapnya.
“Fiona!”
Fiona bersandar pada dada Darrien.
Napasnya pendek.
“Aku…”
Ia mencoba tersenyum.
“Baik-baik saja.”
Darrien memegang bahunya.
“Kau yakin?”
Fiona mengangguk.
“Sedikit lelah saja.”
Darrien menghela napas.
“Jangan lakukan itu tanpa memberitahuku.”
Fiona menatapnya.
“Kalau aku tidak melakukannya…”
Ia melihat anggota kelompok lainnya.
“…kita semua masih berlutut.”
Darrien terdiam.
Ia tidak dapat membantah.
Akhirnya—
ia menghela napas pelan.
“Terima kasih.”
Fiona tersenyum kecil.
“Sama-sama.”
***
Namun—
ada seseorang yang sejak tadi tidak mengatakan apa pun.
Raizen.
Tatapannya masih tertuju kepada Fiona.
Pure Light Magic.
Begitu murni.
Begitu bersih.
Dan yang paling menarik—
magicure itu mampu menembus auranya.
Raizen tidak pernah mengira seseorang dari luar klannya mampu melakukan itu.
Tatapannya sedikit berubah.
Bukan marah.
Bukan terkejut.
Melainkan—
**tertarik.**
Mufasa yang berdiri di dekat singgasana menyadari perubahan kecil tersebut.
Ia menoleh kepada Raizen.
Kemudian kepada Fiona.
Mufasa tahu.
Ini bukan lagi sekadar masalah Koga dan Kaguya.
Perhatian Tuannya telah berubah.
***
Raizen akhirnya berbicara.
Suaranya dalam.
Tenang.
“Impressive magicure you have.”
Semua orang langsung menoleh.
Fiona sedikit mengangkat kepalanya.
Edward memperhatikan Raizen.
Ace mengerutkan kening.
Rowan diam.
Kevin menyipitkan mata.
Namun Darrien—
langsung berubah.
Tubuhnya secara naluriah bergerak sedikit lebih maju.
Ia berdiri di antara Raizen dan Fiona.
Tatapannya tajam.
“Apa yang kau inginkan?”
Raizen menatap Darrien.
Tidak ada perubahan ekspresi.
“Awalnya…”
Ia berhenti.
“Aku menginginkan nyawa kalian berdua.”
Fiona terdiam.
Darrien menggertakkan gigi.
Raizen melanjutkan.
“Namun sekarang…”
Tatapannya berpindah kepada Fiona.
“…aku berubah pikiran.”
Darrien tidak menyukai kalimat itu.
“Apa maksudmu?”
Raizen tidak menjawab.
Tangannya hanya terangkat perlahan.
***
Fiona tiba-tiba merasakan sesuatu di kedua pergelangan tangannya.
“Eh—?”
Dua garis magicure hitam muncul.
Kemudian membentuk segel.
**CLINK.**
Fiona tersentak.
Magicure-nya langsung terputus.
Matanya melebar.
“Apa…?”
Ia mencoba memanggil pure light.
Tidak ada.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada respons.
Fiona menatap kedua tangannya.
“Aku tidak bisa menggunakan magicure-ku…”
Darrien langsung bergerak.
“Fiona!”
Namun sebelum Darrien dapat menyentuhnya—
tubuh Fiona tiba-tiba terangkat.
“Aah—!”
**FWOOSH!**
Fiona menghilang dari sisi Darrien.
Dalam sekejap—
ia telah berada di sisi Raizen.
Tubuhnya melayang beberapa inci di atas lantai.
Kedua kakinya tidak menyentuh tanah.
Raizen berdiri di sampingnya.
Fiona mencoba bergerak.
Tidak bisa.
Ia menoleh tajam.
“Darrien!”
Darrien membeku selama sepersekian detik.
Kemudian—
“FIONA!”
Ia langsung mencoba berdiri.
Seluruh tubuhnya menolak tekanan yang tersisa.
Namun ia memaksanya.
Satu kaki.
Kemudian satu lagi.
Darrien berhasil berdiri setengah.
Namun—
**BOOM!**
Sebuah barrier gelap muncul.
Dinding transparan terbentuk di antara Raizen dan mereka.
Darrien menghantamnya dengan telapak tangan.
“Raizen!”
Barrier tidak bergerak.
Darrien kembali memukulnya.
“Lepaskan dia!”
Fiona menatap Darrien.
“Darrien!”
Ia mencoba bergerak ke arahnya.
Namun segel di pergelangan tangannya membuat tubuhnya tidak dapat bergerak bebas.
Raizen akhirnya mengangkat tangannya.
Satu tangan melingkar di pinggang Fiona.
Fiona langsung menegang.
“Jangan sentuh aku!”
Raizen tidak menjawab.
Tatapannya justru tertuju pada Fiona.
Lebih tepatnya—
kepada magicure yang tersegel di tubuhnya.
Seolah-olah ia sedang mempelajari sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Fiona menatapnya dengan marah.
“Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?”
Raizen tetap diam.
Kemudian—
ia menatap mata Fiona.
Tidak ada senyum.
Tidak ada kelembutan.
Hanya ketertarikan yang tenang dan sulit dipahami.
Akhirnya—
ia berkata,
“Dia akan menjadi Ratu Vampire di kerajaanku.”
***
Hening.
Benar-benar hening.
Darrien membeku.
Edward menatap Raizen.
Gloria bahkan lupa bernapas selama beberapa detik.
Ace membuka mulut.
Kemudian menutupnya kembali.
Rowan menatap Fiona.
Elyon mengerutkan kening.
Elarion terdiam.
Kevin—
akhirnya mengangkat alis.
Mufasa sendiri menatap Raizen.
Bahkan dirinya tidak menyangka keputusan Rajanya itu akan keluar begitu cepat.
Fiona menatap Raizen dengan mata yang perlahan melebar.
Kemudian—
kemarahan memenuhi wajahnya.
“Apa?”
Raizen tetap tenang.
Fiona menggertakkan giginya.
“Aku tidak akan menjadi apa pun milikmu.”
Tatapan Raizen tetap dingin.
“Aku tidak meminta persetujuanmu.”
Darrien langsung mengamuk.
"Raizen!”
Ia menghantam barrier lagi.
“Jangan sentuh dia!”
Barrier tetap tidak bergerak.
Darrien mencoba menggunakan magicure.
Tidak cukup.
Ia mencoba lagi.
Tetap gagal.
“Lepaskan Fiona!”
Raizen tidak melihat ke arahnya.
Perhatiannya hanya tertuju pada Fiona.
***
Fiona mulai merasakan air mata menggenang di sudut matanya.
Bukan karena takut.
Bukan karena menyerah.
Ia marah.
Sangat marah.
Ia menatap Raizen.
“Darrien akan datang.”
Raizen akhirnya menoleh sedikit.
Fiona melanjutkan,
“Dan dia akan membawaku kembali.”
Raizen hanya diam.
Seolah kata-kata itu tidak mengganggunya sama sekali.
Kemudian—
ia mengangkat tangannya.
**FWOOSH!**
Cahaya gelap menyelimuti seluruh kelompok Veyth.
Edward langsung menyadarinya.
“Tidak!”
Gloria meraih tangan Edward.
“Edward!”
Ace mencoba berdiri.
Rowan meraih Elyon.
Kevin mencoba menahan tubuhnya.
Darrien langsung berusaha menghancurkan barrier.
“FIONA!”
Fiona juga mencoba menjangkau Darrien.
“DARRIEN!”
Jarak mereka hanya beberapa meter.
Namun barrier itu membuatnya terasa seperti berada di dunia yang berbeda.
Darrien mengulurkan tangannya.
Fiona juga mengulurkan tangannya.
Ujung jari mereka hampir—
hampir bertemu.
Namun—
**FWOOSH!**
Seluruh kelompok Veyth lenyap dari Shadowcresent.
***
**BOOM!**
Mereka jatuh kembali di ruang kerja Kerajaan Veyth.
Edward segera bangkit.
“FIONA!”
Darrien berbalik.
Matanya langsung mencari.
Tidak ada.
Tidak ada Fiona.
Tidak ada Raizen.
Tidak ada Mufasa.
Hanya mereka.
Darrien berdiri diam.
Wajahnya kosong selama beberapa detik.
Kemudian—
tangannya mengepal begitu kuat hingga kukunya menusuk telapak tangannya.
“Fiona…”
Gloria menatap Darrien.
“Darrien…”
Darrien tidak menjawab.
Tatapannya berubah.
Marah.
Takut.
Dan untuk pertama kalinya—
benar-benar panik.
***
Kembali di Shadowcresent—
aula utama kembali sunyi.
Raizen masih berdiri di tengah aula.
Fiona masih berada di sisinya.
Kedua pergelangan tangannya masih tersegel.
Mufasa berdiri jauh di belakang.
Tidak berani mengatakan apa pun.
Fiona mengangkat wajahnya.
Air mata masih menggenang di sudut matanya.
Namun tatapannya—
penuh kemarahan.
Raizen memperhatikannya.
Kemudian—
senyum kecil muncul di wajahnya.
Bukan senyum lembut.
Bukan senyum penuh kasih.
Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat menarik.
Ia menatap Fiona.
“Sekarang…”
Tangannya masih berada di pinggang Fiona.
“…hanya tersisa kita berdua.”
Fiona menatapnya tajam.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki Shadowcresent—
Raizen tersenyum.
Malam di kerajaan Vampire itu—
baru saja dimulai.
Share this novel