428. Istana Shadowcresent

Romance Completed 594

BAB 428 — ISTANA SHADOWCRESENT

Sementara Veyth masih sibuk dengan penelitian mereka—

Shadowcresent menikmati ketenangan.

Raizen berjalan perlahan menyusuri koridor istananya.

Namun kali ini—

ia tidak berjalan sendirian.

Tangannya menggenggam tangan Fiona.

Fiona berjalan di sampingnya, sesekali menoleh ke kiri dan kanan dengan rasa ingin tahu.

“Jadi…”

Ia melihat deretan pintu tinggi yang mereka lewati.

“Selama ini aku hanya melihat kamarmu dan taman.”

Raizen menoleh kepadanya.

“Karena kau belum pernah berkeliling.”

Fiona tersenyum kecil.

“Berarti hari ini kau menjadi pemanduku?”

“Jika kau mau.”

“Aku mau.”

Raizen mempererat genggaman tangannya.

“Kalau begitu, ikuti aku.”

***

Koridor utama Shadowcresent berbeda dari istana Veyth maupun Lunaris.

Dindingnya terbuat dari batu hitam yang halus, dihiasi ukiran kuno yang telah bertahan selama ribuan tahun.

Pilar-pilar tinggi berdiri di sepanjang lorong.

Lampu-lampu crimson menyala lembut di antara ukiran tersebut, memberikan cahaya redup yang membuat seluruh istana terasa tenang dan misterius.

Fiona memperhatikan hampir semuanya.

“Berapa lama istana ini sudah berdiri?”

“Lebih lama dari yang bisa kau bayangkan.”

Fiona langsung menoleh.

“Itu bukan jawaban.”

Raizen tersenyum tipis.

“Memang.”

Fiona mendengus.

“Raja yang buruk sebagai pemandu.”

“Aku belum selesai.”

Raizen menarik tangannya perlahan.

Mereka terus berjalan.

***

Beberapa saat kemudian—

mereka tiba di sebuah balkon besar.

Pintu tinggi di belakang mereka tertutup perlahan.

Fiona berhenti.

Di hadapannya terbentang pemandangan Shadowcresent.

Pegunungan gelap berdiri jauh di kejauhan.

Hutan tua menutupi lereng.

Kabut tipis bergerak perlahan di antara lembah.

Dan di atas mereka—

langit sore mulai berubah warna.

Cahaya matahari masih menyentuh puncak pegunungan.

Fiona terdiam.

“Wow…”

Raizen berdiri di sampingnya.

“Indah?”

“Ya.”

Fiona menatap pemandangan tersebut lebih lama.

“Dari sini semuanya terlihat berbeda.”

“Ini salah satu tempat favoritku.”

Fiona menoleh.

“Selain taman?”

“Selain taman.”

Fiona tersenyum.

“Berarti kau punya banyak tempat favorit.”

“Tidak banyak.”

Raizen kembali melihat pemandangan.

“Hanya tempat-tempat yang tidak berisik.”

Fiona tertawa kecil.

“Kalau begitu aku pasti merusak ketenanganmu.”

Raizen menoleh.

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Fiona berkedip.

Raizen hanya tersenyum tipis.

“Sekarang aku tidak keberatan dengan suara.”

Fiona menatapnya beberapa detik.

Kemudian tersenyum malu-malu.

***

Mereka melanjutkan perjalanan.

Raizen menunjukkan sebuah aula tua.

Ruang musik.

Perpustakaan pribadinya.

Lorong menuju menara.

Dan beberapa ruangan yang telah lama tidak digunakan.

Fiona terus bertanya.

“Ini apa?”

“Ruang pertemuan.”

“Yang itu?”

“Ruang penyimpanan.”

“Kalau yang itu?”

Raizen berhenti di depan sebuah pintu besar.

“Jangan masuk.”

Fiona langsung ikut berhenti.

“Kenapa?”

“Karena tidak ada yang menarik di sana.”

Fiona menyipitkan mata.

“Justru karena kau bilang begitu, aku jadi penasaran.”

Raizen menatapnya.

“Fiona.”

“Apa?”

“Jangan.”

Fiona akhirnya menyerah.

“Baiklah.”

Namun ekspresinya jelas mengatakan bahwa rasa penasarannya belum hilang.

Raizen hanya menggeleng kecil.

***

Waktu terus berlalu.

Fiona tidak menyadari bahwa mereka telah berjalan cukup jauh.

Setiap kali ia menemukan sesuatu yang menarik, ia akan berhenti.

Dan setiap kali itu pula—

Raizen menunggunya.

Ia tidak pernah menarik Fiona dengan paksa.

Tidak pernah menyuruhnya terburu-buru.

Ia hanya berdiri di sampingnya sampai Fiona selesai melihat sesuatu.

Akhirnya Fiona menyadarinya.

“Kau selalu menungguku.”

“Ya.”

“Kenapa?”

Raizen menatapnya.

“Karena kau selalu berhenti.”

Fiona tertawa.

“Benar juga.”

Ia menggenggam tangan Raizen sedikit lebih erat.

“Kalau begitu jangan berjalan terlalu cepat.”

Raizen mengangguk.

“Aku tidak akan.”

***

Mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan besar dengan jendela-jendela tinggi.

Cahaya sore masuk melalui kaca gelap.

Fiona berdiri di tengah ruangan.

“Tempat ini…”

“Dulu digunakan untuk pesta.”

Fiona menoleh.

“Pesta?”

Raizen mengangguk.

“Dulu.”

“Sekarang?”

“Tidak pernah.”

Fiona melihat ruangan luas tersebut.

Kemudian menatap Raizen.

“Sayang sekali.”

Raizen mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Tempat sebesar ini terlalu sunyi.”

Ia tersenyum.

“Kita bisa menggunakannya nanti.”

Raizen terdiam.

“Kita?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Ia menarik tangan Raizen.

“Kenapa kau terlihat kaget?”

Raizen menatap tangan mereka yang masih saling menggenggam.

Kemudian melihat wajah Fiona.

“Tidak.”

Senyum kecil muncul di wajahnya.

“Aku hanya tidak terbiasa mendengar seseorang mengatakan ‘kita’ di istana ini.”

Fiona tersenyum.

***

Ketika mereka keluar dari ruangan tersebut—

cahaya sore mulai semakin redup.

Matahari perlahan turun di balik pegunungan.

Bayangan panjang mulai memenuhi halaman istana.

Fiona melihat ke luar jendela.

“Sudah sore?”

“Sudah.”

Raizen menatapnya.

“Kita bisa kembali ke taman jika kau mau.”

Fiona langsung mengangguk.

“Mau.”

Mereka berjalan kembali.

Tangan mereka masih saling menggenggam.

***

Saat mereka tiba di taman—

matahari hampir sepenuhnya menghilang.

Cahaya terakhir menyentuh ujung pepohonan.

Fiona berhenti di dekat air mancur.

Ia menatap langit.

Perlahan—

warna sore menghilang.

Kegelapan malam mulai mengambil tempatnya.

Raizen berdiri di sampingnya.

Beberapa saat kemudian—

bulan crimson muncul di balik awan.

Cahayanya jatuh lembut ke taman.

Fiona tersenyum.

“Sekarang benar-benar indah.”

Raizen menatap bulan sebentar.

Kemudian menatap Fiona.

“Ya.”

Fiona menoleh.

“Kau membicarakan bulan lagi?”

Raizen tersenyum tipis.

“Tidak kali ini.”

Fiona langsung terdiam.

Pipinya perlahan memerah.

“Raizen…”

Ia tertawa kecil.

Raizen menggenggam tangannya.

“Ayo.”

“Ke mana?”

“Duduk.”

Mereka berjalan menuju bangku di dekat air mancur.

Dan malam Shadowcresent kembali menjadi tenang.

Namun kali ini—

Raizen tidak duduk sendirian.

Fiona berada di sisinya.

Tangannya masih berada di dalam genggaman Raizen.

Dan untuk seseorang yang telah hidup ribuan tahun dalam kesunyian—

kehadiran sederhana itu ternyata sudah cukup untuk membuat istananya terasa berbeda.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience