Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 217
MONSTER YANG TIDAK KENAL AMPUN
Pertarungan antara Darrien dan Kevin terus berlanjut.
Tidak ada lagi magical dummy.
Tidak ada gangguan.
Hanya mereka berdua.
Darrien sudah menggunakan hampir seluruh tenaganya.
Napasnya berat.
Tubuhnya terasa semakin sulit digerakkan.
Namun Kevin masih berdiri tegak.
Bahkan—
napasnya hampir tidak berubah.
Darrien menatapnya dengan tidak percaya.
“…”
“Bagaimana kau masih terlihat seperti itu?”
Kevin tersenyum.
“Seperti apa?”
“Seperti belum bertarung sama sekali.”
Kevin tertawa kecil.
“Pengalaman.”
Darrien menghela napas.
“Monster.”
Kevin mengangkat alis.
“Aku dengar itu.”
“Memang sengaja.”
Kevin tertawa.
Kemudian kembali mengambil posisi.
Darrien mengertakkan gigi.
Ia tidak tahu dari mana lagi harus mengambil tenaga.
Namun ia masih berdiri.
Masih bisa bergerak.
Masih bisa bertarung.
Dan itu sudah cukup.
Kevin bergerak lebih dulu.
Darrien langsung menghindar.
Serangan kedua datang.
Darrien menangkis.
Serangan ketiga—
Darrien memutar tubuh dan menyerang balik.
**BAM!**
Kevin mundur satu langkah.
Darrien terengah.
Namun matanya berbinar.
“Aku bisa.”
Kevin tersenyum.
“Bagus.”
Darrien kembali maju.
Dark Magic meledak dari tubuhnya.
Ia menggunakan seluruh sisa kekuatannya.
Satu serangan.
Dua.
Tiga.
Kevin menahan semuanya.
Namun kali ini—
Darrien tidak menyerang secara langsung.
Ia menunggu.
Mengamati.
Mengingat semua yang diajarkan Kevin.
Kemudian—
bergerak.
Darrien memanfaatkan satu celah kecil.
Tubuhnya melesat.
Tangannya hampir mengenai Kevin.
Namun Kevin memutar tubuh.
Serangan itu hanya menyentuh bahunya.
Kevin tersenyum.
“Bagus.”
Darrien tidak berhenti.
Ia berbalik dan menyerang lagi.
Kevin menangkis.
**BOOM!**
Gelombang energi memenuhi arena.
Barrier bergetar.
Darrien terdorong jauh.
Kakinya hampir kehilangan keseimbangan.
Namun ia tetap berdiri.
Kevin menatapnya beberapa detik.
Kemudian—
ia menurunkan tangannya.
“Cukup.”
Darrien terdiam.
“Sudah?”
“Ya.”
Darrien mencoba menarik napas panjang.
Namun paru-parunya terasa seperti tidak mendapatkan cukup udara.
Ia menunduk.
Napasnya semakin berat.
“Haah…”
Ia mencoba berdiri tegak.
Namun lututnya kehilangan kekuatan.
Tubuhnya jatuh ke tanah.
**THUD.**
Darrien berbaring di atas permukaan arena.
Dadanya naik turun dengan cepat.
“Haah…”
Ia mencoba menarik napas lagi.
Namun hanya udara pendek yang masuk.
“Haah… haah…”
Fiona yang berada di luar barrier langsung berdiri.
“Darrien!”
Elarion menahannya.
“Tenang.”
“Dia hanya kelelahan.”
Fiona tetap memperhatikan dengan cemas.
Barrier perlahan menghilang.
Kevin berjalan mendekat.
Ia berdiri di samping Darrien.
“Masih hidup?”
Darrien membuka mata sedikit.
“Sayangnya…”
Kevin tertawa.
“Bagus.”
Darrien menatapnya dengan lemah.
“Kau…”
Ia berhenti untuk menarik napas.
“…benar-benar monster.”
Kevin menyilangkan tangan.
“Kalau aku monster…”
Darrien menatapnya.
Kevin tersenyum.
“…berarti kau harus menjadi lebih kuat dari monster.”
Darrien hanya mampu menghela napas.
Ia bahkan tidak punya tenaga untuk membalas.
Fiona akhirnya menghampiri.
Ia berlutut di samping Darrien.
“Kau baik-baik saja?”
Darrien mencoba menjawab.
Namun yang keluar hanya napas berat.
“Beri aku…”
Ia berhenti.
“...udara.”
Fiona terdiam.
Kemudian tertawa kecil.
“Kau masih bisa bercanda?”
Darrien menutup matanya.
“Aku serius…”
Elarion ikut tertawa.
Rowan dan Ace yang melihat dari kejauhan juga tidak bisa menahan tawa.
Sementara Kevin—
masih berdiri dengan santai.
Seolah-olah pertarungan panjang tadi bukan apa-apa.
Darrien membuka satu mata.
Melihat Kevin.
Kemudian menghela napas.
“Besok…”
Ia menarik napas lagi.
“…aku tidak mau melihat wajahmu.”
Kevin tersenyum.
“Besok jam yang sama.”
Mata Darrien langsung terbuka.
“…”
Fiona menutup mulutnya.
Elarion menoleh ke arah lain.
Rowan dan Ace tertawa.
Dan Kevin—
akhirnya terlihat benar-benar puas.
Hari ketiga latihan telah berakhir.
Darrien hampir kehabisan napas.
Kevin masih berdiri seperti tidak terjadi apa-apa.
Dan satu hal menjadi semakin jelas—
**monster itu belum selesai.**
