315. Lima Saksi

Romance Series 382

BAB 315 — LIMA SAKSI

Crystal Garden tetap tenang.

Fiona dan Darrien masih berada di bawah pohon.

Tidak ada yang mengganggu mereka.

Setelah percakapan tadi—

keduanya hanya duduk berdampingan.

Sesekali berbicara.

Sesekali tertawa kecil.

Dan sesekali—

diam.

Namun tidak jauh dari sana…

lima orang sedang berdiri di balik pepohonan.

Ace.

Rowan.

Kevin.

Elyon.

Elarion.

Kelima orang itu menatap pasangan tersebut dari kejauhan.

Tidak ada seorang pun yang bergerak.

Tidak ada seorang pun yang berani mendekat.

Ace akhirnya berbisik,

“Jadi…”

Tidak ada jawaban.

Ia menoleh kepada yang lain.

“Kita memang tidak boleh mengganggu mereka?”

Elyon menjawab tanpa mengalihkan pandangan.

“Menurutku, jangan.”

Rowan mengangguk.

“Aku setuju.”

Kevin menyilangkan tangan.

“Biarkan saja.”

Ace memandang mereka satu per satu.

“Kalian semua takut?”

Elarion langsung menjawab,

“Bukan takut.”

Ace mengangkat alis.

“Lalu?”

“Kita hanya…”

Elarion berhenti sejenak.

“…menghargai privasi.”

Rowan menahan tawa.

“Alasan yang bagus.”

Elyon menghela napas.

“Lagipula Fiona baru saja sadar setelah tujuh hari.”

Ace mengangguk.

“Benar.”

Ia kembali melihat ke arah Fiona.

“Jadi mereka memang perlu waktu.”

Kelima orang itu kembali diam.

***

Beberapa detik kemudian—

Ace berbisik lagi.

“Berapa lama kita harus berdiri di sini?”

Kevin menjawab datar,

“Sampai mereka selesai.”

Ace menatapnya.

“Dan kalau mereka tidak selesai?”

Kevin menoleh.

“Pulang.”

Ace terdiam.

“…Masuk akal.”

Rowan mulai tertawa pelan.

Elyon menatapnya.

“Jangan tertawa.”

“Kenapa?”

“Kita terlihat seperti lima penguntit.”

Ace langsung melihat sekeliling.

“…Kita memang terlihat seperti lima penguntit.”

Elarion menghela napas.

“Jangan keras-keras.”

Mereka kembali diam.

***

Di bawah pohon—

Fiona tiba-tiba menoleh.

“Apa kau mendengar sesuatu?”

Darrien menggeleng.

“Tidak.”

Fiona menyipitkan mata.

Seperti merasa ada sesuatu.

Namun kemudian—

seekor peri kecil terbang melewati wajahnya.

Fiona tertawa.

“Ah.”

Ia kembali melihat taman.

Darrien memperhatikannya.

“Kau terlihat lebih baik.”

Fiona tersenyum.

“Aku merasa lebih baik.”

“Bagus.”

Fiona menatapnya.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Sudah menungguku.”

Darrien hanya tersenyum.

“Aku sudah bilang.”

Fiona menunduk.

“Aku tahu.”

***

Di kejauhan—

Ace menatap keduanya.

Kemudian menoleh kepada Rowan.

“Mereka mulai lagi.”

Rowan mengangguk.

“Biarkan.”

Ace melihat Kevin.

“Tidak mau pergi?”

“Tidak.”

Elyon ikut berkata,

“Jangan.”

Elarion mengangguk.

“Jangan ganggu.”

Ace menghela napas.

“Baiklah.”

Ia kemudian duduk di bawah pohon lain.

Rowan ikut duduk.

Kevin bersandar pada batang pohon.

Elyon berdiri dengan tenang.

Elarion membuka bukunya.

Lima orang.

Lima posisi berbeda.

Satu tujuan.

**Jangan ganggu Fiona dan Darrien.**

***

Beberapa saat berlalu.

Ace melirik ke arah Darrien lagi.

Kemudian berbisik,

“Apakah kita yakin mereka tidak membutuhkan pengawasan?”

Kevin menjawab,

“Mereka bukan anak kecil.”

Ace mengangguk.

“Benar.”

Ia diam.

Kemudian menambahkan,

“Tapi setelah semua yang terjadi…”

Kevin menatapnya.

“Kalau ada sesuatu terjadi, kita akan tahu.”

Elyon tersenyum kecil.

“Dia benar.”

Elarion menutup bukunya sebentar.

“Selain itu…”

Ia menunjuk Darrien.

“Menurutmu siapa yang lebih berbahaya jika kita mengganggu?”

Ace langsung menunjuk Darrien.

“Dia.”

Rowan menunjuk Fiona.

“Belum tentu.”

Ace menatap Rowan.

“Apa maksudmu?”

Rowan tersenyum.

“Kau lupa siapa yang bisa membuat kita semua pergi ke pasar hanya karena mendengar kata dessert?”

Ace terdiam.

Kevin menahan senyum.

Elyon memalingkan wajah.

Elarion pura-pura membaca.

Ace akhirnya mengangguk.

“…Benar juga.”

***

Di bawah pohon—

Fiona tiba-tiba tertawa kecil.

Darrien menatapnya.

“Apa?”

“Entahlah.”

Fiona melihat para peri yang terbang di atas mereka.

“Aku hanya merasa…”

Ia berhenti.

“Rasanya damai.”

Darrien mengangguk.

“Memang.”

Fiona bersandar sedikit.

Kemudian menatap taman.

Tidak ada perang.

Tidak ada vampire.

Tidak ada pengkhianatan.

Tidak ada mimpi buruk.

Hanya angin.

Bunga.

Para peri kecil.

Dan Darrien.

Untuk sementara—

itu sudah cukup.

***

Lima orang di kejauhan kembali saling memandang.

Ace berdiri.

“Kurasa kita harus pergi.”

Rowan ikut berdiri.

“Akhirnya.”

Kevin mengangguk.

Elyon menutup matanya sebentar.

“Ya.”

Elarion memasukkan bukunya.

“Biarkan mereka menikmati waktu mereka.”

Kelima orang itu akhirnya meninggalkan taman secara perlahan.

Namun sebelum pergi—

Ace menoleh sekali lagi.

Ia melihat Fiona dan Darrien masih duduk berdampingan.

Kemudian tersenyum.

“Baguslah.”

Rowan menepuk bahunya.

“Ayo.”

Mereka pergi.

Dan Crystal Garden kembali sunyi.

Hanya Fiona.

Darrien.

Dan para peri kecil—

yang terus beterbangan di antara bunga-bunga kristal.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama—

mereka benar-benar memiliki waktu untuk menikmati kedamaian.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience