Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 168
DI BALIK PINTU KRISTAL
Fiona mengangkat tangannya.
Ujung jarinya menyentuh pintu kristal.
Kemudian—
pintu itu bergerak.
Perlahan.
Sangat perlahan.
Cahaya putih langsung memenuhi pandangannya.
Fiona refleks menutup sebagian wajahnya dengan tangan.
“Ah…”
Cahaya itu terlalu terang.
Ia menunggu beberapa saat.
Kemudian perlahan membuka matanya.
Dan—
ia terdiam.
Di hadapannya terbentang sebuah aula yang sangat luas.
Semuanya terbuat dari kristal.
Lantainya.
Dindingnya.
Pilar-pilar tinggi yang menopang langit-langit.
Bahkan jendela-jendela besar di sepanjang dinding pun terbuat dari kristal bening yang memancarkan cahaya lembut.
Fiona melangkah masuk.
Satu langkah.
Kemudian satu lagi.
Suara langkahnya bergema di dalam ruangan.
Ia menoleh ke kanan.
Kemudian ke kiri.
Matanya terus membesar.
“Indah…”
Tidak ada seorang pun di sana.
Aula itu begitu luas.
Namun terasa sunyi.
Hanya cahaya kristal yang menerangi setiap sudut.
Fiona berjalan semakin jauh.
Kemudian—
ia melihat sesuatu di ujung aula.
Sebuah singgasana.
Terbuat sepenuhnya dari kristal.
Berdiri di atas beberapa anak tangga.
Fiona berhenti.
Tatapannya tertuju pada singgasana tersebut.
Namun bukan itu yang membuatnya membeku.
Di belakang singgasana—
terdapat sebuah simbol besar.
Sebuah daun.
Bentuknya sederhana.
Namun sangat familiar.
Fiona perlahan menyentuh lehernya.
Jari-jarinya menemukan kalung yang selalu ia kenakan.
Daun perak.
Matanya membesar.
“…”
Ia kembali melihat simbol di belakang singgasana.
Kemudian melihat kalungnya.
Sama.
Persis.
Fiona melangkah mendekat.
“Kenapa…”
Ia menyentuh daun perak di lehernya.
“Simbol ini ada di sini?”
Tidak ada jawaban.
Namun dua makhluk kecil bersayap yang mengikutinya sejak tadi mulai berputar di udara.
Keduanya tertawa kecil.
Mereka terbang mengelilingi Fiona.
Seolah sangat senang melihat reaksinya.
Fiona menatap mereka.
“Kalian tahu sesuatu?”
Kedua makhluk itu hanya tertawa.
Mereka tidak menjawab.
Tentu saja.
Fiona menghela napas.
“Kalian memang tidak pernah bicara.”
Kedua peri kecil itu kembali terbang mengelilinginya.
Fiona akhirnya tersenyum.
Namun tatapannya kembali kepada simbol di belakang singgasana.
Daun perak.
Simbol yang sama dengan benda yang sekarang tergantung di lehernya.
Ia tidak mengerti.
Belum.
Namun untuk pertama kalinya—
ia merasa bahwa kalung kecil itu mungkin jauh lebih penting daripada yang selama ini ia pikirkan.
***
“Fiona.”
Suara seseorang terdengar.
Fiona berkedip.
Cahaya kristal di hadapannya menghilang.
***
“Fiona.”
Ia membuka mata.
Langit-langit kamarnya terlihat di atas kepalanya.
Fiona berkedip beberapa kali.
“…Hah?”
Suara peralatan makan terdengar dari luar.
Aroma makanan masuk melalui pintu.
Ia perlahan duduk.
Kemudian melihat sekeliling.
Kamarnya.
Bukan aula kristal.
Bukan taman.
Bukan istana.
Fiona menyentuh lehernya.
Kalung daun perak masih berada di sana.
Ia terdiam.
Mimpi tadi terasa begitu nyata.
Terlalu nyata.
Ia menatap benda itu.
“Daun perak…”
Kemudian perutnya berbunyi pelan.
Fiona membeku.
“…Aku lapar.”
Ia menghela napas.
Sepertinya misteri bisa menunggu.
Untuk sekarang—
makan malam lebih penting.
Fiona bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
Tanpa mengetahui—
bahwa di dalam mimpinya tadi,
ia baru saja memasuki tempat yang mungkin telah menunggunya jauh lebih lama daripada yang bisa ia bayangkan.
