304. Mimpi Sang Saintess

Romance Series 382

BAB 304 — MIMPI SANG SAINTESS

Tidak ada suara perang.

Tidak ada jeritan.

Tidak ada kegelapan.

Hanya cahaya.

Cahaya lembut yang memenuhi sebuah taman luas.

Bunga-bunga kristal bermekaran di sepanjang jalan.

Daun-daun berkilauan tertiup angin.

Dan di antara bunga-bunga itu—

beberapa peri kecil beterbangan sambil tertawa.

“Hehehe…”

“Hehehehe…”

Salah satu peri bahkan terbang mengelilingi seorang gadis yang sedang duduk di bawah pohon.

Gadis itu perlahan membuka matanya.

Ia berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian melihat sekeliling.

Taman Kristal.

Tempat yang begitu ia kenal.

Ia tersenyum kecil.

“Pagi…”

Salah satu peri kecil langsung terbang mendekat.

“Bangun!”

Gadis itu tertawa.

“Aku sudah bangun.”

Peri itu berputar di udara.

“Bangun! Bangun!”

“Ya, ya.”

Ia akhirnya berdiri.

Tidak ada yang aneh.

Tidak ada pertanda.

Tidak ada sesuatu yang berbeda.

Hari itu terlihat seperti hari biasa.

Hari yang pernah ia jalani berkali-kali.

Ia berjalan menyusuri taman.

Menyentuh bunga-bunga kristal yang bermekaran.

Sesekali berhenti untuk berbicara dengan para peri kecil.

Kemudian—

ia melihat sebuah pohon besar.

Senyum muncul di wajahnya.

Ia memanjatnya seperti biasa.

Naik.

Sedikit lebih tinggi.

Kemudian duduk di salah satu cabang besar.

Angin berhembus lembut.

Rambutnya bergerak mengikuti angin.

Ia menutup mata.

Tenang.

Damai.

Namun—

entah mengapa,

ada sesuatu yang terasa salah.

Sangat samar.

Ia membuka mata kembali.

Menatap taman.

Semuanya terlihat normal.

Bunga.

Peri.

Pohon.

Langit.

Tidak ada yang aneh.

“Kenapa rasanya…”

Ia berhenti.

Kemudian menggeleng.

“Mungkin hanya perasaanku.”

Salah satu peri kecil terbang mendekat.

“Turun!”

Gadis itu tertawa.

“Kenapa?”

“Dia datang!”

Gadis itu berkedip.

“Siapa?”

Peri itu hanya menunjuk ke arah jalan.

Gadis itu perlahan menoleh.

Dan di sana—

seseorang sedang berjalan mendekat.

Langkahnya tenang.

Rambutnya bergerak tertiup angin.

Wajahnya begitu familiar.

“Darrien…”

Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya.

Darrien berhenti di bawah pohon.

Kemudian menatap ke atas.

“Kau masih suka memanjat pohon?”

Gadis itu tersenyum.

“Kenapa tidak?”

Darrien menghela napas.

“Suatu hari kau akan jatuh.”

“Aku tidak akan jatuh.”

“Kau selalu mengatakan itu.”

Gadis itu tertawa.

Kemudian turun dari pohon.

Darrien mengulurkan tangan.

Ia menerimanya.

Begitu tangan mereka bersentuhan—

jantung gadis itu berdetak sedikit lebih cepat.

Namun anehnya—

ia tidak merasa terkejut.

Seolah-olah sentuhan itu sudah sangat familiar.

Seolah-olah mereka telah melakukan hal yang sama berkali-kali.

“Kau mau pergi ke mana?”

Darrien bertanya.

Gadis itu berpikir.

“Entahlah.”

“Kalau begitu ikut aku.”

“Ke mana?”

“Jalan saja.”

Gadis itu tersenyum.

“Baik.”

***

Mereka berjalan meninggalkan Taman Kristal.

Tidak terburu-buru.

Tidak ada tujuan khusus.

Hanya berjalan bersama.

Mereka melewati jalan kecil yang dikelilingi pepohonan.

Sesekali mereka berbicara tentang hal-hal sederhana.

Tentang bunga.

Tentang makanan.

Tentang peri kecil yang selalu mengganggunya.

Tentang hari-hari yang telah mereka lalui.

Gadis itu tertawa lebih banyak dari biasanya.

Darrien juga beberapa kali tersenyum.

Namun di balik semua kebahagiaan itu—

gadis itu masih merasakan sesuatu.

Sesuatu yang tidak dapat ia jelaskan.

Setiap kali ia mencoba mengingat kapan tepatnya mereka pertama kali bertemu—

pikirannya menjadi kosong.

Ketika ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum hari itu—

tidak ada apa-apa.

Namun anehnya—

ia tidak merasa perlu mempertanyakannya.

Karena Darrien ada di sampingnya.

Dan itu terasa cukup.

***

Mereka akhirnya sampai di sebuah danau.

Airnya sangat jernih.

Angin berhembus lembut di atas permukaannya.

Gadis itu berdiri di tepi danau.

Ia menarik napas panjang.

“Indah…”

Darrien berdiri di sampingnya.

“Ya.”

Mereka diam.

Untuk beberapa saat—

tidak ada yang berbicara.

Hanya suara angin.

Suara air.

Dan suara peri kecil yang sesekali tertawa dari kejauhan.

Gadis itu menatap permukaan danau.

Kemudian bertanya,

“Darrien?”

“Hmm?”

“Apakah kau bahagia?”

Darrien menoleh.

“Kenapa bertanya begitu?”

“Aku tidak tahu.”

Ia tersenyum kecil.

“Hanya ingin tahu.”

Darrien terdiam.

Kemudian perlahan menjawab,

“Ya.”

Gadis itu menatapnya.

“Benarkah?”

“Ya.”

Darrien tersenyum.

“Karena kau ada di sini.”

Gadis itu membeku.

Pipinya perlahan memerah.

“Darrien…”

Ia tertawa kecil.

“Kau semakin pandai mengatakan sesuatu seperti itu.”

“Seperti apa?”

“Hal-hal yang membuat orang salah tingkah.”

Darrien tersenyum.

“Kalau begitu…”

Ia berhenti.

Kemudian menatapnya langsung.

“Aku akan mengatakan satu hal lagi.”

Gadis itu menoleh.

“Apa?”

Darrien mendekat sedikit.

Angin berhembus di antara mereka.

“Sudah lama aku ingin mengatakan ini.”

Gadis itu menahan napas.

“Aku…”

Darrien berhenti sejenak.

Kemudian—

“aku menyukaimu.”

Hening.

Gadis itu hanya menatapnya.

Jantungnya berdetak semakin cepat.

Ia tidak tahu kenapa.

Seharusnya ini adalah sesuatu yang mengejutkan.

Namun anehnya—

hatinya terasa seperti sudah mengetahui jawaban itu sejak lama.

Ia tersenyum.

Kemudian perlahan mengulurkan tangannya.

“Aku juga.”

Darrien menggenggam tangannya.

Senyum kecil muncul di wajah mereka.

Angin kembali berhembus.

Permukaan danau berkilauan diterpa cahaya.

Para peri kecil tertawa dari kejauhan.

Semuanya terasa sempurna.

Terlalu sempurna.

Dan gadis itu—

untuk sesaat—

melupakan perasaan aneh yang sejak tadi mengikutinya.

Ia hanya berdiri di sana bersama Darrien.

Menikmati angin.

Menikmati danau.

Menikmati kebahagiaan yang terasa begitu nyata.

Namun jauh di dalam dirinya—

sebuah suara kecil berbisik.

*Ada sesuatu yang salah.*

Gadis itu tidak mendengarnya.

Belum.

Karena untuk saat ini—

mimpi itu masih ingin memberinya kebahagiaan.

Dan kisah sang Saintess—

baru saja dimulai.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience