95. Veyra

Romance Series 94

BAB 95
VEYRA

Keesokan paginya—

matahari baru saja naik ketika Fiona keluar dari kediaman Rowan.

Udara kota terasa berbeda dari Akasia.

Lebih ramai.

Lebih hidup.

Suara pedagang terdengar dari kejauhan.

Orang-orang berjalan melewati jalan utama.

Kereta-kereta kecil membawa barang dagangan.

Berbagai bangsa hidup berdampingan di antara bangunan-bangunan kota.

Fiona melihat sekeliling dengan rasa ingin tahu.

“Jadi ini Veyra?”

Elarion mengangguk.

“Ya.”

“Besar sekali.”

Ace tertawa.

“Kau belum melihat bagian utamanya.”

Fiona langsung berjalan lebih cepat.

Darrien menyusul.

“Jangan terlalu jauh.”

“Aku hanya melihat-lihat.”

“Kau selalu mengatakan itu.”

Fiona menjulurkan lidah.

***

Veyra merupakan salah satu kota perdagangan yang cukup terkenal di wilayah tersebut.

Tidak sebesar kota kerajaan, tetapi jauh lebih ramai dibandingkan Akasia.

Manusia, Elf, bangsa binatang, kurcaci, dan berbagai ras lainnya datang dan pergi setiap hari.

Karena letaknya berada di persimpangan beberapa jalur perdagangan, Veyra menjadi tempat bertemunya berbagai budaya.

Fiona memperhatikan semuanya dengan mata berbinar.

“Lihat!”

Ia menunjuk sebuah toko.

“Banyak sekali perhiasan.”

Darrien tersenyum.

“Bukankah kau sedang mencari tempat untuk membuat kalung?”

Fiona langsung mengangguk.

“Benar!”

Ia menarik tangan Darrien.

“Ayo.”

Darrien sempat terkejut.

Namun ia membiarkannya menariknya.

Kevin melihat dari belakang.

“Anak itu benar-benar berubah.”

Ace mengangguk.

“Dulu dia tidak akan membiarkan orang menarik tangannya seperti itu.”

Elarion tersenyum.

“Sekarang dia punya alasan.”

Kevin menatap mereka.

“Jangan mulai.”

Ace tertawa.

***

Mereka berjalan melewati pasar utama Veyra.

Ada toko makanan.

Toko pakaian.

Senjata.

Ramuan.

Perhiasan.

Bahkan beberapa toko yang menjual benda-benda ajaib.

Fiona berhenti di hampir setiap tempat.

“Ini apa?”

“Ramuan.”

“Kalau yang itu?”

“Permata.”

“Yang itu?”

“Jangan disentuh.”

Fiona langsung menarik tangannya.

“Kenapa?”

Ace menunjuk benda di balik kaca.

“Karena itu bisa meledak.”

Fiona menatapnya.

“Kenapa mereka menjualnya?”

“Karena ada orang bodoh yang membelinya.”

Darrien tertawa.

Ace menatapnya.

“Jangan tertawa. Kau juga pernah menjadi salah satunya.”

“Aku?”

“Ya.”

Kevin menyela.

“Cukup.”

Fiona tertawa.

***

Tidak lama kemudian, mereka tiba di distrik perhiasan.

Fiona langsung terpaku.

Berbagai rantai, cincin, gelang, dan liontin dipajang di balik kaca.

“Darrien…”

“Hm?”

“Tempat ini sempurna.”

Darrien tersenyum.

“Kalau begitu pilih.”

Fiona melihat beberapa rantai.

Namun akhirnya ia memilih rantai perak sederhana.

Tipis.

Tidak terlalu mencolok.

“Yang ini.”

Darrien mengangguk.

“Bagus.”

Fiona kemudian mengeluarkan daun perak dari sakunya.

Ia meletakkannya di atas meja.

Pemilik toko melihatnya.

Awalnya ia hanya menganggapnya sebagai daun biasa.

Namun begitu menyentuhnya—

cahaya perak tipis muncul.

Pemilik toko langsung menarik tangannya.

“Eh?”

Fiona berkedip.

“Ada apa?”

Pria itu menatap daun tersebut.

“Benda ini…”

Ia menelan ludah.

“…bukan daun biasa.”

Fiona tersenyum.

“Aku tahu sedikit.”

Darrien menatapnya.

“Sedikit?”

Fiona mengangguk.

“Sedikit sekali.”

Pemilik toko menatap mereka bergantian.

“Kalau begitu aku perlu waktu untuk melihat bagaimana cara memasangnya.”

Fiona tersenyum lebar.

“Baik!”

Darrien melihat wajah bahagianya.

Ia tidak bisa menahan senyum.

Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan dimulai—

mereka berjalan di kota tanpa merasa sedang melarikan diri.

Veyra terasa seperti tempat baru.

Tempat di mana Fiona bisa memilih sendiri apa yang ingin ia kenakan.

Tempat di mana Darrien bisa berjalan di sampingnya tanpa takut seseorang akan mengambilnya lagi.

Namun di salah satu sudut jalan—

sepasang mata memperhatikan mereka.

Elyon.

Ia tidak mendekat.

Ia hanya melihat daun perak yang sekarang berada di tangan pengrajin.

Kemudian ia menghela napas.

“Jadi akhirnya kau membawanya keluar…”

Tatapannya menjadi serius.

“Veyra akan segera mengetahui keberadaanmu.”

Ia berbalik.

Dan menghilang di antara keramaian.

Sementara Fiona masih tersenyum—

tidak menyadari bahwa keputusan kecil untuk membuat sebuah kalung…

mungkin akan mengubah cara seluruh dunia melihatnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience