214. Bayangan Dari Lembah

Romance Series 382

BAB 214
BAYANGAN DARI LEMBAH

Hari ketiga latihan—

berbeda.

Darrien berdiri di tengah area latihan bersama Kevin.

Namun kali ini tidak ada target biasa.

Tidak ada latihan kecepatan sederhana.

Tidak ada pertarungan satu lawan satu.

Kevin mengangkat tangannya.

Sihir mulai memenuhi seluruh arena.

Cahaya dari kristal-kristal latihan menyala.

Kemudian—

satu demi satu sosok muncul.

Magical dummy.

Bentuknya menyerupai para petarung.

Jumlahnya terus bertambah.

Darrien memperhatikan sekeliling.

“Ini apa?”

Kevin tidak menjawab.

Ia hanya mengangkat tangannya sekali lagi.

Barrier langsung muncul mengelilingi area latihan.

**WHOOOM.**

Penghalang terbentuk lebih tebal dari biasanya.

Fiona yang berada di luar langsung memperhatikan.

Elarion juga menyadari perubahan tersebut.

“Kevin mempersiapkan sesuatu yang berbeda.”

Rowan dan Ace saling berpandangan.

Mereka bahkan tidak tertawa kali ini.

Mereka tahu latihan hari ini akan berbeda.

Di dalam arena—

Darrien menatap Kevin.

“Apa yang harus kulakukan?”

Kevin berdiri beberapa langkah di depannya.

Kemudian berkata,

“Bayangkan kembali lembah itu.”

Ekspresi Darrien langsung berubah.

Kevin melanjutkan.

“Bayangkan semua sosok di depanmu adalah para vampire yang kau lawan.”

Darrien mengepalkan tangannya.

Ingatan lama mulai muncul.

Lembah.

Koga.

Musaka.

Dan Fiona.

Kevin menatapnya dengan serius.

“Sekarang bayangkan…”

Ia berhenti sejenak.

“…Fiona berada jauh darimu.”

Darrien terdiam.

“Dia terikat.”

Napas Darrien berubah.

“Dia tidak bisa bergerak.”

Kevin melanjutkan.

“Dan kau tidak bisa mendekatinya.”

Tatapan Darrien berubah semakin tajam.

“Musuh terus berdatangan.”

“Tidak ada waktu untuk berpikir.”

“Tidak ada waktu untuk menunggu.”

Kevin mengangkat tangannya.

“Kalau kau ingin melindunginya…”

“Gunakan seluruh kemampuanmu.”

Darrien menatap sosok-sosok magical dummy yang kini memenuhi arena.

Tangannya perlahan mengepal.

Dark Magic mulai muncul.

Namun Kevin belum selesai.

“Jangan kehilangan kendali.”

Darrien menatapnya.

“Karena kali ini…”

Kevin tersenyum tipis.

“…aku ingin melihat apakah kau bisa melindungi seseorang tanpa menghancurkan dirimu sendiri.”

Darrien menarik napas dalam.

Kemudian—

auranya berubah.

Dark Magic menyebar di sekitar tubuhnya.

Fiona yang berada di luar barrier langsung berdiri.

“Darrien…”

Elarion menatapnya serius.

“Dia mengingat lembah itu.”

Fiona menggenggam tangannya sendiri.

Ia tahu apa yang sedang Kevin lakukan.

Kevin tidak sedang mencoba membuat Darrien marah.

Ia sedang mengajarinya menghadapi ketakutannya.

Di dalam arena—

mata Darrien berubah tajam.

Ia melihat para magical dummy.

Namun dalam pikirannya—

mereka bukan lagi sekadar target.

Mereka adalah musuh.

Dan di belakang mereka—

Fiona.

Terikat.

Tidak mampu bergerak.

Darrien menarik napas.

“…”

Kevin mengangkat tangan.

“Mulai.”

**BOOM!**

Darrien langsung melesat.

Dark Magic meledak dari tubuhnya.

Satu magical dummy hancur.

Darrien berputar.

Serangan kedua.

Ketiga.

Keempat.

Namun jumlah mereka terus bertambah.

Darrien bergerak semakin cepat.

Ia menggunakan Dark Magic untuk memperkuat tubuhnya.

Serangan datang dari segala arah.

Ia menghindar.

Menangkis.

Menyerang balik.

Namun kemudian—

salah satu dummy bergerak menuju sisi arena yang sengaja dibuat sebagai titik tempat Fiona berada.

Darrien langsung berubah arah.

“Jangan sentuh dia!”

Ia melesat.

**BOOM!**

Dummy tersebut hancur sebelum mencapai titik itu.

Namun beberapa dummy lain langsung menyerangnya dari belakang.

Darrien terlambat.

**BAM!**

Tubuhnya terdorong.

Ia jatuh satu lutut.

Kemudian—

bangkit kembali.

Kevin tidak bergerak.

“Jangan hanya melihat satu musuh.”

Darrien mengatur napas.

“Perhatikan semuanya.”

Darrien mengangkat kepalanya.

Matanya menyapu seluruh arena.

Puluhan magical dummy.

Bergerak dari berbagai arah.

Untuk sesaat—

ia teringat kembali pada lembah.

Koga.

Musaka.

Fiona yang menangis.

Tubuhnya sendiri yang hampir tidak mampu bergerak.

Darrien mengepalkan tangan.

“Tidak.”

Ia berdiri.

“Aku tidak akan mengulanginya.”

Dark Magic kembali meledak.

Namun kali ini—

lebih terkendali.

Ia tidak menyerang secara membabi buta.

Ia mulai membaca posisi semua dummy.

Satu.

Dua.

Tiga.

Kemudian bergerak.

**WHOOSH!**

Satu target dihancurkan.

Ia berputar.

Target kedua.

Kemudian ketiga.

Fiona memperhatikan dari luar barrier.

Namun ia tidak langsung memberikan bantuan.

Ia menunggu.

Ia ingin melihat bagaimana Darrien menghadapi situasi tersebut dengan kekuatannya sendiri.

Kevin juga tidak bergerak.

Untuk pertama kalinya—

ia hanya mengamati.

Karena latihan hari ketiga bukan tentang seberapa kuat Darrien bisa menyerang.

Ini tentang apakah Darrien bisa tetap berpikir—

ketika rasa takut kehilangan seseorang mulai menguasai pikirannya.

Dan pertempuran di dalam barrier—

baru saja dimulai.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience