Series
382
BAB 298 — KETIKA CAHAYA TERPADAM
Untuk sesaat—
dunia terasa berhenti.
Fiona masih berdiri di hadapan Giselle.
Matanya terbuka lebar.
Ia bahkan belum sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi.
Yang ia rasakan hanya—
rasa sakit.
Tajam.
Panas.
Dan sebuah tekanan aneh di dadanya.
Tangannya perlahan terangkat.
Menyentuh bagian yang terluka.
Jari-jarinya gemetar.
“Ah…”
Napasnya tercekat.
Cahaya yang sebelumnya mengalir dari tubuhnya mulai bergetar.
Satu demi satu—
cahaya itu kehilangan kestabilannya.
Aura lembut yang menyelimuti Darrien, Elyon, Elarion, Ace, Rowan, dan Kevin mulai memudar.
Penguatan yang selama ini Fiona pertahankan—
terputus.
Begitu saja.
Fiona mencoba menarik napas.
Namun napasnya terasa semakin berat.
Pandangannya mulai kabur.
Suara pertempuran di sekelilingnya terdengar semakin jauh.
Ia mencoba berdiri tegak.
Namun kedua kakinya tidak lagi terasa kuat.
Pikirannya hanya mampu menangkap satu hal.
Satu nama.
**Darrien.**
*Darrien…*
Itulah hal terakhir yang muncul dalam pikirannya.
Kemudian—
tubuh Fiona kehilangan kekuatannya.
Ia jatuh.
Giselle segera menarik kembali tangannya dan mundur beberapa langkah.
Tatapannya tertuju pada Fiona yang terjatuh.
“…”
Mufasa yang berada tidak jauh darinya melihat kejadian tersebut.
Giselle berjalan kembali ke sisinya.
Serangan itu berhasil.
Namun sebelum mereka sempat melakukan apa pun lagi—
“FIONA!”
Elyon langsung bergerak.
Elarion menyusul dari sisi lain.
Keduanya tiba hampir bersamaan.
Fiona sudah tidak bergerak.
Elyon segera berlutut.
“Fiona!”
Tidak ada jawaban.
Elarion memeriksa lukanya.
Ekspresinya langsung berubah.
“Cepat.”
Elyon mengangkat kedua tangannya.
Sihir penyembuhan mulai mengalir.
Cahaya memenuhi area luka.
Elarion juga menggunakan sihirnya sendiri.
Energi penyembuhan berlapis mulai menutup luka tersebut.
Namun—
darah masih mengalir.
Elyon mengerutkan kening.
“Tidak berhenti…”
Elarion memperkuat sihirnya.
“Tambahkan energi.”
“Aku sudah.”
“Sekali lagi.”
Elyon menggertakkan gigi.
Ia menyalurkan lebih banyak kekuatan.
Cahaya semakin terang.
Namun darah Fiona tetap mengalir.
“Kenapa tidak bekerja?”
Elarion tidak menjawab.
Ia terus mencoba.
Satu jenis sihir.
Kemudian jenis lainnya.
Tidak ada yang cukup.
Luka itu seperti menolak untuk pulih.
“Fiona…”
Suara Elyon semakin tegang.
“Bertahan.”
***
Di sisi lain medan—
Darrien baru saja menangkis serangan Kaguya.
Namun kemudian—
cahaya yang sebelumnya menyelimuti tubuhnya menghilang.
Darrien terdiam.
Ia merasakan perubahan itu.
Penguatan Fiona—
hilang.
Dan kemudian—
ia mendengar suara Elyon.
“FIONA!”
Tubuh Darrien langsung menegang.
Kepalanya menoleh.
Matanya mencari satu sosok.
Fiona.
Kaguya langsung menyadari perubahan tersebut.
Darrien hendak bergerak.
Namun—
Kaguya muncul di depannya.
“Belum selesai.”
Darrien menatapnya.
“Pergi.”
Kaguya tersenyum tipis.
“Kau ingin pergi?”
Darrien mengepalkan tangan.
“Ya.”
“Tidak.”
Kaguya menyerang.
Darrien menangkis.
CLANG!
Kaguya kembali menyerang.
Darrien menghindar.
Slash!
Serangan lain melintas.
Darrien membalas.
Keduanya bertukar beberapa serangan dengan cepat.
Namun pikiran Darrien tidak lagi berada sepenuhnya dalam pertarungan.
Ia terus mendengar suara dari arah Fiona.
“Darrien…”
Tidak.
Bukan suara Fiona.
Itu hanya ingatannya.
Namun cukup untuk membuat napasnya berubah.
Kaguya menyerang lagi.
Darrien menangkis.
Kemudian—
ia melihat celah.
Kaguya menyadarinya terlambat.
Darrien menggunakan gerakannya.
Tubuhnya menghilang dari tempat semula.
**BOOM!**
Tanah retak.
Kaguya hanya melihat bayangan hitam yang melesat pergi.
“Apa—?”
Darrien sudah tidak ada di hadapannya.
Kecepatannya meningkat tajam.
Ia tidak berhenti.
Tidak menoleh.
Tidak peduli pada siapa pun yang mencoba menghalanginya.
Tujuannya hanya satu.
**Fiona.**
***
Elyon masih berusaha menghentikan darah.
“Tidak berhasil…”
Elarion menggeleng.
“Lukanya menolak penyembuhan.”
“Kalau begitu kita gunakan cara lain.”
Elarion segera mengubah jenis sihir.
Namun hasilnya tetap sama.
Darah masih mengalir.
Fiona tetap tidak sadar.
Kemudian—
angin berhembus keras.
Elyon menoleh.
Sebuah bayangan berhenti di dekat mereka.
Darrien.
Ia berdiri beberapa langkah dari Fiona.
Napasnya berat.
Matanya langsung tertuju kepada tubuh Fiona.
“…”
Ia melihat darah.
Melihat Elyon.
Melihat Elarion.
“Bagaimana?”
Elyon menatapnya.
“Kami sedang mencoba.”
“Dia sadar?”
Elarion menggeleng.
“Belum.”
Darrien tidak mengatakan apa-apa.
Ia perlahan mendekat.
Kemudian berlutut.
Tangannya bergerak hati-hati.
Sangat berbeda dari gerakan kasarnya ketika bertarung.
Ia mengangkat tubuh Fiona perlahan.
Membawanya ke dalam pelukannya.
Tubuh Fiona terasa ringan.
Terlalu ringan.
Darrien menunduk.
Wajah Fiona terlihat begitu tenang.
Seolah hanya sedang tidur.
Namun darah yang masih membasahi pakaiannya mengatakan sebaliknya.
“Fiona…”
Tidak ada jawaban.
Darrien menggenggamnya sedikit lebih erat.
Di belakang mereka—
Elyon dan Elarion masih mencoba mencari cara untuk menghentikan luka tersebut.
Namun tidak satu pun dari mereka menyadari sesuatu yang lain.
Darah Fiona yang jatuh—
telah mengenai kalung dan gelang dengan simbol daun perak.
Satu tetes.
Kemudian satu lagi.
Darah perlahan meresap ke permukaannya.
Daun perak itu tidak pecah.
Tidak bersuara.
Tidak menunjukkan perubahan yang dapat dilihat siapa pun.
Namun jauh di balik permukaan kedua benda tersebut—
sesuatu yang sangat samar mulai terbangun.
Tidak ada seorang pun yang menyadarinya.
Tidak Darrien.
Tidak Elyon.
Tidak Elarion.
Tidak Fiona.
***
Darrien masih memeluk Fiona.
Kepalanya sedikit menunduk.
Kemudian—
perlahan—
udara di sekelilingnya berubah.
Aura gelap mulai muncul.
Tipis.
Hampir tidak terlihat.
Namun semakin lama—
semakin pekat.
Elyon yang berada di dekatnya perlahan mengangkat kepala.
Elarion juga berhenti sejenak.
Keduanya merasakan perubahan tersebut.
Darrien tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya memandang Fiona dalam diam.
Dan aura gelap di sekeliling tubuhnya—
terus meningkat.
Semakin tinggi.
Semakin berat.
Seolah sesuatu di dalam dirinya—
baru saja terbangun.
Share this novel