167. Tidur Di Bawah Pohon

Romance Series 382

BAB 167
TIDUR DI BAWAH POHON

Latihan terus berlangsung.

Fiona mulai kehilangan tenaga.

Napasnya semakin berat.

Kakinya terasa lelah.

“Kevin…”

Kevin menoleh.

“Ya?”

“Aku istirahat sebentar.”

Kevin mengangguk.

“Lima menit.”

Fiona mengangguk cepat.

“Lima menit…”

Ia berjalan menuju sebuah pohon besar tidak jauh dari area latihan.

Kemudian duduk di bawahnya.

Punggungnya bersandar pada batang pohon.

Ia memejamkan mata sebentar.

Hanya sebentar.

Setidaknya itu yang ia pikirkan.

***

Darrien masih melanjutkan latihan.

Kevin tidak memberinya waktu untuk bersantai.

“Sekali lagi.”

Darrien menarik napas.

Kemudian bergerak.

Dark Magic mengalir di sekitar tubuhnya.

Ia menghindar.

Menyerang.

Berputar.

Membentuk penghalang.

Kevin terus mengoreksi gerakannya.

“Jangan terlalu banyak menggunakan kekuatan.”

Darrien mengangguk.

Ia mencoba lagi.

Beberapa saat kemudian—

Kevin akhirnya berhenti.

“Cukup.”

Darrien menurunkan tangannya.

Napasnya sedikit berat.

Ia menoleh ke arah Fiona.

Tidak ada gerakan.

Fiona masih bersandar di bawah pohon.

Darrien menyipitkan mata.

“Fiona?”

Tidak ada jawaban.

Ia berjalan mendekat.

Kemudian berhenti.

Fiona sudah tertidur.

Kepalanya sedikit miring.

Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah.

Tangannya masih berada di pangkuannya.

Darrien terdiam.

Kemudian tersenyum kecil.

“Dia benar-benar tidur.”

Kevin ikut melihat.

“Sepertinya latihan hari ini terlalu berat.”

Darrien mengangguk.

Kevin berjalan mendekat.

“Aku akan membangunkannya.”

Namun Darrien langsung mengangkat tangan.

“Tidak perlu.”

Kevin menatapnya.

“Aku bisa membawanya.”

Darrien menghela napas.

“Biarkan dia tidur.”

Kevin mengangkat alis.

“Kau?”

Darrien mengangguk.

“Aku yang akan membawanya ke kamarnya.”

Kevin tersenyum tipis.

“Baiklah.”

Darrien berjongkok di depan Fiona.

Kemudian dengan hati-hati—

ia mengangkat tubuh Fiona.

Satu tangan menopang punggungnya.

Satu lagi berada di bawah lututnya.

Fiona bergerak sedikit.

Namun tidak terbangun.

Kepalanya justru bersandar pada dada Darrien.

Darrien terdiam sesaat.

Kemudian melangkah perlahan.

Kevin melihat mereka pergi.

Ia menggeleng sambil tersenyum.

“Anak-anak…”

***

Namun Fiona tidak menyadari apa pun.

Dalam tidurnya—

ia kembali berada di tempat yang sama.

Taman kristal.

Bunga-bunga berwarna-warni memenuhi sekelilingnya.

Dua peri kecil terbang di dekatnya.

Kali ini—

mereka tidak menarik tangannya.

Mereka hanya terbang di depan Fiona.

Menuju tempat yang sudah pernah ia lihat sebelumnya.

Istana kristal.

Fiona mengikuti mereka.

Langkahnya berhenti di depan pintu besar.

Pintu itu menjulang tinggi.

Seluruh permukaannya terbuat dari kristal.

Dua peri kecil itu terbang ke depan.

Mereka berhenti tepat di depan pintu.

Kemudian menoleh kepada Fiona.

Seolah menunggunya.

Fiona mendekat.

“Jadi…”

Ia mengangkat tangannya.

“Kali ini aku benar-benar akan masuk?”

Kedua peri itu tertawa kecil.

Fiona tersenyum.

Tangannya semakin dekat dengan pintu.

Namun—

ia belum menyentuhnya.

***

Di dunia nyata—

Darrien sudah membawa Fiona keluar dari area latihan.

Fiona masih tertidur pulas dalam pelukannya.

Ia tidak tahu bahwa tubuhnya sedang dibawa kembali ke kamarnya.

Dan tidak tahu pula—

bahwa dalam mimpinya,

ia sedang berdiri tepat di depan pintu yang selama ini belum pernah terbuka.

Darrien berjalan melewati lorong dengan langkah perlahan.

Sesekali ia menunduk.

Memastikan Fiona masih nyaman.

Kemudian ia tersenyum kecil.

“Tidurlah.”

Ia terus berjalan.

Sementara di dalam mimpi—

Fiona kembali mengulurkan tangannya.

Hampir menyentuh pintu.

Dan malam itu—

dua dunia berjalan bersamaan.

Fiona semakin dekat dengan pintu kristal.

Dan Darrien semakin dekat membawa Fiona kembali ke kamarnya.

Tanpa Fiona menyadari—

bahwa bahkan ketika ia sedang mengejar jawaban dalam mimpinya…

ia sendiri sedang digendong menuju tempat tidurnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience