Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 392 — KLAN YANG TERTUTUP
Ruang pertemuan Veyth kembali dipenuhi keheningan.
Surat dengan segel hitam dari Klan Vampire masih berada di atas meja.
Edward memandangnya cukup lama sebelum akhirnya berbicara.
“Surat dari Klan Vampire yang datang dengan segel seperti ini…”
Ia berhenti sejenak.
“…biasanya bukan surat biasa.”
Semua yang berada di ruangan langsung memperhatikannya.
Edward melanjutkan,
“Segel tersebut menunjukkan bahwa surat itu datang langsung dari pihak yang memiliki kedudukan tinggi di dalam klan.”
Gloria mengangguk.
“Berarti kita mungkin sudah berada di dalam sebuah konflik…”
Tatapannya berpindah kepada semua orang.
“…tanpa benar-benar mengetahui seberapa besar kekuatan mereka.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Kalimat itu membuat suasana semakin berat.
Darrien bersandar di kursinya.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Namun pikirannya kembali kepada apa yang telah terjadi di Lunaris.
Kaguya.
Kelompok vampire.
Dan sekarang—
Raizen.
Elyon akhirnya berbicara.
“Masalahnya…”
Ia menatap surat tersebut.
“…kita memiliki terlalu sedikit informasi tentang mereka.”
Edward mengangguk.
“Benar.”
Elyon melanjutkan,
“Kita tidak pernah terlalu banyak berhubungan langsung dengan Klan Vampire.”
“Mereka jarang berurusan dengan kerajaan lain.”
“Mereka bahkan hampir tidak pernah ikut campur dalam urusan kehidupan kita.”
Ace menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Itulah yang membuat ini lebih merepotkan.”
Semua menoleh kepadanya.
Ace menggaruk kepalanya.
“Bukannya selama ini kita hidup berdampingan?”
Rowan mengangguk.
“Ya.”
Ace melanjutkan,
“Tapi Klan Vampire…”
Ia menunjuk surat di atas meja.
“…bahkan tidak pernah benar-benar mencoba ikut serta dalam kehidupan kita.”
“Mereka punya wilayah sendiri.”
“Mereka punya aturan sendiri.”
“Dan kita punya aturan kita.”
Ia menghela napas.
“Jadi kalau sekarang mereka tiba-tiba mengirim surat dan menuntut Darrien dan Fiona…”
Ace mengangkat kedua tangannya.
“…itu bisa menjadi masalah besar.”
Rowan mengangguk perlahan.
“Karena kita bahkan tidak tahu apa yang mereka inginkan setelah mereka mendapatkan jawaban.”
Elarion menyilangkan tangannya.
“Balas dendam?”
Elyon menggeleng.
“Belum tentu.”
Darrien akhirnya berbicara.
“Mungkin mereka hanya ingin melihat bagaimana Veyth bereaksi.”
Semua kembali menatapnya.
Darrien melanjutkan,
“Kalau Raizen memang pemimpin mereka, dia tidak akan mengirim surat seperti itu tanpa mempertimbangkan akibatnya.”
Edward mengangguk.
“Pemikiran yang sama ada di kepalaku.”
Gloria menatap Darrien.
“Namun kita tetap harus berhati-hati.”
Darrien tersenyum tipis.
“Aku tahu.”
Ace menatapnya.
“Kau santai sekali.”
Darrien menoleh.
“Apa aku harus menangis?”
Ace langsung menggeleng.
“Tidak.”
Rowan menyela,
“Jangan. Nanti kami yang panik.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Ketegangan di ruangan sedikit berkurang.
Namun Edward tetap serius.
“Kita perlu mengetahui lebih banyak.”
“Wilayah mereka.”
“Struktur kekuasaan mereka.”
“Jumlah anggota.”
“Dan terutama…”
Tatapan Edward jatuh pada surat tersebut.
“…seberapa kuat Raizen.”
Elyon mengangguk.
“Kalau kita tidak mengetahui lawan kita…”
Ia berhenti.
“…kita akan selalu berada satu langkah di belakang.”
Darrien terdiam.
Di dalam pikirannya—
nama Raizen kembali muncul.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang tenang di Lunaris dan Veyth—
ia mulai menyadari bahwa perjalanan mereka mungkin akan segera berubah.
Bukan hanya karena masa lalunya.
Bukan hanya karena Grandmaster yang perlahan muncul melalui mimpi.
Tetapi karena dunia yang selama ini hidup berdampingan dengan mereka—
ternyata masih memiliki banyak bagian yang belum mereka ketahui.
Dan Klan Vampire—
mungkin adalah salah satunya.
