19. Merasakan Yang Tidak Terlihat

Romance Series 94

BAB 19
MERASAKAN YANG TAK TERLIHAT

Hari-hari bersama Elarion perlahan menjadi rutinitas baru.

Pagi untuk latihan tubuh.

Siang untuk sihir.

Sore untuk mempelajari tanaman dan ramuan.

Darrien dan Fiona mulai terbiasa dengan kehidupan di rumah kecil di tengah hutan.

Namun suatu pagi, Elarion membawa mereka lebih jauh ke dalam hutan.

“Ke mana kita pergi?” tanya Fiona.

“Belajar.”

“Belajar apa?”

“Merasa.”

Fiona mengerutkan kening.

“Merasa?”

Elarion tersenyum.

“Tidak semua bahaya bisa dilihat.”

Mereka berhenti di sebuah tempat terbuka.

Elarion berdiri beberapa langkah di depan mereka.

“Pejamkan mata.”

Darrien dan Fiona menurut.

“Sekarang, jangan gunakan mata.”

“Gunakan apa?” tanya Fiona.

“Tubuh kalian.”

Angin bergerak perlahan.

Daun-daun bergesekan.

Elarion berjalan menjauh.

“Cari aku.”

Fiona mencoba berkonsentrasi.

Awalnya ia hanya mendengar suara hutan.

Kemudian ia merasakan sesuatu.

Hangat.

Samar.

Seperti cahaya kecil di kejauhan.

“Di sebelah kanan,” katanya.

Elarion tersenyum.

“Benar.”

Fiona membuka mata.

Darrien masih memejamkan matanya.

Ia tidak mengatakan apa-apa.

Elarion menatapnya.

“Darrien?”

Darrien mengerutkan kening.

“Ada sesuatu yang lain.”

Elarion berhenti.

“Apa?”

“Di belakang.”

Elarion langsung menoleh.

Tidak ada apa-apa.

Darrien membuka mata.

“Seperti…”

Ia mencoba menjelaskan.

“Seperti sesuatu yang sedang mengawasi kita.”

Elarion tidak langsung menjawab.

Ia memejamkan mata dan menggunakan sihirnya.

Beberapa detik kemudian, ia membuka mata.

“Tidak ada.”

Darrien menunduk.

“Mungkin aku salah.”

Elarion tidak mengatakan bahwa Darrien memang salah.

Ia hanya tersenyum tipis.

“Bisa jadi.”

Namun beberapa saat kemudian, seekor rusa kecil keluar dari balik semak.

Fiona tertawa lega.

“Oh…”

Darrien menghela napas.

“Mungkin itu.”

Elarion menatap Darrien cukup lama.

Kemampuan anak itu bukan sekadar merasakan sihir.

Ia mungkin memiliki naluri yang jauh lebih tajam.

Namun Elarion tidak ingin membuatnya terlalu percaya diri.

“Jangan selalu percaya pada apa yang kau rasakan,” katanya.

Darrien mengangguk.

“Tapi jangan abaikan juga.”

Darrien menatapnya.

Elarion tersenyum.

“Insting bisa menyelamatkan hidupmu.”

Ia kemudian berdiri di tengah lapangan.

“Sekarang, kalian berdua akan belajar membedakan tiga hal.”

Ia mengangkat satu jari.

“Makhluk hidup.”

Jari kedua.

“Sihir.”

Jari ketiga.

“Dan niat.”

Fiona mengangkat tangan.

“Apa niat bisa dirasakan?”

“Tidak selalu.”

Elarion menatapnya.

“Tapi seseorang yang berniat buruk sering kali bergerak berbeda dari seseorang yang tidak.”

Darrien mengingat Maria.

Ia mengerti.

Elarion kemudian mengajak mereka berjalan lebih jauh.

Sepanjang hari, mereka belajar memperhatikan langkah kaki, perubahan udara, suara dedaunan, dan perubahan kecil pada lingkungan.

Tidak ada mantra.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada ledakan sihir.

Hanya pengamatan.

Ketika matahari mulai turun, mereka kembali ke rumah.

Fiona terlihat lelah.

Darrien juga.

Namun keduanya merasa sedikit berbeda.

Mereka mulai memahami bahwa bertahan hidup bukan hanya tentang menjadi kuat.

Kadang-kadang, hal terpenting adalah mengetahui bahwa sesuatu akan datang…

sebelum sesuatu itu tiba.

Dan tanpa mereka sadari, kemampuan Darrien untuk merasakan hawa asing itu perlahan menjadi semakin tajam.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience