Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 128
TAMAN KRISTAL
Angin lembut menyentuh pipinya.
Fiona tersenyum kecil.
Hembusan itu terasa ringan dan hangat, membuat rambutnya bergerak perlahan.
Ada sesuatu yang menggelitik pipinya.
Fiona tertawa pelan.
Kemudian ia membuka mata.
Untuk beberapa detik, ia hanya diam.
“…”
Ia berkedip.
Tempat itu lagi.
Taman yang dipenuhi cahaya.
Namun kali ini—
ia tidak berdiri di tanah.
Fiona menyadari bahwa dirinya sedang bersandar pada sebuah cabang pohon.
Bukan pohon biasa.
Seluruh batang dan cabangnya terbuat dari kristal.
Cahaya lembut mengalir di sepanjang permukaannya.
Fiona perlahan berdiri.
Cabang tempatnya berdiri sangat tinggi.
Namun anehnya, ia sama sekali tidak merasa takut.
Dari sana—
ia bisa melihat seluruh tempat itu.
Matanya membesar.
“Wow…”
Pemandangan di bawahnya jauh lebih indah daripada yang ia ingat.
Kristal-kristal berwarna tumbuh di berbagai tempat.
Ada yang biru.
Ada yang merah muda.
Ada yang keemasan.
Ada pula yang berwarna ungu lembut.
Namun kali ini Fiona melihat sesuatu yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya.
Bunga.
Banyak sekali bunga kristal.
Bunga-bunga itu tumbuh di antara rerumputan dan pepohonan.
Kelopaknya transparan.
Setiap kali angin bertiup—
kelopaknya berkilauan seperti kaca yang terkena cahaya matahari.
Fiona berjalan perlahan di sepanjang cabang.
Ia melihat ke bawah.
Seluruh taman terlihat seperti lautan cahaya.
Indah.
Terlalu indah.
Fiona tersenyum.
“Aku tidak akan melupakan tempat ini.”
Ia mencoba mengingat setiap detail.
Menara kristal yang menjulang jauh di sana.
Pohon-pohon kristal.
Bunga-bunga.
Cahaya warna-warni.
Angin lembut.
Semuanya terasa begitu nyata.
Fiona menyentuh cabang tempatnya berdiri.
Dingin.
Nyata.
Ia mengerutkan kening.
“Apakah ini benar-benar mimpi?”
Tidak ada jawaban.
Fiona menatap kembali ke kejauhan.
Ia tidak tahu mengapa tempat ini terus muncul dalam tidurnya.
Namun satu hal yang ia tahu—
ia menyukai tempat ini.
Sangat menyukainya.
Kemudian angin kembali berembus.
Fiona memejamkan mata sebentar.
Ketika ia membukanya—
semuanya berubah menjadi cahaya putih.
***
Fiona membuka mata.
Langit-langit kamar.
Sekali lagi.
Ia terdiam.
Kemudian menghela napas.
“Mimpi lagi…”
Ia duduk di tempat tidur.
Tangannya secara refleks menyentuh daun perak di lehernya.
Daun itu masih tergantung di sana.
Tidak berubah.
Fiona menatapnya beberapa detik.
“Tempat itu terasa terlalu nyata.”
Namun ia tidak menemukan jawaban.
Ia akhirnya bangkit dan bersiap.
***
Beberapa saat kemudian—
Fiona turun ke ruang makan.
Darrien sudah duduk di sana.
Elarion juga sudah berada di meja dengan secangkir minuman.
“Kau lama,” kata Darrien.
“Maaf.”
Fiona duduk dan mulai mengambil makanan.
Namun ia terlihat sedikit melamun.
Darrien memperhatikannya.
“Kau kenapa?”
Fiona terdiam sebentar.
Kemudian berkata,
“Aku bermimpi lagi.”
Elarion yang sedang memegang cangkir langsung berhenti.
“Bermimpi?”
Fiona mengangguk.
“Tempat yang sama.”
Darrien mengerutkan kening.
“Tempat yang sama?”
“Ya.”
Fiona kemudian mulai menceritakan mimpinya.
“Pertama kali, aku berada di sebuah tempat yang dipenuhi kristal.”
“Banyak cahaya.”
“Ada menara kristal yang sangat tinggi.”
“Dan ada makhluk kecil seperti Elf yang terbang di sekitarku.”
Darrien mendengarkan dengan serius.
Elarion tidak mengatakan apa-apa.
Namun perhatiannya kini sepenuhnya tertuju kepada Fiona.
Fiona melanjutkan,
“Dan kali ini…”
Ia mengingat kembali pemandangan itu.
“Aku berada di atas pohon kristal.”
“Cabangnya sangat tinggi.”
“Dari sana aku bisa melihat seluruh tempat itu.”
“Ada banyak bunga kristal.”
Fiona tersenyum kecil.
“Banyak sekali.”
Elarion akhirnya bertanya,
“Apakah tempat itu terasa seperti mimpi biasa?”
Fiona berpikir.
“Tidak.”
Ia menggeleng.
“Itu yang aneh.”
“Semuanya terasa nyata.”
“Anginnya.”
“Pohon kristalnya.”
“Bahkan bunganya.”
Elarion meletakkan cangkirnya.
“Apakah kau bisa mengingat tempat itu dengan jelas?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
“Apakah tempat itu berubah?”
Fiona berpikir sebentar.
“Tidak banyak.”
“Tempatnya sama.”
“Hanya saja kali ini aku melihat bagian yang berbeda.”
Elarion terdiam.
Darrien menatapnya.
“Kau memikirkan sesuatu?”
Elarion tidak langsung menjawab.
Ia menatap Fiona.
“Belum.”
Kemudian ia tersenyum tipis.
“Tapi dua mimpi yang terjadi di tempat yang sama…”
Ia mengambil kembali cangkirnya.
“…cukup menarik.”
Fiona mengangkat bahu.
“Mungkin hanya mimpi.”
“Mungkin.”
Elarion tidak membantah.
Namun jelas—
rasa ingin tahunya telah muncul.
Fiona kembali menyantap sarapannya.
Ia tidak menyadari bahwa cerita kecil tentang mimpinya baru saja memberikan Elarion satu hal baru untuk dipikirkan.
Apakah taman kristal itu benar-benar hanya sebuah mimpi?
