Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 395 — MAKAN MALAM YANG BERBEDA
Malam tiba di Kerajaan Veyth.
Seperti biasa, meja makan kerajaan telah dipenuhi berbagai hidangan.
Aroma makanan memenuhi ruang makan.
Namun—
malam itu terasa berbeda.
Sangat berbeda.
Tidak ada yang mengatakan bahwa mereka sedang cemas.
Tidak ada yang membicarakan surat dari Shadowcresent.
Tetapi semua orang memikirkannya.
Edward makan dalam diam, sesekali melirik surat yang sudah tidak berada di atas meja.
Gloria terlihat tenang, namun pikirannya jelas masih berada pada pembicaraan mereka sebelumnya.
Darrien duduk di tempatnya.
Ia makan seperti biasa.
Tenang.
Tidak terburu-buru.
Namun tatapannya sesekali kosong.
Fiona yang duduk di sampingnya memperhatikan.
“Kau memikirkan sesuatu?”
Darrien menggeleng.
“Tidak terlalu.”
Fiona menyipitkan mata.
“Benarkah?”
Darrien mengambil minumannya.
“Benar.”
Fiona tidak mengatakan apa-apa lagi.
Namun ia tahu—
Darrien sedang berpikir.
***
Di sisi lain meja—
Ace makan lebih cepat dari biasanya.
Rowan memperhatikannya.
“Kau lapar?”
Ace menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu kenapa makan sebanyak itu?”
Ace berhenti.
Ia melihat makanannya.
“…Aku sedang berpikir.”
Rowan mengangkat alis.
“Dengan mulut?”
Ace menatapnya.
“Setidaknya aku tidak memikirkan masalah sambil menatap makanan selama lima menit.”
Rowan:
“….”
Elarion yang mendengar percakapan mereka tertawa kecil.
Namun tawanya tidak berlangsung lama.
Ia kembali diam.
Pikirannya juga dipenuhi pertanyaan.
Shadowcresent.
Klan Vampire.
Raizen.
Mereka tidak tahu banyak mengenai tempat itu.
Dan itu membuatnya tidak nyaman.
***
Elyon duduk dengan tenang.
Namun sesekali ia mengangkat pandangan.
Ia memperhatikan semua orang.
Tidak ada yang benar-benar menikmati makan malam itu.
Bukan karena makanannya buruk.
Justru sebaliknya.
Makanannya sangat lezat.
Tetapi suasananya—
terlalu berat.
Kevin bahkan lebih diam dari biasanya.
Ia hanya makan sambil memikirkan sesuatu.
Ace akhirnya tidak tahan.
“Kevin.”
“Hm?”
“Menurutmu…”
Ace berhenti sebentar.
“…vampire itu sekuat apa?”
Kevin tidak langsung menjawab.
Ia meletakkan alat makannya.
“Aku tidak tahu.”
Ace mengerutkan kening.
“Kau tidak tahu?”
Kevin menggeleng.
“Karena kita belum pernah melihat kemampuan mereka.”
Rowan mengangguk.
“Itulah masalahnya.”
Kevin kembali makan.
“Jangan menebak sesuatu yang belum kalian pahami.”
Ace menghela napas.
“Sulit untuk tidak menebak.”
“Terutama setelah mereka mengirim surat seperti itu.”
***
Fiona menatap Darrien lagi.
“Apakah kau takut?”
Darrien menoleh kepadanya.
“Tidak.”
“Cemas?”
Darrien berpikir sebentar.
“Tidak juga.”
Fiona tersenyum kecil.
“Lalu?”
Darrien memandang hidangan di depannya.
“Aku penasaran.”
“Dengan apa?”
“Dengan mereka.”
Tatapannya menjadi sedikit lebih serius.
“Selama ini kita hidup berdampingan dengan mereka.”
“Tapi kita hampir tidak mengetahui apa pun tentang Klan Vampire.”
Fiona mengangguk.
“Aku juga penasaran.”
Darrien kemudian menatapnya.
“Namun apa pun yang terjadi…”
Ia berhenti sejenak.
“…kita menghadapinya bersama.”
Fiona tersenyum.
“Ya.”
***
Di ujung meja—
Edward akhirnya menghela napas.
Semua orang menoleh.
“Sepertinya makan malam ini lebih sunyi daripada biasanya.”
Ace langsung mengangkat tangan.
“Bukan salah makanannya.”
Rowan mengangguk.
“Benar.”
Elarion tersenyum tipis.
“Pikiran kita terlalu penuh.”
Gloria melihat seluruh anggota kelompok.
“Besok kita akan memikirkan semuanya lagi.”
“Malam ini…”
Ia tersenyum lembut.
“…makanlah dengan tenang.”
Semua mengangguk.
Mereka kembali menikmati makan malam.
Namun meskipun tidak ada lagi pembicaraan mengenai Shadowcresent—
nama itu tetap berada di dalam pikiran mereka.
Jauh di balik pegunungan.
Di sebuah wilayah yang hampir tidak mereka kenal.
Seorang raja vampire sedang menunggu jawaban mereka.
Dan dua hari lagi—
Mufasa akan datang.
Membawa pesan dari Raizen.
Atau mungkin—
membawa mereka langsung menuju Shadowcresent.
Tak seorang pun di meja makan itu tahu bagaimana pertemuan pertama mereka dengan Klan Vampire akan berlangsung.
Untuk malam ini—
mereka hanya bisa menunggu.
