Completed
594
BAB 481 — MALAM SEBELUM KEBERANGKATAN
Malam sebelum keberangkatan...
Ruang penelitian Veyth masih dipenuhi cahaya lampu kristal.
Gulungan kuno terbuka di hampir seluruh meja.
Beberapa peta pegunungan Shadowcresent terbentang di lantai.
Catatan tentang rune, jalur ruang, pola teleportasi, dan mekanisme pertahanan disusun berdasarkan urutan yang bahkan hanya mereka berenam yang mungkin mengerti.
Ace duduk di lantai sambil memilah gulungan.
"Yang ini tentang rune."
Rowan mengambilnya.
"Bukan. Ini catatan tentang perubahan arah jalur."
Ace melihat tulisan di atasnya.
"...Kenapa semuanya terlihat seperti tulisan orang yang sedang marah?"
Rowan menghela napas.
"Itu tulisan Elyon."
Elyon yang sedang berdiri di sisi meja langsung menoleh.
"Aku dengar."
Ace tersenyum kaku.
"Aku bilang bagus."
Elarion yang berada di samping Elyon terkekeh kecil.
"Letakkan saja di sebelah kanan."
Ace menurut.
"Yang ini?"
"Sebelah kiri."
"Yang ini?"
"Belakang."
Ace menatap tumpukan gulungan.
"Kenapa aku merasa aku bekerja sebagai pustakawan?"
Rowan menjawab datar.
"Karena memang kau sedang bekerja sebagai pustakawan."
Ace terdiam.
"...Aku seorang royal guard."
"Untuk malam ini, tidak."
Kevin duduk di ujung meja lain.
Beberapa lembar desain magical dummy berada di hadapannya.
Ia masih memeriksa hasil latihan Darrien selama satu bulan terakhir.
Sesekali ia menulis sesuatu.
Kemudian berhenti.
Menghitung.
Menulis lagi.
Darrien tidak memperhatikannya.
Ia berdiri di dekat jendela.
Tubuhnya bersandar ringan pada bingkai jendela.
Tatapannya mengarah ke langit malam.
Bulan sabit menggantung di antara awan tipis.
Cahaya pucatnya jatuh ke wajah Darrien.
Untuk beberapa saat...
ia hanya diam.
Entah kenapa malam itu terasa berbeda.
Seolah-olah jika ia menatap bulan cukup lama—
ia bisa melihat Shadowcresent di balik cahaya itu.
Melihat pegunungan.
Melihat istana.
Dan mungkin...
melihat Fiona.
Darrien mengepalkan tangan.
Sudah terlalu lama.
Terlalu lama sejak terakhir kali ia melihatnya.
Terlalu lama sejak Fiona memandangnya tanpa mengenalinya.
Terlalu lama sejak perempuan yang ia cintai berdiri di sisi pria lain.
Ia menarik napas.
Kemudian perlahan berkata,
"Besok kita berangkat."
Semua aktivitas di ruangan berhenti.
Ace meletakkan gulungan.
Rowan mengangkat kepala.
Elyon menutup catatannya.
Elarion menoleh.
Kevin bahkan berhenti menulis.
Darrien masih menatap bulan.
"Kita tetap mengikuti rencana."
Ia berbicara tenang.
"Gunakan jalur baru yang sudah kita temukan."
Rowan mengangguk.
"Jika jalurnya berubah lagi, kita menyesuaikan."
"Ya."
Darrien akhirnya berbalik dari jendela.
"Dan jika kita masih tidak bisa menemukan jalan sebenarnya menuju istana..."
Tatapannya menjadi lebih tajam.
"...kita gunakan cara kedua."
Ace langsung tahu maksudnya.
"Si 'kunci' itu?"
Darrien mengangguk.
"Jika mekanisme yang membuat jalur itu berubah memang terhubung pada satu sumber..."
Ia mengepalkan tangan.
"...kita hancurkan."
Ruangan kembali sunyi.
Elyon menyandarkan tubuhnya pada meja.
"Kita belum tahu apakah mekanismenya benar-benar berupa satu kunci."
"Aku tahu."
Darrien mengangguk.
"Itu hanya hipotesis."
Elarion menatapnya.
"Dan jika ternyata bukan?"
"Kalau begitu kita cari cara lain."
Darrien menarik napas.
Namun kali ini suaranya sedikit berubah.
Lebih berat.
"Aku hanya..."
Ia berhenti.
Tatapannya turun.
"Aku tidak bisa menerima Fiona tetap bersama Raizen lebih lama lagi."
Ace tidak bercanda.
Rowan juga diam.
Mereka semua memahami perasaan itu.
Darrien telah menunggu terlalu lama.
Bukan satu minggu.
Bukan satu bulan.
Dan bukan sekadar beberapa tahun.
Ia telah mengejar Fiona melewati begitu banyak hal.
Ia kehilangan kesempatan.
Gagal.
Mencoba lagi.
Dan setiap kali mereka mendekati Shadowcresent—
mereka dipaksa kembali.
Namun sekarang...
mereka sudah tahu lebih banyak.
Mereka lebih kuat.
Dan Darrien bukan lagi pria yang sama seperti sebelumnya.
Elyon akhirnya berbicara.
"Kita semua mengerti."
Ia menatap Darrien.
"Kami juga sudah menunggu hari ini."
Elarion mengangguk.
"Namun kita tetap harus berhati-hati."
Darrien mengangguk.
"Tentu."
Kevin mengangkat satu gulungan.
"Dan kalau kita masuk ke dalam gunung..."
Ia menunjuk peta.
"...kita jangan langsung menghancurkan sesuatu sebelum mengetahui reaksinya."
Darrien menatapnya.
"Aku tahu."
Kevin tersenyum tipis.
"Bagus."
Ace menoleh kepada Kevin.
"Kenapa aku merasa kau ingin mengumpulkan data lagi?"
Kevin diam.
Ace menyipitkan mata.
"Kevin."
"...Aku hanya bertanya."
"Kau tersenyum."
Kevin kembali melihat gulungan.
"Aku tidak."
Rowan langsung berkata,
"Dia tersenyum."
Elyon mengangguk.
"Benar."
Elarion menahan tawa.
Darrien memijat pelipisnya.
"Besok kita perang dengan gunung."
Ace menunjuk Kevin.
"Dan dia malah memikirkan data."
Kevin menjawab santai,
"Informasi penting."
Ace menghela napas.
"Monster."
Kevin tidak membantah.
Darrien akhirnya tersenyum kecil.
Namun senyum itu segera menghilang.
Ia kembali serius.
"Kalau kita masih berada di dalam gunung sampai siang..."
Semua kembali memperhatikannya.
"...kita berhenti bermain dengan jalur mereka."
Darrien menatap satu per satu anggota tim.
"Setelah tengah hari..."
Ia berhenti sebentar.
"...kita hancurkan pertahanan mereka."
Tidak ada yang langsung menjawab.
Mereka semua tahu risikonya.
Shadowcresent bukan kerajaan biasa.
Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi jika sistem ruang di gunung benar-benar terganggu.
Bisa saja jalur teleportasi runtuh.
Bisa saja mereka terlempar ke tempat lain.
Bisa saja seluruh pegunungan bereaksi.
Atau lebih buruk—
mereka justru membuat pertahanan Shadowcresent menjadi lebih kuat.
Namun mereka juga tahu satu hal.
Mereka sudah meneliti terlalu lama.
Sudah berlatih terlalu lama.
Dan sudah menunggu terlalu lama.
Akhirnya Rowan menghela napas.
"Baik."
Darrien menoleh.
Rowan menunjuk peta.
"Kita ikuti jalur baru sampai tengah hari."
Elyon mengangguk.
"Kalau belum ada hasil..."
Elarion melanjutkan,
"...kita gunakan rencana kedua."
Kevin menutup gulungannya.
"Aku setuju."
Ace mengangkat tangan.
"Terpaksa."
Semua menoleh kepadanya.
Ace mengangkat bahu.
"Apa?"
Ia menghela napas dramatis.
"Kalian tahu aku sebenarnya suka hidup."
Elyon tertawa kecil.
"Sayangnya kau ikut kami."
Ace menunjuk Darrien.
"Semua karena dia."
Darrien mengangkat alis.
"Kenapa aku?"
"Karena kau punya masalah dengan vampire."
Darrien mendengus.
"Dan kau?"
Ace menunjuk dirinya sendiri.
"Aku punya masalah dengan keputusan hidupku."
Rowan tertawa.
Bahkan Darrien akhirnya tersenyum.
Ketegangan ruangan sedikit mencair.
Namun hanya sebentar.
Karena semua tahu...
besok bukan perjalanan biasa.
Besok adalah langkah terakhir sebelum mereka benar-benar berhadapan dengan Shadowcresent.
Darrien berjalan kembali ke jendela.
Bulan masih berada di sana.
Ia menatapnya sekali lagi.
Kemudian berkata,
"Bagus."
Senyum kecil muncul.
"Aku lebih suka begitu."
Ia menoleh kepada semua anggota tim.
"Siang."
Tatapannya tajam.
"Kalau sampai siang kita masih terjebak..."
Tangannya mengepal.
"...kita akan mengamuk di gunung penuh kebohongan itu."
Ace berdiri.
"Gunung penuh kebohongan?"
Darrien mengangguk.
Ace tersenyum.
"Nama yang bagus."
Rowan menggeleng.
"Jangan ikut-ikutan."
Elyon tertawa kecil.
Elarion hanya menghela napas.
Namun akhirnya—
semua mengangguk.
Mereka setuju.
Setidaknya...
itulah rencana terbaik yang mereka miliki.
---
Keesokan harinya.
Pagi datang terlalu cepat.
Di depan gerbang utama Istana Veyth—
rombongan kecil itu sudah berkumpul.
Darrien mengenakan perlengkapan perjalanan.
Ace memeriksa senjatanya.
Rowan membawa gulungan dan catatan.
Kevin membawa perlengkapan sihir.
Elyon dan Elarion memastikan semua kebutuhan perjalanan telah lengkap.
King Edward dan Queen Gloria berdiri di depan mereka.
Gloria menatap putranya cukup lama.
Kemudian ia melangkah maju.
Ia memegang kedua tangan Darrien.
"Hati-hati."
Darrien mengangguk.
"Ibu juga."
Gloria tersenyum sedih.
"Jangan membuat Ibu menunggu terlalu lama."
Darrien terdiam sebentar.
Kemudian menjawab,
"Aku akan membawa Fiona pulang."
Air mata tipis terlihat di mata Gloria.
Ia memeluk putranya.
Darrien membalas pelukan itu.
Edward berdiri beberapa langkah dari mereka.
Wajahnya tetap tegas.
Namun matanya menyimpan kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan.
Ketika Darrien mendekat—
Edward menepuk bahunya.
"Jaga dirimu."
Darrien mengangguk.
"Aku akan kembali."
Edward menatapnya.
"Kalian semua."
Ia menatap Ace, Rowan, Kevin, Elyon, dan Elarion.
"Jangan biarkan satu orang pun tertinggal."
Ace mengangkat tangan.
"Tenang, Yang Mulia."
Ia tersenyum.
"Kami akan pulang."
Kevin meliriknya.
"Semoga."
Ace menoleh.
"Kenapa 'semoga'?"
Kevin hanya diam.
"Hei!"
Rowan menahan tawa.
Darrien menghela napas.
Kemudian ia menatap kedua orang tuanya untuk terakhir kalinya.
"Doakan kami."
Gloria mengangguk.
"Selalu."
Edward mengangguk pelan.
"Pergilah."
Darrien berbalik.
Rombongan mulai berjalan.
Beberapa langkah kemudian—
Darrien berhenti.
Ia menatap langit.
Lalu ke arah pegunungan jauh di depan.
"Fiona..."
Tangannya mengepal.
"Tunggu aku."
Kemudian ia melangkah lagi.
Menuju Shadowcresent.
Menuju Fiona.
Dan menuju pertempuran yang selama ini mereka tunggu.
Share this novel