Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 296 — TARGET BERIKUTNYA
Pertempuran semakin kacau.
Namun sesuatu telah berubah.
Sejak cahaya Fiona menyelimuti tubuh mereka—
gerakan seluruh kelompok menjadi jauh lebih cepat.
Serangan yang sebelumnya sulit dihindari kini dapat dibaca dengan lebih mudah.
Langkah mereka menjadi ringan.
Reaksi mereka meningkat.
Bahkan sihir yang mereka gunakan terasa lebih responsif.
Dan para vampire mulai merasakan perbedaannya.
***
Darrien dan Kaguya kembali bertabrakan.
CLANG!
Darrien menghindari serangan berikutnya.
Kaguya menyerang dari samping.
Darrien berputar.
Menangkis.
Kemudian membalas.
Kali ini—
Kaguya tidak lagi bisa memaksanya mundur dengan mudah.
Tatapan Kaguya berubah.
“Kecepatanmu…”
Darrien tidak menjawab.
Ia kembali menyerang.
Kaguya menahan serangan tersebut.
Namun langkah Darrien sudah berubah.
Lebih cepat.
Lebih presisi.
Lebih terkendali.
Kaguya menyadarinya.
“Jadi itu kekuatan gadis itu.”
Darrien hanya menatapnya.
***
Di sisi lain—
Elyon menghadapi dua vampire sekaligus.
Ia bergerak cepat.
Satu serangan ditangkis.
Serangan berikutnya dihindari.
Namun di sela-sela pertarungan—
matanya terus kembali kepada Fiona.
Fiona masih berdiri di belakangnya.
Cahaya terus mengalir dari tubuhnya menuju anggota kelompok lainnya.
Elyon langsung menyadari sesuatu.
*Dia tidak boleh terganggu.*
Seorang supporter yang sedang mempertahankan penguatan untuk begitu banyak orang tidak boleh dipaksa menghadapi serangan secara langsung.
Elyon menghela napas.
“Ini pekerjaan tambahan.”
Ia mengangkat tangannya.
Sebuah lingkaran sihir muncul di sekitar Fiona.
Kemudian—
**BOOM!**
Sebuah penghalang transparan terbentuk.
Mengelilingi Fiona.
Fiona menoleh.
“Elyon?”
“Teruskan.”
“Tapi kau sendiri—”
“Aku bisa menangani ini.”
Elyon kembali menghadapi vampire di depannya.
“Kau hanya perlu tetap fokus.”
Fiona melihat penghalang tersebut.
Kemudian tersenyum kecil.
“Baik.”
Ia kembali memusatkan pikirannya.
Cahaya dari tubuhnya terus mengalir.
***
Elyon menghindari serangan.
Kemudian membalas.
Namun sekarang ia harus melakukan dua hal sekaligus.
Melawan vampire.
Dan memastikan tidak ada seorang pun yang mendekati Fiona.
Salah satu vampire mencoba menerobos ke arah penghalang.
Elyon langsung muncul di depannya.
“Tidak.”
BOOM!
Serangan sihir menghantam vampire tersebut.
Vampire itu terlempar.
Elyon kembali mengambil posisi.
“Lewati aku dulu.”
***
Tidak jauh dari sana—
Mufasa memperhatikan semuanya.
Ia melihat bagaimana para vampire mulai kesulitan.
Ace bergerak semakin cepat.
Rowan menggunakan sihir dengan lebih lancar.
Kevin menahan serangan mereka dengan lebih mudah.
Bahkan Elarion yang sebelumnya harus berhati-hati kini mulai mengimbangi lawannya.
Mufasa menyipitkan mata.
“Bukan mereka.”
Giselle menoleh.
“Apa?”
Mufasa menunjuk ke arah Fiona.
“Dia.”
Giselle terdiam.
Cahaya Fiona masih terus menyebar.
“Dia yang membuat mereka seperti itu.”
“Benar.”
Giselle memperhatikan penghalang yang dibuat Elyon.
“Dan dia dilindungi.”
Mufasa mengangguk.
“Karena mereka tahu.”
Giselle tersenyum tipis.
“Kalau begitu…”
Ia melihat seluruh medan perang.
“Tidak perlu mengalahkan mereka satu per satu.”
Tatapannya kembali kepada Fiona.
“Cukup hentikan sumbernya.”
Mufasa mengerti.
Namun mereka segera menyadari masalah lain.
Elyon berdiri tepat di depan Fiona.
Kevin masih berada di sekitar.
Ace dan Rowan juga tidak jauh.
Mereka tidak akan bisa mendekatinya begitu saja.
Giselle berpikir.
“Kita membutuhkan cara untuk memisahkan mereka.”
Mufasa mengangguk.
“Dan jangan membuat gadis itu berhenti secara paksa.”
Giselle menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena jika kita menyerangnya secara langsung…”
Ia melihat cahaya yang terus menyebar.
“…kita tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Giselle terdiam.
Mufasa kemudian berkata,
“Kita hanya perlu membuat konsentrasinya pecah.”
Senyum tipis muncul di wajah Giselle.
“Jadi…”
Ia menatap Fiona.
“…buat dia memilih siapa yang harus diselamatkan.”
Mufasa mengangguk.
“Ya.”
***
Di tengah medan—
Fiona masih belum menyadari percakapan tersebut.
Ia hanya terus mempertahankan cahaya.
Satu demi satu.
Darrien.
Elarion.
Elyon.
Ace.
Rowan.
Kevin.
Semua mendapatkan penguatan.
Namun semakin lama—
semakin banyak energi yang harus ia pertahankan.
Keringat mulai muncul di dahinya.
Elyon meliriknya.
“Kau baik-baik saja?”
Fiona mengangguk.
“Masih bisa.”
Elyon menatapnya beberapa detik.
Kemudian kembali menghadap medan perang.
Ia belum menyadari—
bahwa dua vampire di depan mereka baru saja menemukan sasaran berikutnya.
Bukan Darrien.
Bukan Kevin.
Bukan dirinya.
**Fiona.**
Dan kali ini—
mereka tidak berniat menyerangnya secara langsung.
Mereka ingin membuatnya berhenti sendiri.
