Series
94
BAB 78
KEMARAHAN TERAKHIR
Darrien tidak bergerak.
Fiona terbaring lemas di dalam pelukannya.
Darah masih mengalir.
Tangannya gemetar.
“Fiona…”
Tidak ada jawaban.
Ia menempelkan telapak tangannya ke tubuh Fiona.
Tidak ada denyut yang terasa.
Tidak ada reaksi.
Sesuatu di dalam dirinya pecah.
Hawa hitam meledak dari tubuh Darrien.
Tanah di bawah kakinya retak.
Langit di atas lembah menjadi gelap.
Kevin langsung berteriak.
“DARRIEN!”
Tidak ada jawaban.
Darrien berdiri perlahan.
Ia masih menggendong Fiona dengan satu tangan.
Matanya kosong.
Namun seluruh tubuhnya dipenuhi sihir gelap.
Surya mundur selangkah.
“Apa…”
Marcus menatapnya dengan wajah pucat.
“Aura itu…”
Keith Varian juga merasakan tekanan tersebut.
“Semua mundur!”
Terlambat.
Darrien mengangkat tangan.
**BOOM!**
Gelombang sihir menghantam seluruh medan.
Para penjaga terpental.
Beberapa senjata hancur.
Penghalang Varian retak.
Kevin mencoba mendekat.
“Darrien! Berhenti!”
Darrien menoleh.
“Jangan.”
Hanya satu kata.
Namun suaranya terdengar jauh lebih dingin daripada sebelumnya.
“Mereka membunuhnya.”
Elarion berusaha mendekat.
“Darrien, dengarkan aku!”
“Tidak.”
Sihir kembali meledak.
Elarion terpaksa mundur.
Ace mengepalkan tangan.
“Kevin.”
“Aku tahu.”
Mereka bertiga saling memandang.
Kevin menggeleng.
“Jangan menyerangnya.”
“Lalu apa?”
“Kalau kita memaksanya sekarang…”
Kevin menatap Darrien.
“…dia akan melawan kita juga.”
***
Darrien bergerak.
Satu penjaga mencoba menyerangnya.
Dalam sekejap—
Darrien sudah berada di belakangnya.
Satu gerakan.
Penjaga itu jatuh.
Penjaga lain menyerang.
Es hitam muncul dari tanah.
Sihir menghantam.
Satu demi satu mereka jatuh.
Darrien tidak berhenti.
Tidak ada belas kasihan.
Tidak ada keraguan.
Ia hanya bergerak menuju satu tujuan.
Orang-orang yang telah mengambil Fiona darinya.
Surya mencoba mundur.
“Lindungi keluarga!”
Para penjaga Ardika membentuk barisan.
Darrien menghantam mereka.
Barisan itu pecah.
Keith Varian maju.
“Cukup!”
Ia mengeluarkan sihir tingkat tinggi.
Darrien mengangkat tangan.
Sihir mereka bertabrakan.
**BOOM!**
Keith terdorong jauh ke belakang.
Ia menatap Darrien dengan tidak percaya.
“Anak ini…”
Darrien menatapnya.
“Ini salah kalian.”
Sihir gelap kembali muncul.
Namun sebelum ia menyerang—
sebuah suara terdengar.
“Darrien!”
Kevin.
Tidak ada reaksi.
“Darrien!”
Elarion.
Tidak ada.
Ace berteriak,
“Fiona tidak akan ingin melihatmu seperti ini!”
Darrien membeku.
Hanya sesaat.
Kemudian ia menatap Fiona dalam pelukannya.
Wajah gadis itu masih pucat.
Ia mengusap pipinya.
“Dia sudah pergi…”
Suaranya pecah.
“Aku gagal lagi.”
Kevin menutup matanya.
Ia tidak tahu bagaimana menghentikannya.
***
Darrien kembali berdiri.
Sihir hitam mulai berkumpul di tangannya.
Surya dan Keith sama-sama bersiap.
Namun sebelum serangan dilepaskan—
Darrien berhenti.
Ekspresinya berubah.
Ia menatap Fiona.
“Apa…”
Tangannya gemetar.
Ia menempelkan telapak tangan ke dadanya.
Menunggu.
Tidak ada.
Kemudian—
**thump.**
Darrien membeku.
Matanya membesar.
Ia menunggu.
**Thump.**
Sangat lemah.
Hampir tidak terasa.
Namun ada.
“Tidak…”
Ia menatap Fiona.
Kemudian menyentuh tubuhnya lagi.
“Fiona?”
Denyut itu masih ada.
Lemah.
Sangat lemah.
Namun nyata.
Darrien menundukkan kepala.
Air mata jatuh.
“Dia masih hidup…”
Seluruh sihir hitam di sekelilingnya perlahan menghilang.
Kevin langsung bergerak.
“Elarion!”
Elarion sudah berlari.
“Baringkan dia!”
Darrien segera berlutut.
Namun saat Elarion hendak menyentuh luka itu—
Darrien melihat sesuatu.
Bilah yang menancap tadi.
Ia menatap posisinya.
Kemudian menyadari—
bilah itu tidak menembus jantung.
Hanya beberapa inci.
Beberapa inci dari kematian.
Darrien menarik napas gemetar.
“Dia…”
Elarion mengangguk.
“Masih bisa diselamatkan.”
Darrien menatapnya.
“Selamatkan dia.”
“Aku akan mencoba.”
“Bukan mencoba.”
Darrien menggenggam tangan Fiona.
“Selamatkan dia.”
Elarion menatap matanya.
Kemudian mengangguk.
“Aku akan melakukan yang terbaik.”
Darrien akhirnya melepaskan Fiona.
Namun sebelum Elarion mulai mengobatinya—
Darrien menoleh ke arah Ardika dan Varian.
Tatapannya tidak lagi dipenuhi kegilaan.
Namun juga tidak ada pengampunan.
Hanya satu janji yang dingin.
**Ini belum selesai.**
Share this novel