Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 213
DARI JENDELA ISTANA
Dari salah satu aula tinggi Istana Veyth—
Raja dan Ratu Veyth berdiri di dekat jendela besar.
Dari sana, mereka bisa melihat area latihan kerajaan.
Barrier masih berdiri.
Di dalamnya—
Darrien dan Kevin masih bertarung.
Serangan demi serangan terdengar dari kejauhan.
Raja Edward memperhatikan putranya dengan tatapan serius.
“Kevin tidak memberinya waktu untuk bernapas.”
Ratu Gloria berdiri di sampingnya.
“Bukankah itu memang cara Kevin melatih?”
“Ya.”
Edward menghela napas.
“Tapi dia baru kembali.”
Tatapannya mengikuti gerakan Darrien.
Putranya berhasil menghindari serangan Kevin.
Namun beberapa detik kemudian—
**BAM!**
Darrien kembali terdorong.
Gloria refleks mengernyit.
“Kasihan.”
Edward tersenyum kecil.
“Dia memang membutuhkan latihan.”
“Aku tahu.”
Gloria menghela napas.
“Tapi tetap saja…”
Ia memperhatikan Darrien yang kembali berdiri.
“Dia baru saja mendapatkan kembali keluarganya.”
“Dan sekarang langsung dipaksa berlatih seperti itu.”
Edward tertawa kecil.
“Kalau aku mengenal Kevin dengan benar…”
Ia berhenti.
“...dia mungkin menganggap ini sebagai bentuk penyambutan.”
Gloria menatap suaminya.
“Penyambutan?”
“Dengan cara memukulnya?”
Edward tertawa.
“Kurang lebih.”
Gloria akhirnya ikut tertawa.
Namun kemudian ekspresinya melunak.
Ia melihat Fiona yang berdiri di luar barrier.
Fiona tampak memperhatikan Darrien dengan serius.
Sesekali cahaya kecil terlihat dari tangannya.
“Fiona masih di sana.”
Edward mengangguk.
“Dia tidak meninggalkannya.”
Gloria tersenyum.
“Setidaknya Darrien memiliki seseorang yang selalu memperhatikannya.”
Edward terdiam sejenak.
Kemudian mengangguk.
“Aku juga melihat Elarion.”
“Dia juga tetap berada di dekat mereka.”
Gloria tersenyum.
“Putra kita akhirnya tidak sendirian.”
Edward kembali menatap arena.
Darrien memang terlihat lelah.
Namun—
ia masih berdiri.
Masih melawan.
Masih belajar.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—
Edward tidak perlu bertanya-tanya apakah putranya masih hidup.
Ia bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri.
“Dia tumbuh dengan baik.”
Gloria menatap suaminya.
“Meski kita tidak berada di sisinya selama ini.”
Edward terdiam.
Ada sedikit rasa bersalah di matanya.
“Kita kehilangan terlalu banyak waktu.”
Gloria menyentuh tangannya.
“Sekarang dia sudah kembali.”
Edward menatapnya.
“Benar.”
Ia kembali melihat arena.
“Dan kali ini…”
“Kita tidak akan kehilangan dia lagi.”
***
Di bawah sana—
latihan akhirnya berakhir.
Barrier perlahan menghilang.
Darrien berdiri dengan napas berat.
Kevin menepuk bahunya.
“Cukup untuk hari ini.”
Darrien hanya mengangguk.
Ia bahkan tidak memiliki tenaga untuk mengeluh.
Fiona langsung menghampirinya.
“Darrien.”
“Aku baik-baik saja.”
Fiona tertawa kecil.
“Aku belum bertanya.”
Darrien terdiam.
Elarion berjalan di sisi lain.
“Dia benar-benar lelah.”
Fiona mengangguk.
“Kalau begitu kita harus membawanya kembali.”
Darrien mengangkat tangan.
“Aku masih bisa berjalan.”
Fiona menatapnya.
“Kalau begitu berjalanlah.”
Darrien mulai berjalan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian berhenti sebentar.
Fiona langsung menahan tawanya.
“Kau yakin?”
Darrien menghela napas.
“Jangan bicara.”
Elarion tertawa kecil.
“Sepertinya latihan hari ini berhasil.”
Darrien menatapnya.
“Jangan ikut Kevin.”
Fiona tertawa.
Akhirnya—
ketiganya berjalan menuju koridor istana.
Fiona di satu sisi.
Elarion di sisi lainnya.
Sementara Darrien berjalan di tengah dengan tubuh yang benar-benar kelelahan.
Dari kejauhan—
Edward dan Gloria masih memperhatikan mereka dari jendela.
Gloria tersenyum.
“Dia sudah punya orang-orang yang menjaganya.”
Edward mengangguk.
“Ya.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—
mereka melihat pewaris mereka kembali ke istana.
Bukan sebagai bayangan masa lalu.
Melainkan sebagai seseorang yang akhirnya memiliki tempat untuk pulang.
