445. Mungkin Mereka Akan Menyerah

Romance Completed 594

BAB 445 — MUNGKIN MEREKA AKAN MENYERAH

Hari-hari di pegunungan Shadowcresent terasa semakin panjang.

Veyth masih berada di sana.

Namun bagi Mufasa dan para penjaga vampir...

perjalanan itu seharusnya sudah mulai membuat mereka menyerah.

Sudah terlalu lama.

Terlalu banyak jalur yang berubah.

Terlalu banyak perangkap.

Terlalu banyak sihir yang harus mereka pahami.

Dan mereka bahkan belum benar-benar mencapai pusat wilayah Shadowcresent.

Mufasa berdiri di sebuah pos pengamatan bersama beberapa penjaga dan penyihir vampir.

Salah satu penjaga baru saja menerima laporan.

"Mereka masih bergerak."

Mufasa mengangkat alis.

"Masih?"

"Ya."

Ia terdiam.

Kemudian menghela napas.

"Berapa lama mereka sudah berada di sana?"

"Beberapa hari."

Mufasa menatap pegunungan.

"Seharusnya mereka sudah cukup lelah."

Salah satu penyihir vampir mengangguk.

"Persediaan mereka juga pasti mulai menipis."

Penjaga lain ikut menambahkan,

"Dan mereka belum mengetahui seluruh jalur menuju istana."

Mufasa menyilangkan tangan di depan dada.

"Kalau begitu..."

Ia tersenyum tipis.

"Mungkin kali ini mereka akan menyerah."

Para penjaga saling memandang.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Karena bahkan mereka sendiri mulai ragu.

Namun Mufasa tetap berharap.

Bukan karena ia meremehkan Veyth.

Justru karena ia sudah melihat sendiri seberapa banyak tenaga yang mereka keluarkan untuk mencapai tempat itu.

Tidak mungkin seseorang terus berjalan tanpa batas.

Pada akhirnya...

mereka pasti lelah.

Pasti memilih pulang.

Setidaknya, itulah yang Mufasa pikirkan.

---

Jauh dari pegunungan...

suasananya benar-benar berbeda.

Tidak ada perangkap.

Tidak ada kabut.

Tidak ada rune.

Tidak ada Veyth.

Hanya suara air yang jatuh.

Starlight Falls.

Raizen membawa Fiona kembali ke tempat itu.

Bukan pertama kalinya.

Fiona sudah pernah melihat air terjun ajaib itu sebelumnya.

Namun begitu melihat cahaya seperti bintang yang bergerak di antara aliran air...

matanya tetap berbinar.

"Masih seindah ini."

Raizen yang berjalan di sampingnya tersenyum.

"Aku tahu."

Fiona menoleh.

"Kau terdengar seperti sudah yakin aku akan mengatakan itu."

"Karena kau memang mengatakannya waktu pertama kali datang."

Fiona tertawa kecil.

"Jadi kau mengingatnya?"

"Semua yang berkaitan denganmu."

Fiona terdiam sesaat.

Kemudian memukul lengannya pelan.

"Rayuan lagi."

"Fakta."

Fiona tersenyum.

Mereka berjalan menuju tempat yang pernah mereka duduki pada kunjungan sebelumnya.

Sebuah batu besar di dekat air terjun.

Fiona duduk lebih dulu.

Raizen kemudian duduk di sampingnya.

Tidak lama kemudian, Fiona bersandar padanya seperti sebelumnya.

Namun kali ini terasa lebih alami.

Tidak ada rasa canggung.

Tidak ada rasa ingin menjaga jarak.

Hanya kebiasaan kecil yang terbentuk selama mereka bersama.

Raizen membiarkannya.

Tangannya melingkar santai di pinggang Fiona.

Fiona menatap air yang jatuh.

"Tempat ini tetap menjadi favoritku."

"Aku tahu."

"Kenapa kau tersenyum?"

"Karena sekarang aku tahu aku bisa membawamu kembali ke sini kapan pun aku mau."

Fiona menoleh.

"Kalau begitu..."

Ia tersenyum.

"Jangan hanya sekali."

Raizen menatapnya.

"Baik."

Jawabannya sederhana.

Tidak ada janji besar.

Namun Fiona terlihat puas.

Mereka kemudian hanya duduk di sana.

Kadang berbicara.

Kadang tertawa.

Kadang diam.

Fiona bahkan sempat menunjuk beberapa cahaya kecil yang bergerak di permukaan air dan mencoba menghitungnya.

Raizen hanya memperhatikannya.

"Berapa?"

"Belum tahu."

"Kau sudah menghitung selama sepuluh menit."

"Aku hampir berhasil."

Raizen tertawa pelan.

"Baik."

Ia tidak mengganggunya lagi.

Fiona melanjutkan hitungannya.

Beberapa saat kemudian...

ia kehilangan hitungan.

"Ah!"

Raizen tersenyum.

"Kau gagal."

"Karena kau membuatku kehilangan konsentrasi."

"Aku bahkan tidak melakukan apa-apa."

"Itu lebih mengganggu."

Raizen tertawa.

Untuk beberapa waktu...

dunia terasa begitu sederhana.

Fiona.

Air terjun.

Cahaya seperti bintang.

Dan ketenangan.

Raizen tidak memikirkan perang.

Tidak memikirkan kerajaan.

Tidak memikirkan masa lalu.

Setidaknya untuk sementara.

Ia hanya menikmati keberadaan Fiona di sisinya.

---

Sementara itu...

di pegunungan.

Veyth masih berjalan.

Mereka belum menyerah.

Mereka berhenti hanya untuk beristirahat.

Kemudian kembali berjalan.

Mufasa menerima laporan berikutnya.

"Mereka menemukan jalur baru."

Mufasa menghela napas.

"Masih?"

"Ya."

Ia menatap pegunungan dengan ekspresi datar.

"Benar-benar keras kepala."

Salah satu penjaga tersenyum.

"Mungkin mereka akan berhenti besok."

Mufasa mengangguk.

"Mungkin."

Ia sendiri mulai menyadari sesuatu.

Harapan bahwa Veyth akan menyerah terdengar semakin seperti doa.

Namun untuk saat ini...

ia masih ingin mempercayainya.

---

Malam mulai turun di Starlight Falls.

Fiona sudah bersandar sepenuhnya pada Raizen.

Matanya setengah tertutup.

"Raizen."

"Hm?"

"Aku suka tempat ini."

Raizen menatapnya.

"Aku tahu."

Fiona tersenyum kecil.

"Kalau begitu..."

Ia berhenti sebentar.

"Terima kasih sudah membawaku kembali."

Raizen tidak langsung menjawab.

Ia hanya mempererat pelukannya sedikit.

"Sama-sama."

Mereka kembali diam.

Cahaya dari Starlight Falls memantul di wajah mereka.

Raizen menatap air terjun.

Lalu menatap Fiona.

Untuk saat ini...

ia tidak membutuhkan apa pun lagi.

Ia hanya ingin menikmati waktu seperti ini.

Tidak tahu bahwa jauh di balik pegunungan...

sekelompok orang yang seharusnya sudah menyerah...

masih terus berjalan.

Dan jika Mufasa mengetahui hal itu sekarang...

ia mungkin akan mulai mempertanyakan harapannya sendiri.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience