494. Batas Yang Mulai Retak

Romance Completed 594

BAB 494 — BATAS YANG MULAI RETAK

Main hall Shadowcresent masih dipenuhi keheningan.

Tidak ada seorang pun yang bergerak.

Tidak setelah apa yang baru saja terjadi.

Fiona masih berdiri sangat dekat dengan Raizen.

Wajahnya memerah.

Ia bahkan tidak berani menatap keenam orang yang baru saja memasuki ruangan.

Beberapa detik sebelumnya, ia masih berada dalam suasana yang tenang bersama Raizen.

Mereka hanya sedang menikmati waktu berdua.

Tidak ada perang.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada masa lalu yang mengganggu.

Hanya secangkir teh dan percakapan kecil.

Lalu pintu terbuka.

Dan seluruh suasana berubah menjadi sesuatu yang sangat sulit dijelaskan.

Fiona akhirnya menundukkan kepalanya.

Tangannya masih berada di dekat dada Raizen.

"Raizen..."

"Hm?"

"Mereka melihat kita."

"Aku tahu."

Jawaban Raizen begitu tenang hingga Fiona semakin malu.

"Jangan bilang begitu."

"Kenapa?"

Fiona mengangkat wajahnya sedikit.

Tatapannya bertemu dengan mata crimson Raizen.

"Karena..."

Ia berhenti.

Ia sendiri tidak tahu harus berkata apa.

Raizen melihat wajahnya beberapa saat.

Kemudian tanpa mengatakan apa-apa, ia menarik Fiona lebih dekat ke dalam pelukannya.

Fiona terkejut.

"Raizen!"

"Apa?"

"Kau..."

Fiona melirik ke arah Veyth.

"Mereka masih di sana."

"Aku tahu."

"Kau sengaja?"

Raizen tidak menjawab.

Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

Fiona akhirnya menyerah.

Ia menyembunyikan wajahnya di dada Raizen.

"Memalukan..."

Raizen mengusap rambutnya pelan.

"Biarkan saja."

Ia kemudian mengangkat pandangan.

Tatapannya langsung tertuju kepada keenam anggota Veyth.

Dingin.

Tenang.

Namun jelas menunjukkan satu hal.

**Kalian mengganggu waktuku bersama Fiona.**

***

Di ambang pintu—

Mufasa masih berdiri di sana.

Kedua matanya tertutup.

Wajahnya sangat tenang.

Terlalu tenang.

Seolah apa pun yang terjadi di dalam ruangan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

"Aku tidak melihat apa pun."

Ace menoleh kepadanya.

"Kau bicara sendiri?"

"Tidak."

Mufasa tetap memejamkan mata.

"Aku hanya memastikan diriku sendiri bahwa aku tidak melihat apa pun."

Ace mengangguk pelan.

"Oh."

Ia menatap Mufasa beberapa detik.

"Bijaksana."

Mufasa membuka satu mata.

"Jangan bicara denganku."

Ace langsung mengangkat kedua tangannya.

"Baik."

Kevin menahan tawa.

Elarion menghela napas.

"Bisakah kita semua berhenti mempermalukan diri sendiri?"

Rowan menjawab pelan.

"Kurasa sudah terlambat."

Elyon hanya tersenyum kecil.

Sementara Darrien...

masih diam.

Matanya tidak pernah meninggalkan Fiona.

***

Fiona akhirnya perlahan mengangkat wajahnya.

Dan kembali melihat Darrien.

Mata mereka bertemu.

Untuk beberapa detik—

dunia seolah berhenti.

Darrien tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya melihatnya.

Ia sudah membayangkan momen ini begitu lama.

Membayangkan bagaimana perasaannya saat akhirnya melihat Fiona kembali.

Ia mengira dirinya akan marah.

Atau menangis.

Atau langsung berlari kepadanya.

Namun ternyata...

ia hanya berdiri.

Karena kenyataan di hadapannya jauh lebih berat daripada semua bayangan yang pernah ia buat dalam pikirannya.

Fiona ada di sana.

Tetapi tatapannya bukan lagi tatapan wanita yang mengingatnya.

Dan tubuhnya berada dalam pelukan Raizen.

Jari-jari Darrien perlahan mengepal.

Kemudian mengendur lagi.

Ia menarik napas.

Dalam.

Pelan.

Sekali lagi.

*Tenang.*

Ia tidak datang sejauh ini untuk kehilangan kendali.

Tidak sekarang.

Tidak di depan Fiona.

Tidak setelah semua yang telah ia lewati.

Raizen memperhatikan gerakan tangan Darrien.

Tatapan keduanya bertemu.

Raizen langsung memahami bahwa pria itu sedang menahan sesuatu.

Namun Raizen tidak merasa perlu memberi kesempatan.

Ia hanya mempererat pelukannya pada Fiona.

Seolah mengingatkan Darrien tanpa kata-kata—

**dia berada di sisiku.**

Darrien melihatnya.

Dadanya terasa sesak.

Tetapi ia tetap diam.

***

Raizen akhirnya berbicara.

"Jadi..."

Suaranya terdengar tenang.

"Kalian akhirnya tiba."

Tidak ada yang langsung menjawab.

Ace menatap lantai.

Kevin menatap langit-langit.

Rowan memperhatikan salah satu pilar.

Elarion memandang ke arah pintu.

Elyon menahan ekspresi geli.

Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu ke mana harus mengarahkan pandangan mereka.

Akhirnya Ace berbisik kepada Kevin.

"Kita seharusnya mengetuk."

Kevin menjawab tanpa menoleh.

"Pintunya dibuka."

"Aku tahu."

"Jadi?"

"Aku tetap merasa kita seharusnya mengetuk."

Raizen mendengar percakapan itu.

Namun ia memilih mengabaikannya.

"Kalian telah melewati pegunungan."

Elarion akhirnya menatapnya.

"Benar."

"Dan kalian menghancurkan cukup banyak pertahanan."

"Benar."

"Termasuk beberapa jaringan rune yang telah bertahan selama ribuan tahun."

Elarion terdiam sesaat.

"...Untuk itu aku minta maaf."

Ace menoleh.

"Serius?"

Elarion meliriknya.

"Apa?"

"Kau benar-benar minta maaf?"

"Ya."

Ace mengangguk.

"Bagus. Setidaknya ada satu orang beradab di kelompok ini."

Kevin menyikut Ace.

"Diam."

Raizen menatap mereka dengan ekspresi datar.

Anehnya, ia tidak terlihat marah.

Justru terlalu tenang.

"Kalian telah datang sejauh ini."

Tatapannya beralih kepada Darrien.

"Jadi katakan."

Darrien mengangkat wajah.

"Apa yang kau inginkan?"

Darrien tidak menjawab dengan segera.

Matanya kembali kepada Fiona.

"Aku datang untuk Fiona."

Fiona terdiam.

Raizen langsung menjawab.

"Dia bukan milikmu."

Darrien menatapnya.

"Aku tidak mengatakan dia milikku."

"Namun kau datang untuk membawanya pergi."

"Ya."

Raizen tertawa kecil.

"Bukankah itu sama saja?"

Darrien menggeleng.

"Tidak."

Ia menarik napas.

"Aku datang karena aku mencintainya."

Keheningan kembali memenuhi ruangan.

Fiona menatap Darrien.

Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat dadanya terasa aneh.

Namun ia tidak tahu mengapa.

Raizen berdiri lebih tegak.

"Aku juga mencintainya."

"Aku tahu."

Jawaban Darrien begitu tenang hingga Raizen sedikit menyipitkan mata.

Darrien melanjutkan.

"Itulah alasan aku tidak datang untuk menghancurkan semuanya."

Tatapannya turun kepada tangan Raizen yang masih memegang Fiona.

"Aku hanya ingin membawanya pulang."

Raizen terdiam.

"Pulang?"

"Ya."

Darrien menatap Fiona.

"Ke tempat yang seharusnya menjadi rumahnya."

Raizen tersenyum tipis.

"Dia sudah berada di rumahnya."

Darrien tidak membalas.

Ia hanya menatap Fiona.

Dan Fiona...

tanpa sadar menggenggam pakaian Raizen sedikit lebih erat.

***

Raizen menyadari gerakan kecil itu.

Ia menundukkan kepala.

Tatapannya melunak ketika melihat Fiona.

"Fiona."

"Hm?"

"Jangan keluar dari penghalangku."

Fiona mengangguk.

Raizen mengangkat tangan.

Jemarinya menyentuh pipi Fiona.

Ia mengusapnya dengan lembut.

"Jangan pedulikan apa pun yang terjadi di luar."

Fiona menatapnya.

"Kau akan baik-baik saja?"

Raizen diam sejenak.

Kemudian tersenyum.

"Aku akan kembali."

Ia mencium kening Fiona dengan lembut.

Setelah itu ia mundur.

Lingkaran sihir hitam-merah muncul di bawah kaki Fiona.

Sebuah penghalang transparan perlahan terbentuk di sekelilingnya.

Fiona menyentuh permukaan penghalang tersebut.

"Raizen..."

"Hm?"

"Jangan terluka."

Raizen menatapnya.

Ada kelembutan kecil di matanya.

"Aku tidak akan."

Ia kemudian berbalik.

Begitu wajahnya menghadap Darrien—

kelembutan itu hilang.

Yang tersisa hanyalah raja vampire kuno.

Fiona berdiri diam di balik penghalang.

Bibirnya bergerak pelan.

"Stay safe..."

Raizen mendengarnya.

Ia berhenti sesaat.

Kemudian melangkah maju.

***

Abu hitam tiba-tiba mulai berputar di sekitar main hall.

Ace langsung mengambil posisi.

"Ah."

Kevin mengangkat senjatanya.

"Sekarang?"

Elarion mengangkat tangan.

"Sepertinya begitu."

Dari dalam abu—

satu sosok muncul.

Kemudian dua.

Lima.

Sepuluh.

Puluhan vampire guard perlahan terbentuk di seluruh ruangan.

Mata mereka menyala merah.

Senjata terangkat.

Namun tidak satu pun dari mereka mengarahkan senjata kepada Fiona.

Mereka justru membentuk lingkaran pertahanan di sekitar area pertarungan.

Darrien memperhatikan mereka.

Kemudian melirik Fiona.

Ia memahami.

Para vampire itu tidak hanya menjaga Raizen.

Mereka juga menjaga Fiona.

Hal itu membuat sesuatu di dadanya terasa berat.

Namun ia menyingkirkannya.

Tidak sekarang.

Mufasa melangkah ke depan.

Tatapannya langsung tertuju kepada Kevin.

Kevin mengangkat alis.

"...Kau lagi?"

Mufasa tersenyum.

"Aku masih memiliki urusan denganmu."

Ace langsung mundur.

"Oh, tidak."

Kevin memutar bahunya.

"Baiklah."

Mufasa mengangkat tangannya.

"Aku belum puas dengan pertarungan terakhir kita."

Kevin tersenyum.

"Aku juga."

Ace menatap mereka.

"Kalian benar-benar menyimpan dendam?"

Mufasa dan Kevin menjawab bersamaan.

"Ini bukan dendam."

Ace berkedip.

"Kalau begitu apa?"

Kevin menatap Mufasa.

"Pertandingan yang belum selesai."

Mufasa mengangguk.

"Benar."

Ace menghela napas.

"Ya. Terserah."

***

Raizen berdiri beberapa meter dari Darrien.

Keduanya saling menatap.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang menyerang.

Raizen memiringkan kepalanya sedikit.

"Aku penasaran."

Darrien diam.

"Bagaimana kau bisa bertahan sejauh ini?"

Darrien menjawab.

"Aku punya alasan."

"Fiona?"

"Ya."

Raizen tersenyum.

"Alasan yang sederhana."

Darrien menatapnya tajam.

"Justru alasan sederhana itulah yang membuat seseorang mampu bertahan lebih lama daripada yang kau pikirkan."

Raizen tidak menjawab.

Ia hanya mengangkat tangannya.

Magicure gelap mulai berkumpul.

Darrien merasakan tekanan itu.

Namun ia tetap berdiri.

Raizen tiba-tiba menghilang.

Dalam satu gerakan—

serangan langsung menuju dada Darrien.

BOOM!

Darrien mengangkat tangannya.

Lapisan perlindungan muncul dari dalam tubuhnya.

Serangan Raizen menghantamnya.

Lantai retak.

Gelombang sihir menyebar ke seluruh ruangan.

Namun Darrien masih berdiri.

Raizen sedikit terkejut.

Matanya menyipit.

"Kau..."

Darrien mengusap darah tipis di sudut bibirnya.

"Aku masih di sini."

Raizen menarik tangannya.

Ia menatap Darrien beberapa detik.

Serangan tadi seharusnya cukup.

Ia memang berniat mengakhiri pertarungan dalam satu serangan.

Namun Darrien menahannya.

Tidak sempurna.

Tetapi cukup.

Raizen akhirnya memahami.

Ia telah meremehkan pria di hadapannya.

Darrien menarik napas panjang.

"Aku ingin mengakhiri ini dengan cepat."

Raizen menatapnya.

Darrien melanjutkan.

"Supaya aku bisa membawa Fiona dengan aman..."

Ia berhenti.

"...pulang ke rumah kami."

Keheningan.

Benar-benar sunyi.

Raizen tidak bergerak.

Darrien juga tidak.

Bahkan suara pertarungan Kevin dan Mufasa di sisi lain ruangan terasa seperti menghilang sesaat.

Raizen perlahan mengangkat wajahnya.

"Rumah..."

Senyum tipis muncul.

"Rumah kalian?"

Darrien tidak mundur.

"Ya."

Aura Raizen berubah.

Fiona yang berada di dalam penghalang langsung menoleh.

Darrien merasakan tekanan yang jauh lebih berat daripada sebelumnya.

Lantai di bawah kaki Raizen mulai retak.

Ace berhenti menyerang sejenak.

"Uh..."

Kevin melirik.

"Apa?"

Ace menunjuk Raizen.

"Dia marah."

Kevin melihat aura Raizen.

"...Aku tahu."

Mufasa yang sedang berhadapan dengan Kevin menghela napas.

"Dia salah memilih kata."

Kevin mengangkat alis.

"Menurutmu?"

Mufasa memandang Darrien.

"Sangat."

Raizen mengangkat satu tangan.

Magicure hitam memenuhi seluruh main hall.

Tatapannya tidak lagi tenang.

"Aku sudah memberimu kesempatan."

Darrien menurunkan tubuhnya sedikit.

Magicure miliknya mulai berputar.

"Aku tidak membutuhkan kesempatan."

Raizen tersenyum.

"Bagus."

Darrien menatapnya.

"Karena aku tidak akan mundur."

Raizen menghilang.

Darrien juga bergerak.

DUARRRR!

Benturan pertama mengguncang seluruh main hall.

Gelombang sihir menghantam dinding.

Namun penghalang di sekitar Fiona tetap berdiri sempurna.

Fiona menatap pertarungan itu dengan napas tertahan.

Tangannya menyentuh dadanya.

Jantungnya berdetak cepat.

Entah karena takut.

Entah karena sesuatu yang lain.

***

Jauh di dalam ruang mimpi yang tersegel—

dua tiny elf berdiri di depan kristal besar.

Mereka mendengar suara retakan.

*Krek.*

Tiny elf pertama membeku.

"Jangan..."

*Krek.*

Retakan kedua muncul.

Cahaya keemasan mulai keluar dari dalam kristal.

Tiny elf kedua berlari mendekat.

"Segelnya semakin lemah!"

"Kenapa sekarang?"

Tiny elf pertama menatap kristal dengan cemas.

Di dalam permukaan kristal—

sebuah gambaran perlahan muncul.

Sebuah danau.

Bunga-bunga.

Langit malam.

Kemudian—

seorang pria.

Dan seorang wanita.

Berdiri berdua di bawah cahaya bulan.

Kenangan yang selama ini tertidur selama ribuan tahun...

mulai bergerak.

Tiny elf pertama menggenggam tangannya sendiri.

"Kita harus menahannya."

Tiny elf kedua menggeleng.

"Sudah terlambat."

*KRAK.*

Retakan panjang membelah kristal.

Cahaya keemasan meledak dari dalam.

Dan pada saat yang sama—

di dunia nyata—

Darrien dan Raizen kembali berhadapan.

Mata keduanya penuh tekad.

Tidak ada lagi kata-kata.

Tidak ada lagi keraguan.

Hanya satu hal yang tersisa—

siapa yang akan jatuh lebih dulu.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience