434. Pengetahuan Yang Terkubur

Romance Completed 594

BAB 434 — PENGETAHUAN YANG TERKUBUR

Lunaris.

Perpustakaan kerajaan telah menjadi tempat tinggal kedua Elyon selama beberapa minggu terakhir.

Atau setidaknya...

begitulah perasaan Sylvester.

"Yang Mulia..."

Tidak ada jawaban.

Sylvester berdiri di antara rak-rak tinggi sambil membawa tiga buku tebal di kedua tangannya.

"Elyon."

Tetap tidak ada jawaban.

Ia menarik napas panjang.

"Elyon."

"Di sini."

Suara itu terdengar dari ujung rak.

Sylvester berjalan ke sana.

Ia menemukan Elyon duduk di lantai, dikelilingi tumpukan buku dan gulungan kuno.

Beberapa buku bahkan telah terbuka di atas buku lainnya.

Sylvester menatap pemandangan itu.

"Kau sudah di sini sejak pagi."

Elyon tidak mengangkat wajah.

"Mm."

"Dan kau belum makan."

"Mm."

"Kau juga belum tidur cukup."

"Mm."

Sylvester menutup mata.

"Jawabanmu hanya 'mm'?"

Elyon membalik halaman.

"Karena aku sedang membaca."

Sylvester menghela napas.

"Sudah kuduga."

Ia meletakkan buku-buku yang dibawanya.

"Apa yang sebenarnya kau cari?"

Elyon akhirnya berhenti membaca.

Tatapannya turun pada sebuah catatan tua di tangannya.

"Vampire."

Sylvester mengerutkan kening.

"Lagi?"

"Dan sihir yang terhubung dengan mereka."

Elyon membuka sebuah gulungan.

"Terutama sihir yang berasal dari sekitar lima ribu lima ratus tahun lalu."

Sylvester mendekat.

"Kenapa periode itu?"

"Karena terlalu banyak catatan yang mulai menghilang pada periode tersebut."

Elyon menunjuk beberapa simbol.

"Dan beberapa catatan yang tersisa menyebutkan bentuk sihir yang tidak lagi digunakan pada zaman sekarang."

"Teleportasi?"

"Termasuk itu."

Elyon membalik halaman.

"Tapi bukan hanya teleportasi."

Tatapannya menjadi lebih serius.

"Ada sesuatu yang lebih tua."

Sylvester diam.

Elyon menyandarkan tubuhnya ke rak buku.

Ia masih mengingat pertemuan mereka dengan vampire itu.

Bukan wajahnya.

Bukan pakaiannya.

Melainkan tatapannya.

Hanya satu tatapan.

Dan tubuh mereka langsung dipaksa berlutut.

Elyon mengernyit.

Ia tidak menyukai kenangan itu.

Sama sekali tidak.

"Yang paling menggangguku..."

Elyon berkata pelan.

"...adalah kekuatannya."

Sylvester tahu maksudnya.

"Kau masih memikirkannya?"

"Bagaimana aku tidak memikirkannya?"

Elyon menatap telapak tangannya sendiri.

"Kita bahkan tidak sempat melawan."

Ia mengingat kembali tekanan yang memenuhi tubuhnya.

Tidak ada mantra.

Tidak ada serangan.

Tidak ada gerakan.

Hanya tatapan.

Dan tubuhnya menyerah.

"Itu bukan sekadar tekanan mana."

Elyon menggeleng.

"Ada sesuatu yang berbeda."

Sylvester menatapnya.

"Jadi kau ingin mengetahui dasar kekuatan vampire?"

"Ya."

Elyon menutup buku.

"Kalau kita ingin memahami bagaimana mereka bisa melakukan itu..."

Ia menatap tumpukan buku di sekelilingnya.

"...kita harus tahu dari mana kekuatan mereka berasal."

***

Hari berikutnya.

Elyon tidak hanya mengandalkan perpustakaan kerajaan.

Ia menyeret Sylvester ke distrik perdagangan Lunaris.

Sylvester menatap toko tua di hadapan mereka.

"Kita sudah menghabiskan tiga jam di perpustakaan."

"Benar."

"Dan sekarang kita mencari toko buku?"

"Benar."

"Dan setelah ini?"

Elyon masuk ke dalam toko.

"Mungkin toko berikutnya."

Sylvester menghela napas.

"Tentu saja."

Di dalam toko, rak-rak penuh dengan buku langka.

Beberapa bahkan tidak memiliki judul.

Pemilik toko menatap Elyon dengan curiga ketika ia mulai membuka satu buku setelah buku lainnya.

"Yang ini?"

"Tidak."

"Yang ini?"

"Tidak."

"Ini berisi mantra kuno."

Elyon berhenti.

Ia mengambil buku itu.

Membukanya.

Membaca beberapa halaman.

Kemudian menggeleng.

"Terlalu baru."

Pemilik toko berkedip.

"Terlalu baru?"

"Buku ini hanya berusia sekitar seribu tahun."

Sylvester menatapnya.

"Dan kau menyebutnya baru?"

Elyon menoleh.

"Untuk yang sedang kucari, iya."

Sylvester mengusap wajah.

"Kenapa aku ikut?"

Elyon tersenyum.

"Karena aku membutuhkan seseorang untuk membawakan buku."

Sylvester terdiam.

"...Aku membencimu."

Elyon tertawa kecil.

Namun beberapa saat kemudian...

tangannya berhenti pada sebuah buku tua dengan sampul hitam.

Ia menariknya perlahan.

Debu jatuh dari permukaannya.

Judulnya hampir tidak terbaca.

Elyon membuka halaman pertama.

Matanya langsung berubah.

"Ini..."

Sylvester mendekat.

"Apa?"

Elyon tidak menjawab.

Ia terus membaca.

Beberapa halaman.

Kemudian beberapa halaman lagi.

Ada catatan tentang vampire kuno.

Tentang kekuatan tubuh mereka.

Tentang kemampuan memanipulasi ruang.

Tentang tekanan spiritual.

Namun semuanya terpotong.

Tidak lengkap.

Elyon mengerutkan kening.

"Masih belum cukup."

Sylvester menunjuk salah satu halaman.

"Setidaknya kita punya sesuatu."

Elyon menggeleng.

"Aku tidak mencari sesuatu."

Ia menutup buku itu.

"Aku mencari dasar."

Tatapannya tajam.

"Dasar yang membuat satu tatapan bisa memaksa seseorang berlutut."

***

Shadowcresent.

Sementara itu...

waktu terus berjalan.

Hari berganti.

Minggu berganti.

Bulan pun mulai berganti.

Dan tanpa Fiona sadari...

hubungannya dengan Raizen telah berubah perlahan.

Tidak ada satu kejadian besar yang mengubah semuanya.

Hanya banyak hal kecil.

Terlalu banyak untuk dihitung.

Fiona kini tidak lagi merasa aneh ketika Raizen duduk di sampingnya.

Ia tidak lagi ragu ketika tangannya digenggam.

Kadang ia bahkan mencarinya lebih dulu.

Dan Raizen...

menyadari semuanya.

Sore itu, mereka berada di taman mawar hitam.

Matahari mulai turun di balik pegunungan.

Langit berubah menjadi perpaduan jingga dan merah.

Fiona duduk di bangku batu.

Raizen berada di belakangnya.

Tangannya melingkar santai di sekitar tubuh Fiona.

Fiona bersandar padanya.

Tidak ada percakapan.

Hanya suara angin.

Dan aroma bunga.

Fiona memejamkan mata.

"Tenang sekali."

Raizen menunduk sedikit.

"Mm."

Fiona membuka mata.

"Kau juga suka tempat ini?"

"Ya."

Fiona tersenyum.

"Karena aku suka?"

Raizen terdiam.

Kemudian menjawab dengan jujur.

"Sebagian."

Fiona tertawa kecil.

"Sebagian?"

"Bagian lainnya karena kau selalu berada di sini."

Fiona menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Senyum kecil muncul di wajah Fiona.

"Kau semakin pandai bicara."

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."

Fiona kembali bersandar.

Beberapa saat kemudian, kepalanya berada tepat di dada Raizen.

Raizen menurunkan dagunya ke atas kepala Fiona.

Tangannya bergerak perlahan, merapikan rambut perak yang tertiup angin.

Tidak ada alasan khusus.

Ia hanya ingin melakukannya.

Hari-hari seperti ini mulai menjadi sesuatu yang biasa baginya.

Dan justru karena itu...

Raizen mulai menyadari sesuatu yang tidak ingin ia pikirkan.

Kebahagiaan ini terasa terlalu nyaman.

Terlalu tenang.

Terlalu mudah untuk membuat seseorang lupa bahwa dunia di luar taman masih bergerak.

Tangannya sedikit mengerat di pinggang Fiona.

Fiona mendongak.

"Ada apa?"

"Tidak ada."

"Kau memelukku lebih erat."

Raizen terdiam.

Kemudian menatap mata Fiona.

"Aku hanya ingin."

Fiona memperhatikannya beberapa detik.

Kemudian tersenyum.

"Kalau begitu..."

Ia kembali menyandarkan tubuhnya.

"...peluk saja."

Raizen tidak menjawab.

Namun pelukannya menjadi sedikit lebih erat.

Matahari semakin rendah.

Bayangan mereka memanjang di antara bunga-bunga.

Untuk beberapa saat...

Raizen tidak memikirkan Veyth.

Tidak memikirkan perbatasan.

Tidak memikirkan pertahanan.

Tidak memikirkan masa lalu.

Ia hanya menikmati kehangatan seseorang di dalam pelukannya.

Dan tanpa ia sadari...

keinginan untuk mempertahankan momen seperti ini semakin kuat.

Bukan karena ia baru menyadari perasaannya.

Ia sudah tahu.

Tetapi setelah berbulan-bulan...

perasaan itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Sebuah kebiasaan.

Sebuah kebutuhan.

Sebuah kehidupan yang mulai terasa normal.

Raizen memejamkan mata sejenak.

Ia berharap...

hari seperti ini tidak berakhir terlalu cepat.

Namun jauh di luar taman itu...

dunia terus bergerak.

Veyth terus mencari.

Lunaris terus menggali sejarah.

Dan Shadowcresent terus mempersiapkan diri.

Sementara matahari perlahan menghilang di balik pegunungan.

Meninggalkan dua sosok yang masih duduk bersama di taman mawar...

seolah-olah dunia di luar sana tidak pernah ada.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience